{"id":118410,"date":"2026-10-14T03:09:41","date_gmt":"2026-10-13T20:09:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/14\/pdskji-deteksi-dini-depresi-harus-diikuti-penanganan-lanjutan\/"},"modified":"2026-10-14T03:09:41","modified_gmt":"2026-10-13T20:09:41","slug":"pdskji-deteksi-dini-depresi-harus-diikuti-penanganan-lanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/14\/pdskji-deteksi-dini-depresi-harus-diikuti-penanganan-lanjutan\/","title":{"rendered":"PDSKJI Deteksi Dini Depresi Harus Diikuti Penanganan Lanjutan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/13\/1791902962_f11a66f6ed56fbce1005.jpg\" alt=\"PDSKJI: Deteksi Dini Depresi Harus Diikuti Penanganan Lanjutan\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERSOALAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-jiwa\" title=\"Kesehatan jiwa\">kesehatan jiwa<\/a> di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, bukan hanya terkait tingginya jumlah penderita <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gangguan-mental\" title=\"gangguan mental\">gangguan mental<\/a>, melainkan juga besarnya kesenjangan pengobatan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan fakta memprihatinkan bahwa hampir 9 dari 10 orang dengan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/depresi\" title=\"depresi\">depresi<\/a> di Indonesia belum mendapatkan penanganan medis yang semestinya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/psikiater\" title=\"Psikiater\">Psikiater<\/a> Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pdskji\" title=\"PDSKJI\">PDSKJI<\/a>), dr. Lahargo Kembaren, menekankan bahwa deteksi dini saja tidak cukup. Upaya tersebut harus dibarengi dengan sistem penanganan lanjutan yang terintegrasi dan berkesinambungan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dalam keterangannya pada Selasa (13\/10), dr. Lahargo menggarisbawahi empat poin krusial yang menjadi penghambat sekaligus solusi dalam penanganan kesehatan jiwa di tanah air:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/726704\/kesehatan-mental-bisa-diatasi-melalui-wellness-spiritual\" title=\"Kesehatan Mental Bisa Diatasi Melalui Wellness Spiritual\" target=\"_blank\">Kesehatan Mental Bisa Diatasi Melalui Wellness Spiritual<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>1. Menghapus Stigma Negatif<\/h3>\n<p>Stigma masih menjadi tembok besar bagi penderita depresi untuk mencari bantuan. Banyak lapisan masyarakat yang masih melabeli depresi sebagai bentuk kurang bersyukur, lemah iman, atau sekadar kurang berpikir positif. Padahal, secara medis, depresi adalah gangguan kesehatan kompleks yang melibatkan interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial.<\/p>\n<p>&#8220;Akibat stigma, banyak orang memilih menyembunyikan gejalanya, menunda pertolongan, bahkan merasa malu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa,&#8221; ujar dr. Lahargo.<\/p>\n<h3>2. Pemerataan Akses Layanan Primer<\/h3>\n<p>Keterbatasan jumlah psikiater dan psikolog klinis, terutama di daerah, membuat akses layanan menjadi tidak merata. PDSKJI mendorong agar layanan kesehatan jiwa semakin terintegrasi di tingkat pelayanan primer seperti Puskesmas. Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa mendapatkan pertolongan awal tanpa harus selalu pergi ke rumah sakit jiwa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/708834\/jangan-biarkan-orang-yang-mengalami-gangguan-mental-merasa-sendirian\" title=\"Jangan Biarkan Orang yang Mengalami Gangguan Mental Merasa Sendirian\" target=\"_blank\">Jangan Biarkan Orang yang Mengalami Gangguan Mental Merasa Sendirian<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>3. Tindak Lanjut Pasca-Skrining<\/h3>\n<p>Upaya pemerintah dalam memperluas skrining kesehatan jiwa harus diikuti dengan kesiapan sistem rujukan. dr. Lahargo mengingatkan agar masyarakat yang terdeteksi berisiko tidak dibiarkan tanpa penanganan. Diperlukan ketersediaan pemeriksaan klinis, psikoterapi, pengobatan sesuai indikasi, hingga rehabilitasi psikososial yang nyata.<\/p>\n<h3>4. Perhatian Khusus pada Generasi Muda<\/h3>\n<p>Kelompok usia muda dinilai memiliki kerentanan psikologis yang tinggi akibat tekanan akademik, masalah keluarga, perundungan, hingga pengaruh media sosial. Untuk itu, penguatan literasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-mental\" title=\"kesehatan mental\">kesehatan mental<\/a>, keterampilan regulasi emosi, serta akses konseling di institusi pendidikan menjadi sangat mendesak.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, dr. Lahargo menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, dan masyarakat luas untuk memperkecil kesenjangan pengobatan dan menciptakan ekosistem kesehatan jiwa yang lebih baik di Indonesia.\u00a0<\/p>\n<p>Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala depresi atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan bantuan medis yang tepat. (H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/944016\/pdskji-deteksi-dini-depresi-harus-diikuti-penanganan-lanjutan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Dok. Magnific) PERSOALAN kesehatan jiwa di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, bukan hanya terkait tingginya jumlah penderita gangguan mental, melainkan juga besarnya kesenjangan pengobatan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan fakta memprihatinkan bahwa hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum mendapatkan penanganan medis yang semestinya. Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":118411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-118410","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118410","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118410"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118410\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118410"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118410"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118410"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}