{"id":119231,"date":"2026-10-15T14:13:36","date_gmt":"2026-10-15T07:13:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/ini-cara-melepas-tukik-yang-sesuai-animal-welfare\/"},"modified":"2026-10-15T14:13:36","modified_gmt":"2026-10-15T07:13:36","slug":"ini-cara-melepas-tukik-yang-sesuai-animal-welfare","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/ini-cara-melepas-tukik-yang-sesuai-animal-welfare\/","title":{"rendered":"Ini Cara Melepas Tukik yang Sesuai Animal Welfare"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/15\/1792048027_8fb466f809684cd0c8fb.jpg\" alt=\"Ini Cara Melepas Tukik yang Sesuai Animal Welfare\"\/><figcaption>Ilustrasi&#8211;Relawan konservasi melepasliarkan anak penyu atau tukik di kawasan Pantai Serang Blitar, Jawa Timur, Selasa (7\/7\/2026).(ANTARA\/Irfan Anshor)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEBUAH video yang memperlihatkan pelepasan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tukik\" title=\"Tukik\">tukik<\/a> atau anak <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penyu\" title=\"penyu\">penyu<\/a> dengan cara dituangkan langsung dari ember ke arah gelombang laut memicu perdebatan di media sosial. Banyak pihak menilai metode tersebut menghilangkan proses alami tukik yang seharusnya melewati hamparan pasir pantai terlebih dahulu sebelum mencapai perairan.<\/p>\n<p>Menanggapi hal tersebut, Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University, Dr Mohammad Mukhlis Kamal, memberikan pandangannya. Menurutnya, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pelepasan-tukik\" title=\"pelepasan tukik\">pelepasan tukik<\/a> dengan cara tersebut pada prinsipnya tidak menjadi masalah, asalkan tetap memperhatikan kondisi dan kesejahteraan hewan tersebut.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Dengan cara melepaskannya saat ombak menghempas pantai, menurut opini saya tidak apa-apa. Gerakan dinamis air akibat hantaman ombak bukan masalah, karena tubuh tukik dengan kaki depan sebagai &#8216;dayung&#8217; akan mengatasinya,&#8221; ujar Dr Mukhlis.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/919965\/1300-tukik-dilepasliarkan-di-banyuwangi\" title=\"1.300 Tukik Dilepasliarkan di Banyuwangi\" target=\"_blank\">1.300 Tukik Dilepasliarkan di Banyuwangi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Meski secara fisik tukik mampu beradaptasi dengan hempasan ombak, ia mengakui bahwa pelepasan yang terburu-buru dapat memicu stres pada hewan. Secara alamiah, tukik biasanya diletakkan di pasir pantai dengan posisi berlawanan arah laut, lalu mereka akan berbalik arah secara mandiri menuju air.<\/p>\n<h3>Penerapan Lima Prinsip Animal Welfare<\/h3>\n<p>Mukhlis menekankan bahwa setiap kegiatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/konservasi\" title=\"konservasi\">konservasi<\/a> harus merujuk pada prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare). Hal ini penting untuk memastikan tukik tetap memiliki peluang hidup yang tinggi saat kembali ke habitat asalnya.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">No<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Aspek Animal Welfare<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Keterangan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">1<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Bebas dari rasa lapar dan haus<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Nutrisi tercukupi selama penangkaran.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">2<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Bebas dari rasa tidak nyaman<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Lingkungan penangkaran yang sesuai.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">3<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Bebas dari rasa takut atau stres<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Proses pelepasan dilakukan secara perlahan.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">4<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Bebas mengekspresikan perilaku alamiah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Memberi ruang tukik bergerak menuju laut.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">5<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Bebas dari cedera dan rasa sakit<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Menghindari kontak fisik yang kasar.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Hindari Kontak Langsung dengan Tangan<\/h3>\n<p>Satu hal krusial yang sering terlupakan adalah interaksi fisik antara manusia dan tukik. Berdasarkan pengalamannya di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat, Mukhlis menyarankan agar petugas atau relawan menghindari kontak langsung dengan tangan saat melepaskan tukik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/788867\/lebih-dari-4-ribu-penyu-di-pulau-serangan-bali-diselamatkan-dan-dikembalikan-ke-laut\" title=\"Lebih dari 4 Ribu Penyu di Pulau Serangan Bali Diselamatkan dan Dikembalikan ke Laut\" target=\"_blank\">Lebih dari 4 Ribu Penyu di Pulau Serangan Bali Diselamatkan dan Dikembalikan ke Laut<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Yang justru paling perlu diperhatikan adalah hindari kontak langsung tukik dengan tangan manusia. Dikhawatirkan ada kontaminasi bakteri atau virus dari tangan manusia ke tubuh tukik,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<h3>Konservasi dan Waktu Pelepasan yang Ideal<\/h3>\n<p>Upaya konservasi penyu saat ini telah mencakup perlindungan tempat peneluran, area mencari makan, hingga penyediaan koridor migrasi melalui Kawasan Konservasi Perairan (MPA). Intervensi manusia, seperti memindahkan telur ke tempat penangkaran, dilakukan semata-mata untuk melindungi telur dari predator seperti babi, anjing, dan biawak, serta ancaman perburuan liar.<\/p>\n<p>Terkait waktu pelepasan, Dr Mukhlis mengingatkan agar tukik tidak disimpan terlalu lama di penangkaran. Waktu ideal untuk melepasliarkan adalah sekitar satu minggu setelah menetas.<\/p>\n<p>&#8220;Bilamana ditahan terlalu lama, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan nalurinya untuk &#8216;pulang&#8217; atau melakukan <i>homing<\/i> ke pantai tempat mereka menetas di masa depan,&#8221; pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/944727\/ini-cara-melepas-tukik-yang-sesuai-animal-welfare\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi&#8211;Relawan konservasi melepasliarkan anak penyu atau tukik di kawasan Pantai Serang Blitar, Jawa Timur, Selasa (7\/7\/2026).(ANTARA\/Irfan Anshor) SEBUAH video yang memperlihatkan pelepasan tukik atau anak penyu dengan cara dituangkan langsung dari ember ke arah gelombang laut memicu perdebatan di media sosial. Banyak pihak menilai metode tersebut menghilangkan proses alami tukik yang seharusnya melewati hamparan pasir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":119232,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-119231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119231"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119231\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}