{"id":118260,"date":"2026-10-13T20:54:40","date_gmt":"2026-10-13T13:54:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/13\/rehabilitasi-kaki-dan-tangan-palsu-tak-cukup-dengan-teknologi-canggih\/"},"modified":"2026-10-13T20:54:40","modified_gmt":"2026-10-13T13:54:40","slug":"rehabilitasi-kaki-dan-tangan-palsu-tak-cukup-dengan-teknologi-canggih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/13\/rehabilitasi-kaki-dan-tangan-palsu-tak-cukup-dengan-teknologi-canggih\/","title":{"rendered":"Rehabilitasi Kaki dan Tangan Palsu Tak Cukup dengan Teknologi Canggih"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/13\/1791899502_0b11869f106ad188cd08.jpeg\" alt=\"Rehabilitasi Kaki dan Tangan Palsu Tak Cukup dengan Teknologi Canggih\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">KAKI atau tangan palsu bukan sekadar pengganti anggota tubuh yang hilang. Bagi penggunanya, perangkat tersebut diharapkan menjadi jalan untuk kembali bergerak, bekerja, dan menjalani kehidupan secara mandiri. Namun, hasilnya tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, melainkan juga pada ketepatan penilaian medis, latihan, serta pendampingan selama proses rehabilitasi.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Perspektif ini mengemuka dalam kuliah tamu bertajuk Clinical Prospective in Upper and Lower Limb Prosthesis Rehabilitation di Ruang Kuliah Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Kegiatan yang diselenggarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) FKUI dengan dukungan \u00d6ssur dan ASATIF ini menghadirkan Dr. dr. Rizky Kusuma Wardhani, Sp.KFR, Subsp.Ped.(K), Ahmad Risaldi dari ASATIF, serta Zulfaqar Omar, ahli prostetik dan ortotik \u00d6ssur untuk kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/853098\/kolaborasi-kick-andy-foundation-dan-injourney-bandara-internasional-minangkabau-langkah-rendra-kian-ringan\" title=\"Kolaborasi Kick Andy Foundation dan InJourney Bandara Internasional Minangkabau, Langkah Rendra kian Ringan\" target=\"_blank\">Kolaborasi Kick Andy Foundation dan InJourney Bandara Internasional Minangkabau, Langkah Rendra kian Ringan<\/a><\/strong><\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Dokter Rizky menekankan bahwa perkembangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/teknologi-prostetik\" title=\"teknologi prostetik\">teknologi prostetik<\/a> memang membuka lebih banyak pilihan bagi penyandang kehilangan anggota gerak atas maupun bawah. Namun, perangkat dengan teknologi mutakhir belum tentu menghasilkan pemulihan optimal jika tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penggunanya.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">\u201cTeknologi canggih saja tidak menjamin keberhasilan rehabilitasi. Hasil yang optimal memerlukan asesmen pasien yang tepat, pemilihan prostesis yang cermat, program rehabilitasi yang dipersonalisasi, serta kolaborasi yang efektif di antara para tenaga kesehatan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Karena itu, rehabilitasi perlu berorientasi pada kemampuan fungsional yang ingin dicapai pasien. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi berperan menghubungkan pilihan teknologi dengan kondisi klinis, kebutuhan, serta target aktivitas setiap individu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/826933\/baznas-salurkan-kaki-prostetik-kepada-penyandang-disabilitas-di-kepulauan-seribu\" title=\"Baznas Salurkan Kaki Prostetik kepada Penyandang Disabilitas di Kepulauan Seribu\" target=\"_blank\">Baznas Salurkan Kaki Prostetik kepada Penyandang Disabilitas di Kepulauan Seribu<\/a><\/strong><\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Proses tersebut tidak berhenti ketika prostesis selesai dibuat dan dipasang. Pasien masih perlu menjalani latihan agar mampu menggunakan perangkat secara efektif, disertai evaluasi dan penyesuaian untuk memastikan kenyamanan serta keamanan selama beraktivitas.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Zulfaqar Omar juga menyoroti anggapan bahwa pemulihan selesai setelah seseorang mendapatkan kaki atau tangan palsu. Menurutnya, prostesis hanyalah salah satu bagian dari rangkaian rehabilitasi yang berlangsung secara berkelanjutan.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">\u201cPasien memerlukan evaluasi klinis yang tepat, prostesis yang nyaman, latihan penggunaan, serta pemeriksaan dan penyesuaian secara berkala,\u201d kata Zulfaqar.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Kebutuhan setiap pengguna pun tidak bisa disamaratakan. Di Indonesia, misalnya, ada pengguna yang harus mengendarai sepeda motor untuk bekerja, berjalan di permukaan jalan yang tidak rata, hingga naik turun tangga setiap hari. Aktivitas tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis dan karakteristik prostesis.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Artinya, perangkat yang sesuai bagi satu orang belum tentu memberikan hasil serupa bagi orang lain. Kenyamanan, stabilitas, keamanan, dan kemampuan menunjang aktivitas sehari-hari menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan penggunaannya.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Tantangan lainnya adalah akses terhadap layanan prostetik berkualitas dan tenaga profesional yang terlatih. Biaya juga dapat memengaruhi kemampuan pasien memperoleh perangkat, latihan, serta pendampingan secara berkesinambungan.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Zulfaqar menjelaskan, \u00d6ssur merupakan perusahaan global yang bergerak di bidang prostetik dan ortotik, dengan cakupan layanan di berbagai negara. Ia menangani kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Sementara itu, Ahmad Risaldi dari ASATIF menilai pembelajaran mengenai perkembangan teknologi prostetik penting bagi dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, terutama untuk memperluas pemahaman mereka terhadap pilihan perangkat yang dapat digunakan pasien.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">\u201cKami percaya pembelajaran tentang teknologi terbaru di bidang kaki dan tangan palsu akan bermanfaat tidak hanya bagi dokter Sp.KFR, tetapi juga bagi pasien-pasien mereka,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Melalui kegiatan akademik ini, pemahaman mengenai teknologi prostetik diharapkan dapat berjalan seiring dengan penguatan pendekatan klinis dalam rehabilitasi. Dengan begitu, pemilihan perangkat tidak hanya didasarkan pada fitur teknologi, tetapi juga pada kebutuhan dan kemampuan pasien.<\/p>\n<p data-v-22d73403=\"\">Keberhasilan rehabilitasi prostetik bukan semata-mata tentang mengganti anggota tubuh yang hilang. Yang lebih penting adalah bagaimana perangkat tersebut, bersama latihan, evaluasi berkala, dan kolaborasi tenaga kesehatan, dapat membantu seseorang kembali menjalani aktivitas dengan lebih aman, nyaman, dan mandiri. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/944000\/rehabilitasi-kaki-dan-tangan-palsu-tak-cukup-dengan-teknologi-canggih\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) KAKI atau tangan palsu bukan sekadar pengganti anggota tubuh yang hilang. Bagi penggunanya, perangkat tersebut diharapkan menjadi jalan untuk kembali bergerak, bekerja, dan menjalani kehidupan secara mandiri. Namun, hasilnya tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, melainkan juga pada ketepatan penilaian medis, latihan, serta pendampingan selama proses rehabilitasi. Perspektif ini mengemuka dalam kuliah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":118261,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-118260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118260"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118260\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}