{"id":119163,"date":"2026-10-15T11:20:45","date_gmt":"2026-10-15T04:20:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/variasi-genetik-penyimpan-lemak-diprediksi-memicu-anoreksia\/"},"modified":"2026-10-15T11:20:45","modified_gmt":"2026-10-15T04:20:45","slug":"variasi-genetik-penyimpan-lemak-diprediksi-memicu-anoreksia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/15\/variasi-genetik-penyimpan-lemak-diprediksi-memicu-anoreksia\/","title":{"rendered":"Variasi Genetik Penyimpan Lemak Diprediksi Memicu Anoreksia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/15\/1792021895_faccf00f170bea50ca33.jpg\" alt=\"Variasi Genetik Penyimpan Lemak Diprediksi Memicu Anoreksia\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anoreksia\" title=\"anoreksia\">ANOREKSIA<\/a> merupakan gangguan makan yang ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem dan ketakutan berlebih terhadap kenaikan berat badan. Selama ini, kondisi tersebut kerap dipandang semata-mata sebagai gangguan psikologis. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan mekanisme tubuh dalam menyimpan lemak juga berpotensi memegang peranan penting.<\/p>\n<p>Para peneliti mengamati gen bernama PLIN4 yang utamanya bekerja pada sel lemak dan otot. Hasil studi menemukan bahwa variasi genetik langka yang dapat menghentikan fungsi normal gen ini terdeteksi tiga kali lebih sering pada penderita anoreksia dibandingkan pada populasi DNA manusia secara umum.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Penelitian ini dipimpin oleh Michael Lutter dari Precision Psychiatry di Plano, Texas, serta didampingi oleh ahli fisiologi A.J. Robison dari Michigan State University.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/864370\/gangguan-makan-pada-remaja-laki-laki-meningkat-tajam-kenali-gejalanya\" title=\"Gangguan Makan pada Remaja Laki-laki Meningkat Tajam, Kenali Gejalanya\" target=\"_blank\">Gangguan Makan pada Remaja Laki-laki Meningkat Tajam, Kenali Gejalanya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Asumsi yang beredar adalah anoreksia murni merupakan gangguan psikiatri atau bahkan histeria pada wanita yang hanya ingin menjadi kurus,&#8221; ujar Robison.<\/p>\n<p>Pengamatan awal bermula dari seorang pasien anoreksia yang tidak merespons pengobatan, di mana ibu dan dua saudara perempuannya juga mendiagnosis gangguan serupa. Melalui sampel DNA swab pipi, tim peneliti menemukan 44 variasi langka yang dimiliki oleh keempat wanita tersebut, dengan gen PLIN4 sebagai kandidat utama karena perannya dalam membantu sel mengontrol penyimpanan lemak.<\/p>\n<p>Tim peneliti kemudian memeriksa gen tersebut pada 154 pasien lain yang sebagian besar adalah perempuan. Sebanyak 17 dari 154 pasien (sekitar 11%) membawa perubahan langka pada PLIN4 yang diprediksi berbahaya oleh alat komputer. Sebagai pembanding, dalam database Genome Aggregation Database, variasi ini hanya ditemukan pada sekitar 3% populasi keturunan Eropa.<\/p>\n<p>Secara biologis, PLIN4 berperan melapisi tetesan lemak kecil di dalam sel untuk mengontrol kapan lemak tersebut dilepaskan untuk dibakar menjadi energi. Studi genetik terdahulu menunjukkan bahwa orang dengan salinan PLIN4 yang rusak cenderung menyimpan lebih sedikit lemak di pinggul atau paha, dan menumpuknya lebih banyak di sekitar perut. Kondisi penumpukan lemak di area perut ini dinilai dapat memperburuk rasa cemas terkait citra tubuh pada penderita anoreksia.<\/p>\n<p>Selain itu, variasi pada gen PLIN4 juga berkaitan dengan tingginya kadar trigliserida dalam darah. Hampir separuh dari 17 pembawa gen tersebut (delapan orang) tercatat memiliki riwayat kadar lemak darah yang tinggi, dibandingkan hanya 12% pada kelompok pasien non-pembawa.<\/p>\n<p>Kendati demikian, para peneliti menegaskan \u00a0temuan ini belum membuktikan secara langsung bahwa perubahan genetik tersebut adalah penyebab mutlak anoreksia, sehingga tes rutin belum direkomendasikan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menguji dampak mutasi ini dalam skala laboratorium.<\/p>\n<p>&#8220;Menemukan gen yang mendasari penyakit ini tidak akan langsung menyembuhkan penyakitnya,&#8221; kata Robison. &#8220;Namun, apa yang bisa dikakukannya adalah mengajari kita apa yang menyebabkan penyakit ini pada banyak orang, dan kita dapat menggunakan informasi tersebut untuk merancang pengobatan baru.&#8221;<\/p>\n<p>Studi lengkap mengenai temuan genetik ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Psychiatry. (Earth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/944610\/variasi-genetik-penyimpan-lemak-diprediksi-memicu-anoreksia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) ANOREKSIA merupakan gangguan makan yang ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem dan ketakutan berlebih terhadap kenaikan berat badan. Selama ini, kondisi tersebut kerap dipandang semata-mata sebagai gangguan psikologis. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan mekanisme tubuh dalam menyimpan lemak juga berpotensi memegang peranan penting. Para peneliti mengamati gen bernama PLIN4 yang utamanya bekerja pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":119164,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-119163","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119163"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119163\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}