{"id":116356,"date":"2026-10-09T21:59:36","date_gmt":"2026-10-09T14:59:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/dampak-iklan-masa-lalu-persepsi-kental-manis-sebagai-susu-masih-melekat-di-masyarakat\/"},"modified":"2026-10-09T21:59:36","modified_gmt":"2026-10-09T14:59:36","slug":"dampak-iklan-masa-lalu-persepsi-kental-manis-sebagai-susu-masih-melekat-di-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/dampak-iklan-masa-lalu-persepsi-kental-manis-sebagai-susu-masih-melekat-di-masyarakat\/","title":{"rendered":"Dampak Iklan Masa Lalu, Persepsi Kental Manis sebagai Susu Masih Melekat di Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/09\/1791557842_c9882ece22c9f68056ce.jpg\" alt=\"Dampak Iklan Masa Lalu, Persepsi Kental Manis sebagai Susu Masih Melekat di Masyarakat\"\/><figcaption>Ilustrasi(MI\/HO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MASIH ingatkah kita akan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/iklan\" title=\"iklan\">iklan<\/a> di televisi yang menampilkan sebuah keluarga sedang sarapan bersama? Sang ayah sudah rapi dengan kemeja kerja, anak-anak berseragam siap berangkat sekolah, sementara sang ibu menuangkan minuman putih ke dalam gelas. Diiringi <i>jingle<\/i> yang mudah diingat, adegan sederhana itu seolah menggambarkan sebuah keluarga sehat yang memulai pagi dengan segelas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/susu\" title=\"susu\">susu<\/a>.<\/p>\n<p>Iklan semacam itu mungkin sudah jarang terlihat di layar kaca saat ini. Namun, gambaran tentang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kental-manis\" title=\"kental manis\">kental manis<\/a> yang disajikan sebagai minuman susu rupanya belum sepenuhnya hilang dari ingatan kolektif masyarakat. Bahkan, persepsi tersebut masih tercermin kuat dalam perilaku konsumsi hingga hari ini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3>Larangan BPOM dan Realita Konsumsi<\/h3>\n<p>Secara regulasi, penggunaan visual kental manis sebagai minuman susu, termasuk menampilkan anak-anak dalam konteks tersebut, telah dilarang melalui <b>Peraturan BPOM No. 20 Tahun 2021 tentang Label Pangan Olahan<\/b>. Namun, faktanya di lapangan masih terjadi kesalahan cara konsumsi, di mana kental manis kerap dijadikan minuman susu utama, terutama pada balita.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/914992\/tantangan-literasi-gizi-di-pringsewu-memilih-susu-bukan-sekadar-rasa\" title=\"Tantangan Literasi Gizi di Pringsewu: Memilih Susu bukan Sekadar Rasa\" target=\"_blank\">Tantangan Literasi Gizi di Pringsewu: Memilih Susu bukan Sekadar Rasa<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Data terbaru dari survei yang dilakukan Universitas Islam Bandung (Unisba) memperkuat temuan ini. Berikut adalah ringkasan data survei tersebut:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin-bottom: 20px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Indikator Survei<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Keterangan Data<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Lembaga Pelaksana<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Universitas Islam Bandung (Unisba)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Jumlah Responden<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">2.150 orang<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Responden Menggunakan Kental Manis sebagai Pengganti Susu<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\"><b>67,6 persen<\/b><\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Angka ini menunjukkan bahwa meski strategi pemasaran telah berubah mengikuti regulasi, persepsi bahwa kental manis dapat menggantikan susu masih melekat erat di sebagian besar masyarakat.<\/p>\n<h3>Kekuatan Strategi AIDA dalam Iklan<\/h3>\n<p>Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun, Fajar Junaedi, menilai fenomena ini membuktikan keberhasilan promosi kental manis di masa lalu dalam membangun kesadaran (<i>awareness<\/i>) hingga mendorong tindakan (<i>action<\/i>) audiens. Menurutnya, iklan kental manis yang sudah berlangsung puluhan tahun berhasil mengemas pesan dengan sangat baik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/910249\/676-persen-balita-masih-konsumsi-kental-manis-alarm-bagi-pemerintah\" title=\"67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, Alarm bagi Pemerintah?\" target=\"_blank\">67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, Alarm bagi Pemerintah?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cIklan adalah cara mengemas pesan kepada audiens untuk membangkitkan <i>awareness, interest, desire,<\/i> dan <i>action<\/i> (AIDA). AIDA ini akan berhasil ketika branding yang dikemas mengena ke benak audiens. Hal ini yang terjadi pada kental manis. Harus diakui iklan ini sukses membekas,\u201d ujar Fajar.<\/p>\n<p>Fajar menambahkan, kuatnya ingatan masyarakat tidak terlepas dari kemampuan pesan tersebut berhubungan dengan pengalaman sehari-hari audiens. Secara historis, kental manis berkembang pada awal abad ke-19 sebagai solusi atas masalah susu yang mudah basi sebelum adanya teknologi pendingin. Seiring waktu, produk ini berhasil mempersepsikan diri sebagai &#8220;susu keluarga&#8221; yang sehat melalui <i>tagline<\/i> dan <i>call to action<\/i> yang relevan dengan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<h3>Tantangan Edukasi bagi Kader Kesehatan<\/h3>\n<p>Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi penyuluh kesehatan, termasuk kader Aisyiyah. Saat ini, Majelis Kesehatan (Makes) PP Aisyiyah bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) tengah memberikan pelatihan kepada para kader agar mampu menjadi <i>health influencer<\/i>.<\/p>\n<p>Fajar menekankan bahwa dalam meluruskan persepsi yang salah, kader Aisyiyah tidak cukup hanya menyampaikan informasi yang benar secara medis. Mereka harus mampu mengemas konten edukasi dengan pendekatan komunikasi yang menarik agar pesan tersebut bisa bersaing dengan memori iklan masa lalu yang sudah melekat.<\/p>\n<p>\u201cTantangannya adalah kuatnya pesan iklan ini membekas di audiens. Untuk meluruskannya, kader harus bisa mengemas edukasi dengan cara yang menarik. <i>Tagline<\/i> dan <i>call to action<\/i> yang kuat perlu dipertimbangkan untuk meluruskan persepsi salah tentang kental manis,\u201d pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/942690\/dampak-iklan-masa-lalu-persepsi-kental-manis-sebagai-susu-masih-melekat-di-masyarakat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(MI\/HO) MASIH ingatkah kita akan iklan di televisi yang menampilkan sebuah keluarga sedang sarapan bersama? Sang ayah sudah rapi dengan kemeja kerja, anak-anak berseragam siap berangkat sekolah, sementara sang ibu menuangkan minuman putih ke dalam gelas. Diiringi jingle yang mudah diingat, adegan sederhana itu seolah menggambarkan sebuah keluarga sehat yang memulai pagi dengan segelas susu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":116357,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-116356","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116356","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116356"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116356\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116357"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116356"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116356"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116356"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}