{"id":117372,"date":"2026-10-12T05:19:36","date_gmt":"2026-10-11T22:19:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/12\/budaya-katrol-nilai\/"},"modified":"2026-10-12T05:19:36","modified_gmt":"2026-10-11T22:19:36","slug":"budaya-katrol-nilai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/12\/budaya-katrol-nilai\/","title":{"rendered":"Budaya Katrol Nilai"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/11\/1791734908_72c507342a4122cb3123.jpg\" alt=\"Budaya Katrol Nilai\"\/><figcaption>(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENJELANG <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pembagian-rapor\" title=\"Pembagian Rapor\">pembagian rapor<\/a>, suasana di ruang guru biasanya berubah. Sayangnya, kesibukan itu tidak selalu berkaitan dengan pertanyaan yang paling penting: Apakah anak-anak kita benar-benar sudah belajar dan berkembang? Tidak jarang perhatian justru tersedot pada pertanyaan lain: Bagaimana agar nilai mereka memenuhi standar? Di situlah kita berhadapan dengan sebuah fenomena yang sebenarnya bukan lagi rahasia: budaya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/katrol-nilai\" title=\"Katrol Nilai\">katrol nilai<\/a>. Nilai yang semula rendah perlahan dinaikkan. Angka yang belum memenuhi batas ketuntasan disesuaikan.<\/p>\n<p>Di atas kertas semuanya tampak baik-baik saja. Sekolah terlihat hebat, guru dianggap berhasil mengajar, dan orangtua pun merasa lega. Namun, benarkah demikian? Persoalannya bukan semata-mata pada angka yang dinaikkan. Yang lebih serius ialah pesan yang tersembunyi di balik praktik tersebut. Ketika nilai dibuat tampak baik tanpa diikuti peningkatan kemampuan, kita sedang mengajarkan kepada anak bahwa penampilan lebih penting daripada kenyataan. Padahal, rapor semestinya menjadi cermin autentik perkembangan anak. Ketika cermin itu retak, ketika representasi tidak lagi mewakili kenyataan, kita perlu memahami apa yang terjadi. Fenomena itu menarik jika dilihat melalui pemikiran Jean Baudrillard tentang simulakra.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/940610\/narsisme-di-ruang-belajar\" title=\"Narsisme di Ruang Belajar\" target=\"_blank\">Narsisme di Ruang Belajar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>BAHAYA SIMULAKRA<\/strong><\/p>\n<p>Dalam masyarakat yang semakin dikuasai simbol dan citra, representasi dapat menggantikan kenyataan. Nilai 9 seharusnya merepresentasikan tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Namun, ketika angka itu diperoleh tanpa proses belajar yang memadai, ia tidak lagi menggambarkan kemampuan siswa. Angka itu hanya menjadi simbol keberhasilan semu. Akibatnya, kita dapat memiliki rapor dengan deretan angka mengesankan, tetapi masih menemukan anak yang kesulitan membaca secara kritis, memecahkan masalah, atau mengomunikasikan gagasannya. Jika Baudrillard membantu kita memahami apa yang terjadi, bagaimana simbol menggantikan kenyataan, hukum Goodhart menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi.<\/p>\n<p>Hukum itu menyatakan, &#8216;ketika sebuah ukuran dijadikan target, ukuran tersebut dapat kehilangan fungsinya sebagai ukuran yang baik&#8217;. Ketika angka ujian, rata-rata rapor, atau tingkat ketuntasan dijadikan ukuran utama keberhasilan sekolah, perhatian mudah bergeser dari proses belajar menuju bagaimana mencapai angka tersebut. Sistem tidak lagi bertanya, &#8220;Apa yang sudah dipelajari anak?&#8221; tetapi berubah menjadi, &#8220;Bagaimana agar nilainya terlihat bagus?&#8221; Perubahan pertanyaan sederhana itu dapat mengubah seluruh perilaku dalam sistem pendidikan. Budaya katrol nilai bukan hanya persoalan administrasi. Ia menyentuh persoalan integritas. Integritas itu teruji justru ketika kita berhadapan dengan kegagalan. Kegagalan dalam belajar seharusnya tidak diperlakukan sebagai aib yang harus disembunyikan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/938230\/habis-un-terbit-tka\" title=\"Habis UN Terbit TKA\" target=\"_blank\">Habis UN Terbit TKA<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kegagalan justru dapat menjadi informasi penting tentang apa yang perlu diperbaiki. Anak perlu mengalami kesulitan, mencoba kembali, menerima umpan balik, dan menemukan cara yang lebih baik. Jika setiap kegagalan segera ditutupi dengan angka yang dinaikkan, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kenyataan. Ketika siswa mengetahui bahwa nilai dapat dinaikkan tanpa peningkatan kemampuan, mereka menerima pesan yang sangat kuat: yang penting bukan selalu menjadi lebih baik, tetapi terlihat lebih baik.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>MENGEMBALIKAN MAKNA KETUNTASAN<\/strong><\/p>\n<p>Pesan keliru itu hanya bisa dilawan jika kita mengembalikan makna ketuntasan. Standar ketuntasan jangan berubah menjadi angka sakral yang membuat guru merasa harus memoles hasil belajar agar tampak sempurna. Ketuntasan seharusnya dipahami sebagai penguasaan kompetensi, bukan sekadar tercapainya angka. Jika siswa belum memahami materi, jawabannya bukan menaikkan nilainya, melainkan mencari tahu mengapa ia belum memahami, memberikan bantuan yang tepat, menyediakan kesempatan belajar kembali, lalu menilai ulang perkembangannya. Remedial bukan sekadar mekanisme mengubah angka. Remedial ialah kesempatan kedua untuk belajar.<\/p>\n<p>Sekolah juga perlu membangun komunikasi yang sehat dengan orangtua. Orangtua perlu memahami bahwa nilai tinggi tidak selalu berarti anak berkembang optimal. Sebaliknya, nilai yang belum tinggi bukan berarti masa depan anak gagal. Justru dari nilai yang belum memuaskan, kita dapat mengetahui kebutuhan anak lebih jelas. Orangtua boleh berharap anak mereka berprestasi. Namun, jangan sampai harapan itu berubah menjadi tekanan yang membuat sekolah merasa harus menghasilkan angka-angka menyenangkan. Anak membutuhkan dukungan untuk berkembang, bukan rapor yang tampak sempurna.<\/p>\n<p>Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak, melainkan juga tentang siapa dirinya kelak. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi manusia yang mampu menghadapi kenyataan, termasuk kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Mereka perlu belajar bahwa tidak semua hasil diperoleh dengan mudah. Siswa perlu merasakan kegagalan, belajar dari kesalahan, menerima kritik, memperbaiki diri, dan mencoba lagi. Semua itu bagian dari pendidikan. Karena itu, sekolah semestinya menjadi tempat terbaik untuk belajar tentang kejujuran.<\/p>\n<p>Kejujuran tidak cukup diajarkan sebagai definisi. Ia harus dialami dalam praktik sehari-hari: guru jujur dalam menilai, siswa jujur dalam belajar, orangtua jujur dalam melihat kemampuan anak, sekolah jujur dalam melaporkan capaian, pimpinan pendidikan jujur dalam membaca data. Jika semua pihak berani melakukan itu, rapor akan kembali memiliki makna. Kita tidak membutuhkan rapor yang sempurna, tetapi rapor yang benar. Nilai 70 yang menggambarkan kemampuan nyata jauh lebih berharga daripada nilai 90 yang hanya menjadi hiasan administratif.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>INVESTASI PERADABAN<\/strong><\/p>\n<p>Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah &#8220;Berapa nilai rata-rata sekolah kita?&#8221; Pertanyaan yang lebih penting &#8220;Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pendidikan ini?&#8221; Apakah kita ingin menghasilkan generasi yang pandai mencari celah dari sistem? Ataukah manusia yang berani menghadapi kenyataan, memiliki kompetensi, mampu bangkit dari kegagalan, dan memegang teguh kejujuran? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan wajah pendidikan kita. Jangan sampai demi mempertahankan citra sekolah, kita mengorbankan sesuatu yang jauh lebih penting: karakter anak-anak.<\/p>\n<p>Biarlah setiap angka dalam rapor menjadi kesaksian jujur tentang perjalanan belajar seorang anak. Jika nilainya belum baik, mari kita bantu memperbaikinya. Jika kemampuannya sudah berkembang, mari kita apresiasi. Jika ia gagal, mari kita dampingi untuk bangkit. Yang perlu dibangun bukan budaya &#8216;semua harus bernilai tinggi&#8217;, melainkan budaya &#8216;semua harus terus bertumbuh&#8217;. Pendidikan bukan perlombaan menghasilkan angka sempurna. Pendidikan ialah perjalanan panjang membentuk manusia yang mampu hidup dengan kompetensi, ketangguhan, dan integritas.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/943178\/budaya-katrol-nilai\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Dok. Pribadi) MENJELANG pembagian rapor, suasana di ruang guru biasanya berubah. Sayangnya, kesibukan itu tidak selalu berkaitan dengan pertanyaan yang paling penting: Apakah anak-anak kita benar-benar sudah belajar dan berkembang? Tidak jarang perhatian justru tersedot pada pertanyaan lain: Bagaimana agar nilai mereka memenuhi standar? Di situlah kita berhadapan dengan sebuah fenomena yang sebenarnya bukan lagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":117373,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-117372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117372"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117372\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/117373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}