{"id":119719,"date":"2026-10-16T11:31:23","date_gmt":"2026-10-16T04:31:23","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/16\/benarkah-makan-telur-bikin-bisulan\/"},"modified":"2026-10-16T11:31:23","modified_gmt":"2026-10-16T04:31:23","slug":"benarkah-makan-telur-bikin-bisulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/16\/benarkah-makan-telur-bikin-bisulan\/","title":{"rendered":"Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/16\/1792124973_7b6595c694a637feee74.jpg\" alt=\"Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? \"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>ANGGAPAN bahwa mengonsumsi terlalu banyak <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/telur\" title=\"telur\">telur<\/a> dapat menyebabkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bisul\" title=\"bisul\">bisul<\/a> masih melekat kuat di tengah masyarakat, terutama bagi orangtua yang memiliki anak kecil. Namun, secara medis, klaim tersebut ternyata tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.<\/p>\n<p>Ahli Gizi dari IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Gizi., menegaskan bahwa telur bukanlah penyebab langsung munculnya bisul. Ia menjelaskan bahwa biang keladi utama dari kondisi ini adalah infeksi bakteri <i>Staphylococcus aureus<\/i>.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Bakteri tersebut sebenarnya merupakan flora normal yang terdapat pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kulit\" title=\"kulit\">kulit<\/a>. Flora normal ini bisa menyebabkan infeksi apabila sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah dan kebersihan diri (hygiene) yang kurang,&#8221; ujar Karina.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/943353\/manfaat-makan-telur-untuk-lansia-di-atas-60-tahun\" title=\"Manfaat Makan Telur untuk Lansia di Atas 60 Tahun\" target=\"_blank\">Manfaat Makan Telur untuk Lansia di Atas 60 Tahun<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan?<\/h3>\n<p>Fenomena bisul memang lebih sering ditemukan pada anak-anak. Menurut Karina, hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang belum berkembang secara sempurna. Selain faktor internal, aktivitas fisik anak yang tinggi juga menjadi pemicu eksternal.<\/p>\n<p>Gerakan aktif anak meningkatkan risiko terjadinya gesekan kulit atau luka terbuka akibat garukan. Kondisi luka sekecil apa pun dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri <i>Staphylococcus aureus<\/i> ke dalam lapisan kulit. Faktor risiko ini diperparah jika kebersihan diri tidak terjaga, seperti jarang mandi atau membiarkan kuku tetap panjang dan kotor.<\/p>\n<h3>Kaitan Alergi Telur dan Bisul<\/h3>\n<p>Meski telur bukan penyebab langsung, Karina memberikan catatan bagi individu yang memiliki alergi telur. Pada kelompok ini, konsumsi telur berlebihan dapat memicu reaksi kulit berupa ruam kemerahan, bentol, dan rasa gatal yang hebat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/934269\/bukan-telur-ini-penyebab-bisul-yang-perlu-diketahui\" title=\"Bukan Telur, ini Penyebab Bisul yang Perlu Diketahui\" target=\"_blank\">Bukan Telur, ini Penyebab Bisul yang Perlu Diketahui<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Jika gatal tersebut digaruk, akan timbul luka terbuka yang mempermudah masuknya bakteri <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penyebab-bisul\" title=\"penyebab bisul\">penyebab bisul<\/a>,&#8221; jelasnya. Dengan kata lain, bisul muncul sebagai infeksi sekunder akibat luka garukan, bukan karena kandungan telur itu sendiri.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #2c3e50; margin: 20px 0;\"><strong>Perbedaan Gejala:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Alergi Telur:<\/strong> Bentol, ruam kemerahan, dan rasa gatal.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Bisul:<\/strong> Benjolan berisi nanah yang disertai rasa nyeri.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<h3>Telur Tetap Menjadi Sumber <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/protein\" title=\"protein\">Protein<\/a> Penting<\/h3>\n<p>Bagi masyarakat yang tidak memiliki riwayat alergi, tidak ada alasan untuk menghindari telur. Telur tetap menjadi sumber protein hewani yang terjangkau dan berkualitas tinggi untuk mendukung pola makan seimbang.<\/p>\n<p>Berikut adalah rincian kandungan nutrisi dalam satu butir telur berdasarkan penjelasan Dr. Karina:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #eeeeee;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Komponen Nutrisi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Jumlah per Butir<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Protein<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">6 \u2013 7 gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Total Lemak<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">5 \u2013 5,3 gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Lemak Jenuh<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">1,5 \u2013 1,6 gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Sebagai panduan, kebutuhan protein orang dewasa berkisar antara 0,8 hingga 1 gram per kilogram berat badan. Dr. Karina menyarankan agar pemenuhan protein tetap dilakukan secara beragam, baik dari sumber hewani maupun nabati.<\/p>\n<p>Terkait kandungan lemak, batas maksimal konsumsi lemak jenuh adalah 7 persen dari total energi harian (sekitar 15 gram untuk kebutuhan 2.000 kkal). Dengan demikian, mengonsumsi telur dalam batas wajar tidak akan melampaui ambang batas kesehatan.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut,&#8221; pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/945115\/benarkah-makan-telur-bikin-bisulan-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) ANGGAPAN bahwa mengonsumsi terlalu banyak telur dapat menyebabkan bisul masih melekat kuat di tengah masyarakat, terutama bagi orangtua yang memiliki anak kecil. Namun, secara medis, klaim tersebut ternyata tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Ahli Gizi dari IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Gizi., menegaskan bahwa telur bukanlah penyebab langsung munculnya bisul. Ia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":119720,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-119719","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119719","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119719"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119719\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119720"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119719"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119719"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119719"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}