{"id":119235,"date":"2026-10-15T14:23:43","date_gmt":"2026-10-15T07:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/rupiah-melemah-ihsg-terpuruk-di-tengah-koordinasi-kebijakan\/"},"modified":"2026-10-15T14:23:43","modified_gmt":"2026-10-15T07:23:43","slug":"rupiah-melemah-ihsg-terpuruk-di-tengah-koordinasi-kebijakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/rupiah-melemah-ihsg-terpuruk-di-tengah-koordinasi-kebijakan\/","title":{"rendered":"Rupiah Melemah, IHSG Terpuruk di Tengah Koordinasi Kebijakan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/15\/1792048555_d3060bf66fa95641ea9c.jpg\" alt=\"Rupiah Melemah, IHSG Terpuruk di Tengah Koordinasi Kebijakan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PELEMAHAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nilai-tukar-rupiah\" title=\"Nilai Tukar Rupiah\">nilai tukar rupiah<\/a> hingga mendekati level Rp17.900 per dolar AS dan indeks harga saham gabungan (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ihsg\" title=\"IHSG\">IHSG<\/a>) yang merosot di bawah level 6.000 menjadi tantangan bagi koordinasi kebijakan ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut terjadi di tengah upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat likuiditas, dan mendorong pertumbuhan kredit, sementara pemerintah berupaya menjaga disiplin fiskal serta menekan biaya pembiayaan.<\/p>\n<p>Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kebijakan BI dan pemerintah pada dasarnya sudah mengarah pada tujuan yang tepat. Namun, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham masih berlanjut di tengah koordinasi kebijakan pemerintah. Menurut dia, pasar tidak hanya melihat kebijakan secara terpisah, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya secara keseluruhan terhadap pasar keuangan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cPasar keuangan tidak membaca kebijakan satu per satu, tetapi melihat keseluruhannya sebagai satu kesatuan kebijakan,\u201d ujar Fakhrul dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Kamis (15\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/896474\/ihsg-sesi-i-anjlok-ke-level-5889-rupiah-dekati-rp18000-jadi-pemicu\" title=\"IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.889, Rupiah Dekati Rp18.000 Jadi Pemicu\" target=\"_blank\">IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.889, Rupiah Dekati Rp18.000 Jadi Pemicu<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, tantangan utama terletak pada pembagian risiko di antara pasar keuangan. BI berupaya menjaga suku bunga agar tidak menekan pertumbuhan, sedangkan pemerintah berusaha mengendalikan imbal hasil atau yield obligasi untuk menjaga biaya bunga APBN. Pada saat yang sama, investor memperoleh fasilitas lindung nilai atau hedging untuk mengelola risiko nilai tukar.<\/p>\n<p>Namun, ketika terjadi guncangan di pasar global, penyesuaian harga tetap diperlukan. Jika imbal hasil obligasi tidak cukup fleksibel merespons kenaikan yield global atau perubahan selera risiko investor, tekanan dapat beralih ke nilai tukar rupiah.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pelemahan-rupiah\" title=\"pelemahan rupiah\">Pelemahan rupiah<\/a> kemudian berpotensi meningkatkan premi risiko investasi saham atau equity risk premium, sehingga menambah tekanan terhadap IHSG,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/851699\/purbaya-soroti-ketidaksinkronan-rupiah-dan-ihsg\" title=\"Purbaya Soroti Ketidaksinkronan Rupiah dan IHSG\" target=\"_blank\">Purbaya Soroti Ketidaksinkronan Rupiah dan IHSG<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Fakhrul menilai fasilitas FX swap dan insentif hedging yang disediakan BI merupakan langkah tepat untuk mengurangi risiko nilai tukar yang ditanggung investor asing. Pasar lindung nilai yang lebih dalam dan terjangkau dapat mengurangi premi imbal hasil yang diminta investor untuk mengompensasi risiko rupiah.<\/p>\n<p>Meski demikian, instrumen tersebut tidak dapat menghilangkan seluruh risiko investasi. Investor tetap mempertimbangkan risiko perubahan suku bunga global, likuiditas, serta jangka waktu investasi. Karena itu, fasilitas lindung nilai perlu didukung kondisi pasar yang memungkinkan investor memperoleh imbal hasil sesuai dengan risiko yang ditanggung.<\/p>\n<p>Di sisi lain, kebijakan untuk memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit perlu diimbangi dengan upaya menjaga pasar saham dan obligasi. Pasalnya, dunia usaha tidak hanya mengandalkan kredit perbankan untuk membiayai ekspansi, tetapi juga membutuhkan pendanaan melalui penerbitan obligasi, tambahan modal saham, dan investasi asing.<\/p>\n<p>\u201cJika saluran kredit kembali hidup, tetapi pasar aset melemah, biaya modal bagi perekonomian secara keseluruhan belum tentu turun,\u201d kata Fakhrul.<\/p>\n<p>Ia berpandangan kredit yang lebih murah belum tentu menurunkan biaya pendanaan perusahaan apabila harga saham terus turun, rupiah melemah, dan premi risiko investasi meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menghambat penghimpunan modal serta mengurangi efektivitas transmisi kebijakan ekonomi.<\/p>\n<p>Fakhrul menambahkan, persoalan likuiditas juga tidak cukup diukur dari besarnya dana yang tersedia dalam sistem keuangan. Hal yang tidak kalah penting ialah kemampuan likuiditas tersebut mengalir ke berbagai instrumen investasi dan sektor ekonomi. Perbankan dapat memiliki dana yang memadai, tetapi tetap berhati-hati menyalurkan kredit. Investor asing pun dapat memperoleh fasilitas lindung nilai, tetapi belum tentu menambah investasinya apabila imbal hasil yang ditawarkan tidak sebanding dengan risiko.<\/p>\n<p>Sementara itu, penurunan selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia terhadap US Treasury hingga sekitar 188 basis poin menunjukkan perbaikan persepsi risiko dan berpotensi membantu pemerintah menekan biaya pembiayaan.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Namun, capaian tersebut perlu didukung stabilitas rupiah, likuiditas pasar, dan kepercayaan investor terhadap mekanisme pembentukan harga,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menurut Fakhrul, kebijakan berikutnya bukan membalik arah kebijakan yang telah berjalan, melainkan memberikan ruang yang memadai bagi pasar untuk menyesuaikan harga. Imbal hasil obligasi perlu memiliki fleksibilitas untuk menyerap sebagian perubahan risiko global, sehingga tekanan tidak sepenuhnya beralih ke pasar valuta asing dan saham.<\/p>\n<p>\u201cKoordinasi yang baik bukan berarti seluruh harga harus selalu stabil. Pasar perlu menyesuaikan diri agar satu pasar tidak menanggung seluruh tekanan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Fakhrul menegaskan, koordinasi kebijakan yang efektif perlu memastikan penyesuaian risiko berlangsung secara lebih seimbang di pasar obligasi, valuta asing, kredit, dan saham. Penguatan saluran kredit harus berjalan beriringan dengan terjaganya fungsi pasar aset agar pendanaan bagi dunia usaha tetap tersedia dan biaya modal perekonomian dapat ditekan. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/944730\/rupiah-melemah-ihsg-terpuruk-di-tengah-koordinasi-kebijakan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Antara) PELEMAHAN nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp17.900 per dolar AS dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang merosot di bawah level 6.000 menjadi tantangan bagi koordinasi kebijakan ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut terjadi di tengah upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat likuiditas, dan mendorong pertumbuhan kredit, sementara pemerintah berupaya menjaga disiplin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-119235","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119235"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119235\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}