{"id":117826,"date":"2026-10-13T02:29:36","date_gmt":"2026-10-12T19:29:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/13\/pentingnya-self-boundaries-saat-menjadi-tempat-curhat-menurut-psikolog\/"},"modified":"2026-10-13T02:29:36","modified_gmt":"2026-10-12T19:29:36","slug":"pentingnya-self-boundaries-saat-menjadi-tempat-curhat-menurut-psikolog","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/13\/pentingnya-self-boundaries-saat-menjadi-tempat-curhat-menurut-psikolog\/","title":{"rendered":"Pentingnya Self-Boundaries Saat Menjadi Tempat Curhat Menurut Psikolog"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/12\/1791813731_1d41f32357ee455ef949.jpg\" alt=\"Pentingnya Self-Boundaries Saat Menjadi Tempat Curhat Menurut Psikolog\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENJADI pendengar yang baik bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti. Namun, memberikan dukungan emosional bukan berarti harus mengabaikan kapasitas diri sendiri. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menerapkan <i><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/self-boundaries\" title=\"self-boundaries\">self-boundaries<\/a><\/i> atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/batasan-diri\" title=\"batasan diri\">batasan diri<\/a> dalam proses tersebut.<\/p>\n<p>Menurut Ocha, batasan diri sangat krusial untuk mengenali sejauh mana kemampuan, waktu, energi emosional, hingga tanggung jawab seseorang saat mendukung orang lain. Hal ini bertujuan agar pemberi dukungan tidak merasa kewalahan atau kehilangan keseimbangan mentalnya sendiri.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201c<i>Self-boundaries<\/i> membantu kita untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi emosional, dan tanggung jawab kita ketika mendukung orang lain,\u201d ujar Ocha dalam keterangan\u00a0di Jakarta, dikutip Senin (12\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/943409\/el-putra-sarira-tekankan-pentingnya-work-life-balance-dan-kesehatan-mental\" title=\"El Putra Sarira Tekankan Pentingnya Work-Life Balance dan Kesehatan Mental\" target=\"_blank\">El Putra Sarira Tekankan Pentingnya Work-Life Balance dan Kesehatan Mental<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Mengenali Batas Peran dan Kapasitas<\/h3>\n<p>Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ini menjelaskan bahwa salah satu bentuk batasan diri adalah memahami peran. Sebagai teman atau anggota keluarga, seseorang memang bisa menjadi sumber dukungan, namun tidak perlu memaksakan diri mengambil alih peran profesional seperti psikolog atau psikiater.<\/p>\n<p>Selain itu, kesadaran akan kapasitas emosional diri sebelum membantu orang lain juga sangat diperlukan. Jika energi sedang tidak memadai atau isu yang diceritakan dirasa terlalu berat, Ocha menyarankan untuk berkomunikasi secara jujur namun tetap empatik.<\/p>\n<p>\u201cKomunikasikan batasan secara jelas dan empatik. Dapat pula menawarkan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas diri kita,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/943090\/peran-musik-dalam-mengenali-emosi-dan-menjaga-kesehatan-mental-menurut-psikolog\" title=\"Peran Musik dalam Mengenali Emosi dan Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog\" target=\"_blank\">Peran Musik dalam Mengenali Emosi dan Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Etika Merespons Curhatan<\/h3>\n<p>Saat seseorang mulai terbuka mengenai masalahnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa bercerita bukanlah hal yang mudah. Seringkali, orang tersebut membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya berani berbagi.<\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa panduan praktis dalam merespons keluh kesah orang lain berdasarkan penjelasan Ocha Ananda Suherik:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Langkah<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Tindakan yang Disarankan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Mendengarkan Aktif<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Dengarkan tanpa menghakimi dan jangan terburu-buru memberikan solusi.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Memberi Ruang<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Biarkan mereka bercerita sesuai kesiapan dan kecepatannya sendiri.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Validasi Emosi<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Akui bahwa perasaan mereka nyata dan layak dipahami tanpa harus membenarkan perilaku salah.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Menjaga Privasi<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Jaga kepercayaan dan jangan membandingkan masalah mereka dengan masalah orang lain.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Validasi Bukan Berarti Membenarkan Perilaku<\/h3>\n<p>Lulusan Universitas Indonesia ini juga memberikan catatan penting mengenai validasi emosi. Menurutnya, memvalidasi perasaan seseorang berbeda dengan membenarkan seluruh pemikiran atau tindakannya.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, kita bisa memahami bahwa seseorang merasa sangat marah, namun tetap tidak membenarkan jika kemarahan tersebut diluapkan dengan cara menyakiti orang lain. Dengan cara ini, pendengar tetap bisa menunjukkan empati yang mendalam sekaligus mempertahankan batasan yang sehat.<\/p>\n<p>\u201cTanyakan bantuan seperti apa yang ia butuhkan. Hindari membandingkan atau mengecilkan masalahnya. Jaga kepercayaan dan privasinya,\u201d tutup Ocha. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/943497\/pentingnya-self-boundaries-saat-menjadi-tempat-curhat-menurut-psikolog\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) MENJADI pendengar yang baik bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti. Namun, memberikan dukungan emosional bukan berarti harus mengabaikan kapasitas diri sendiri. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menerapkan self-boundaries atau batasan diri dalam proses tersebut. Menurut Ocha, batasan diri sangat krusial untuk mengenali sejauh mana [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":117827,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-117826","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117826"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117826\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/117827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}