{"id":121058,"date":"2026-10-19T05:18:55","date_gmt":"2026-10-18T22:18:55","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/asesmen-menjadi-bukti-pembelajaran\/"},"modified":"2026-10-19T05:18:55","modified_gmt":"2026-10-18T22:18:55","slug":"asesmen-menjadi-bukti-pembelajaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/asesmen-menjadi-bukti-pembelajaran\/","title":{"rendered":"Asesmen Menjadi Bukti Pembelajaran"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/19\/1792348748_2739fbb3bf17f0d70e9c.jpeg\" alt=\"Asesmen Menjadi Bukti Pembelajaran\"\/><figcaption>(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan\" title=\"Pendidikan\">PENDIDIKAN<\/a> abad ke-21 menuntut keterampilan berpikir\u2014kritis, analitis, kreatif, dan kemampuan mentransfer pengetahuan ke situasi baru\u2014agar siswa mampu beradaptasi dalam lingkungan yang dinamis, menghadapi tantangan nonlinier, dan memecahkan masalah yang belum pernah ditemui. Karena itu, pendidikan tidak cukup sekadar mentransmisikan pengetahuan; ia harus membekali siswa dengan alat untuk mengarungi kehidupan yang semakin kompleks dan tidak pasti (Schleicher, 2019).<\/p>\n<p>Tuntutan itu membuka peluang bagi para pegiat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/asesmen\" title=\"asesmen\">asesmen<\/a> untuk melakukan reorientasi: dari asesmen yang berfokus pada perolehan angka dan peringkat <em>(norm-referenced measurement<\/em>) menuju asesmen yang mengungkap penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi secara substantif (criterion-referenced <em>measurement<\/em>)\u2014sebuah model yang tidak sekadar menghakimi hasil, tetapi juga mendukung murid menapaki karier pendidikan dan vokasional mereka ke depan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/782633\/selaraskan-kurikulum-pengajaran-dan-penilaian-demi-pm\" title=\"Selaraskan Kurikulum, Pengajaran, dan Penilaian demi PM\" target=\"_blank\">Selaraskan Kurikulum, Pengajaran, dan Penilaian demi PM<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>KOMPETENSI GLOBAL<\/strong><\/p>\n<p>Sistem pendidikan nasional sudah mengisyaratkan pentingnya penguasaan kompetensi global atau keterampilan abad ke-21, sebagaimana dijabarkan dalam kurikulum nasional melalui sejumlah kompetensi yang harus dikuasai murid setelah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. Namun, pesan positif kurikulum itu belum ditemukan keselarasannya dengan praktik pembelajaran dan penilaian, baik pada ujian berskala nasional maupun penilaian pada tingkat kelas\/sekolah. Akibatnya, hasil penilaian belum dapat menjelaskan dengan baik kompetensi dan pengetahuan\/keterampilan yang sudah dikuasai murid selama mengikuti pembelajaran di sekolah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/767772\/bias-implisit-dan-pendisiplinan-murid\" title=\"Bias Implisit dan Pendisiplinan Murid\" target=\"_blank\">Bias Implisit dan Pendisiplinan Murid<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sejak beberapa tahun terakhir, penyelenggaraan ujian berskala nasional memang sudah mengupayakan perbaikan kualitas soal melalui asesmen nasional (AN), kemudian disempurnakan lagi melalui tes kompetensi akademik (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tka\" title=\"TKA\">TKA<\/a>) sesuai dengan tuntutan kurikulum dan keterampilan abad ke-21. Beberapa soal yang digunakan pada TKA dirancang untuk menangkap kemampuan murid dalam pemecahan masalah dan berpikir kompleks. Namun, sayangnya, interpretasi skor TKA masih mengacu pada norm-referenced <em>measurement<\/em>, yaitu membandingkan peringkat sekolah, sehingga belum sepenuhnya berhasil menjelaskan sejauh mana murid sudah menguasai kompetensi dan pengetahuan\/keterampilan yang dimandatkan kurikulum.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PENILAIAN SEKOLAH<\/strong><\/p>\n<p>TKA, sebagaimana dikemukakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), ditujukan antara lain untuk memvalidasi nilai\/skor yang diproduksi guru\/sekolah. Desain tes itu diklaim sebagai instrumen yang dapat mengukur kemampuan\/kompetensi yang setara dengan kemampuan siswa <em>(testing to the right level<\/em>). Namun, sayangnya, pengertian <em>testing to the right level<\/em>, yang semestinya terkait erat dengan model pengukuran kemampuan yang sesuai dengan kompetensi murid, belum sepenuhnya dipahami guru\/sekolah. Akibatnya, proses pembelajaran yang terjadi di sekolah masih belum banyak berubah: masih berfokus pada muatan\/konten kurikulum, belum pada kompetensi\/kriteria.<\/p>\n<p>Sejalan dengan itu, ujian yang diselenggarakan sekolah<em>\u00a0(formative<\/em><em>\u00a0<\/em>dan<em>\u00a0summative assessment<\/em>) juga belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, baik dari kualitas instrumen yang digunakan, ragam penilaian, maupun pemanfaatan hasilnya, yang umumnya masih sebatas untuk kepentingan nilai\/angka rapor dan pemeringkatan. Padahal, data hasil penilaian formatif seharusnya digunakan sebagai bahan refleksi dan membantu memperbaiki strategi siswa dalam belajar serta guru dalam memberikan bimbingan pembelajaran. Namun, data tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>CARA PANDANG BARU\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Dalam pendidikan kita masih ditemukan &#8216;pemujaan&#8217; yang berlebihan terhadap nilai\/angka sehingga sering terjadi anomali hasil pendidikan. Murid bisa berhasil memperoleh nilai\/skor tinggi, katakanlah angka 90, tetapi yang bersangkutan mengalami kesulitan menjelaskan suatu konsep yang sudah dipelajari dengan baik. Desain pembelajaran dan asesmen yang dikembangkan sekolah\/guru pada umumnya hanya berfokus pada jumlah muatan\/konten kurikulum, belum pada kompetensi atau kriteria yang seharusnya dikuasai murid sesuai dengan tujuan kurikulum.<\/p>\n<p>Guru pada umumnya hanya disibukkan dengan bagaimana menuntaskan kurikulum <em>(curriculum coverage<\/em>) sesuai dengan kalender akademik ketimbang kedalaman pembelajaran. Indikator keberhasilan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dinas\/pengawas masih bersifat sangat administratif, yaitu ketuntasan kurikulum. Soal-soal instrumen asesmen yang dikembangkan banyak dan seragam, tetapi hanya mampu mengukur kemampuan hafalan murid (rote learning). Sementara itu, soal yang dapat menangkap kemampuan yang menstimulasi rasa ingin tahu dan berpikir\u2014pemahaman konsep, menjelaskan dengan bahasa murid sendiri, menerapkan konsep yang sudah dipelajari pada situasi baru\/berbeda, menganalisis dan berpikir kritis, serta bagaimana meningkatkan kualitas suatu temuan\u2014sangat minim dikembangkan\/digunakan. Padahal, jawaban atas soal-soal semacam itulah yang akan menjadi bukti bahwa pembelajaran sudah terjadi.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PENGALAMAN SSB<\/strong><\/p>\n<p>Sekolah Sukma Bangsa (SSB) memilih jalan berbeda dalam mempraktikkan asesmen harian (formatif dan sumatif) pada tingkat kelas\/sekolah. Pandangan yang berorientasi pada angka tanpa makna yang diadopsi selama ini merupakan salah satu alasan mengapa pendekatan asesmen harian SSB harus berbeda dari asesmen tradisional. Pendekatan asesmen yang dipilih SSB bukan untuk membandingkan satu murid dengan murid lainnya; sebaliknya, SSB menilai siswa berdasarkan kriteria\/kompetensi yang sudah ditetapkan dengan rumusan yang sangat jelas dan terukur. Setiap murid akan mengetahui dengan terang dan jelas seperti apa indikator keberhasilan sebelum mereka memulai pembelajaran.<\/p>\n<p>Fokusnya bukan hanya pada nilai akhir, melainkan juga pada kualitas pemikiran, kemampuan komunikasi, penerapan, dan pemahaman yang ditunjukkan sepanjang proses pembelajaran. Pendekatan itu membantu murid memahami ekspektasi pembelajaran dengan jelas, berfokus pada peningkatan keterampilan tertentu, belajar dari umpan balik yang bermakna, merefleksikan kemajuan mereka, dan menetapkan tujuan untuk berkembang. Sebagai pendidik, asesmen berbasis kriteria\/kompetensi akan mendorong kita untuk mengubah percakapan dari &#8216;Berapa nilai yang kamu dapatkan?&#8217; menjadi &#8216;Apa yang sudah kamu pelajari, dan bagaimana kamu dapat lebih meningkatkan?&#8217;. Ketika asesmen menjadi alat untuk belajar, bukan sekadar mengukur hasil pembelajaran, murid sedang mengembangkan kepercayaan diri, kemandirian, dan keinginan yang tulus untuk terus berkembang.<\/p>\n<p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa reorientasi asesmen dari sekadar mengejar angka menuju asesmen berbasis kriteria\/kompetensi merupakan kebutuhan mendesak. Asesmen semestinya menjadi bukti bahwa pembelajaran benar-benar terjadi, bukan sekadar alat pemeringkatan. Pengalaman SSB menunjukkan pendekatan itu dapat dijalankan pada tingkat kelas\/sekolah meskipun memerlukan pemahaman guru yang memadai tentang kriteria, komitmen untuk memanfaatkan hasil asesmen sebagai umpan balik, serta dukungan kebijakan sekolah. Ke depan, diperlukan upaya sistematis untuk menyelaraskan kebijakan asesmen nasional, praktik pembelajaran di kelas, dan pengembangan profesional guru agar asesmen benar-benar berfungsi sebagai alat belajar. <em>Wallaahu a&#8217;lam<\/em><\/p>\n<p>.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/945932\/asesmen-menjadi-bukti-pembelajaran\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Dok. Pribadi) PENDIDIKAN abad ke-21 menuntut keterampilan berpikir\u2014kritis, analitis, kreatif, dan kemampuan mentransfer pengetahuan ke situasi baru\u2014agar siswa mampu beradaptasi dalam lingkungan yang dinamis, menghadapi tantangan nonlinier, dan memecahkan masalah yang belum pernah ditemui. Karena itu, pendidikan tidak cukup sekadar mentransmisikan pengetahuan; ia harus membekali siswa dengan alat untuk mengarungi kehidupan yang semakin kompleks dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":121059,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-121058","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121058","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121058"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121058\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121059"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121058"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121058"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121058"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}