{"id":120767,"date":"2026-10-18T12:48:52","date_gmt":"2026-10-18T05:48:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/18\/pertama-kali-dalam-sejarah-ilmuwan-temukan-bintang-berwarna-hijau\/"},"modified":"2026-10-18T12:48:52","modified_gmt":"2026-10-18T05:48:52","slug":"pertama-kali-dalam-sejarah-ilmuwan-temukan-bintang-berwarna-hijau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/18\/pertama-kali-dalam-sejarah-ilmuwan-temukan-bintang-berwarna-hijau\/","title":{"rendered":"Pertama Kali dalam Sejarah, Ilmuwan Temukan Bintang Berwarna Hijau"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/18\/1792288962_6edbb92ecc703c152bf9.jpg\" alt=\"Pertama Kali dalam Sejarah, Ilmuwan Temukan Bintang Berwarna Hijau\"\/><figcaption>Representasi bintang hijau(Mark A. Garlick\/Universitas Warwick)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PARA astronom yang menganalisis bintang katai putih untuk pertama kalinya menemukan sebuah bintang yang akan terlihat berwarna hijau oleh mata manusia. Penemuan ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal RAS Techniques and Instruments (RASTI).<\/p>\n<p>Penulis utama studi tersebut, Mark Hollands, seorang astrofisikawan dari University of Warwick, Inggris, menjelaskan pada hari Kamis bahwa pada umumnya warna bintang sangat bergantung pada suhunya dan terbatas pada beberapa rona saja. Namun, katai putih, sisa-sisa padat dari bintang mirip Matahari yang telah mati, dapat memancarkan rentang warna yang sangat luar biasa.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cWarna yang dimiliki bintang normal pada umumnya hanya oranye, putih, atau biru,\u201d ujar Hollands kepada CNN.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/944467\/siap-siap-gerhana-matahari-total-2027-bakal-jadi-yang-terlama-tapi-bukan-untuk-indonesia\" title=\"Siap-Siap! Gerhana Matahari Total 2027 bakal Jadi yang Terlama, tapi bukan untuk Indonesia\" target=\"_blank\">Siap-Siap! Gerhana Matahari Total 2027 bakal Jadi yang Terlama, tapi bukan untuk Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cApa yang kami temukan adalah, bagi sebagian besar katai putih, hal itu juga berlaku sama. Namun, ada beberapa kasus khusus di mana fisika pada lapisan luar bintang-bintang ini cukup aneh, sehingga menyebabkan penyimpangan yang cukup besar pada spektrumnya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Penyimpangan warna ini terjadi akibat interaksi antara helium di atmosfer bintang dengan jejak elemen lain. Kandungan elemen ini bervariasi pada setiap katai putih, tergantung pada material yang berinteraksi dengan bintang tersebut sepanjang masa hidupnya.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, unsur besi, magnesium, dan natrium yang biasa ditemukan pada batuan dapat terdeteksi di permukaan bintang. Hal ini menjadi bukti potensial keberadaan bekas sistem planet di sekitarnya, atau berasal dari &#8220;sesuatu seperti asteroid yang melintas terlalu dekat dengan katai putih,&#8221; terang Hollands.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/944100\/kekecewaan-komet-halley-1986-yang-mengubah-dunia-astronomi\" title=\"Kekecewaan Komet Halley 1986 yang Mengubah Dunia Astronomi\" target=\"_blank\">Kekecewaan Komet Halley 1986 yang Mengubah Dunia Astronomi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cBintang itu hancur menjadi debu, dan kemudian bagian-bagian debu serta puing-puing berbatu itu jatuh ke katai putih,\u201d katanya. \u201cMaterial tersebut kemudian bercampur ke dalam lapisan luar, dan Anda sebenarnya dapat menggunakannya untuk mengukur dari apa bahan berbatu itu dibuat.\u201d<\/p>\n<p>Hollands menambahkan, \u201cJadi kita sebenarnya dapat menggunakan katai putih sebagai semacam alat diagnostik untuk mengukur kimia dari material planet.\u201d<\/p>\n<p>Adam Burgasser, seorang profesor <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronomi\" title=\"Astronomi\">astronomi<\/a> dan astrofisika di University of California San Diego, mengibaratkan fenomena ini seperti penanganan tempat kejadian perkara.<\/p>\n<p>\u201cKatai putih ini menghancurkan planet-planet, dan kita mampu melihat apa yang sebenarnya ada di dalam planet tersebut, proporsi dari berbagai elemen berbeda, dan itu memberi kita petunjuk tentang bagaimana planet-planet ini terbentuk,\u201d kata Burgasser. \u201cIni adalah tempat kejadian perkara, dan kita seperti menyusun bukti-bukti yang tersisa untuk merangkai kisah tentang bagaimana planet itu ada dan terbentuk jauh di masa lalu.\u201d<\/p>\n<p>Dalam studi ini, Hollands mengamati 151 katai putih yang berjarak dalam rentang 20 parsek atau sekitar 65 tahun cahaya dari Bumi. Khusus untuk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bintang-hijau\" title=\"bintang hijau\">bintang hijau<\/a> tersebut, Hollands menyebutkan bahwa elemen utama yang terkandung di dalamnya adalah kalsium, natrium, dan litium. Selain itu, ditemukan pula bintang unik lainnya yang berwarna merah muda jingga (salmon pink) akibat tingginya kerapatan molekul karbon.<\/p>\n<p>Meskipun katai putih tidak dapat dilihat langsung dari Bumi, Hollands berhasil mengkalkulasi warnanya menggunakan data spektrum bintang, yakni &#8220;sidik jari&#8221; yang dihasilkan saat cahaya bintang terpecah berdasarkan panjang gelombangnya.<\/p>\n<p>Agn\u00e8s Kim, astrofisikawan dan profesor fisika di Penn State Scranton yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai pendekatan studi tersebut sangat menarik.<\/p>\n<p>\u201cMelakukan studi yang berangkat dari spektrum hingga apa yang akan dilihat oleh mata manusia adalah titik temu yang keren antara fisika dan biologi bagi saya,\u201d tulis Kim melalui email. \u201cSaya suka bahwa beberapa bintang akan terlihat hijau bagi kita jika jaraknya cukup dekat untuk dilihat, dan bahkan lebih menyenangkan lagi ada yang terlihat merah muda.\u201d<\/p>\n<p>Ke depannya, Hollands berencana untuk terus menganalisis lebih banyak spektrum bintang katai putih seiring kemajuan teknik ilmiah yang memungkinkan para peneliti mengamati bintang yang lebih jauh.<\/p>\n<p>\u201cKami mengetahui ada katai putih yang belum memiliki data spektrum,\u201d kata Hollands. \u201cNamun hal itu akan segera berubah karena ada cukup banyak survei spektroskopi yang akan mulai menyajikan data. Kita akan mendapatkan peningkatan sepuluh kali lipat dalam jumlah katai putih yang memiliki spektrum. Jadi, jika beruntung, kita mungkin akan berkembang dari satu atau dua katai putih hijau menjadi 10 atau 20.\u201d (CNN\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/945780\/pertama-kali-dalam-sejarah-ilmuwan-temukan-bintang-berwarna-hijau\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Representasi bintang hijau(Mark A. Garlick\/Universitas Warwick) PARA astronom yang menganalisis bintang katai putih untuk pertama kalinya menemukan sebuah bintang yang akan terlihat berwarna hijau oleh mata manusia. Penemuan ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal RAS Techniques and Instruments (RASTI). Penulis utama studi tersebut, Mark Hollands, seorang astrofisikawan dari University of Warwick, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":120768,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-120767","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120767"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120767\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/120768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}