{"id":116318,"date":"2026-10-09T20:19:39","date_gmt":"2026-10-09T13:19:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/proses-pemakzulan-gibran-bakal-berliku-denny-indrayana-ibarat-lawan-taktik-catenaccio\/"},"modified":"2026-10-09T20:19:39","modified_gmt":"2026-10-09T13:19:39","slug":"proses-pemakzulan-gibran-bakal-berliku-denny-indrayana-ibarat-lawan-taktik-catenaccio","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/proses-pemakzulan-gibran-bakal-berliku-denny-indrayana-ibarat-lawan-taktik-catenaccio\/","title":{"rendered":"Proses Pemakzulan Gibran bakal Berliku, Denny Indrayana Ibarat Lawan Taktik Catenaccio"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/09\/1791551368_4a53f42ba0512f5ce52d.jpeg\" alt=\"Proses Pemakzulan Gibran bakal Berliku, Denny Indrayana: Ibarat Lawan Taktik Catenaccio\"\/><figcaption>Denny Indrayana (kedua dari kanan).(MI\/Rahmatul Fajri)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MANTAN Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/denny-indrayana\" title=\"Denny Indrayana\">Denny Indrayana<\/a>, menyebut proses <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pemakzulan-gibran\" title=\"Pemakzulan Gibran\">pemakzulan Gibran<\/a> Rakabuming Raka dari kursi wakil presiden setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bakal menemui jalan yang berliku dan proses yang alot.<\/p>\n<p>Denny menilai MK sebetulnya memiliki peluang untuk mengambil tindakan hukum progresif atau <em>judicial activism<\/em> dengan langsung mendiskualifikasi Gibran dari jabatannya. Ia menguraikan tiga poin utama dalam membaca Putusan MK Nomor 01\/PHPU.PRES-XXIV\/2026. Pertama, MK secara eksplisit menyatakan tidak ditemukannya ijazah setara SMA milik Gibran.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Kedua, hal tersebut membuktikan Gibran tidak memenuhi syarat sebagai wakil presiden berdasarkan Pasal 169 huruf r dan Pasal 227 huruf l Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Ketiga, MK secara tersirat mendorong agar proses hukum dilanjutkan oleh lembaga negara lain, yakni DPR dan MPR RI melalui mekanisme pemakzulan (<em>impeachment<\/em>).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/942597\/denny-indrayana-minta-presiden-bersikap-soal-putusan-mk-terkait-ijazah-gibran\" title=\"Denny Indrayana Minta Presiden Bersikap soal Putusan MK Terkait Ijazah Gibran\" target=\"_blank\">Denny Indrayana Minta Presiden Bersikap soal Putusan MK Terkait Ijazah Gibran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, MK memilih tidak mengambil keptuudan diskualifikasi tersebut. Ia mengatakan upaya pemberhentian Gibran kini harus menempuh mekanisme politik di parlemen yang dinilainya akan menghadapi benteng pertahanan politik yang sangat ketat.<\/p>\n<p>&#8220;Sebenarnya kalau kita ingin melakukan langkah-langkah pemberhentian Gibran, maka peluang cepat dan peluang mudahnya kemarin itu adalah melalui Mahkamah. Jalur cepat, jalur tol kemarin sebenarnya ada di Mahkamah. Sayangnya Mahkamah tidak mengambil itu, padahal tinggal ambil saja pendekatan hukum progresif, <em>judicial activism<\/em>,&#8221; ujar Denny ketika konferensi pers di Jakarta, Jumat (9\/10).<\/p>\n<p>Denny meyakini mayoritas partai politik di parlemen pada dasarnya tidak menyetujui posisi Gibran sebagai wakil presiden. Menurutnya, dukungan politik terbuka yang diberikan selama ini lebih didasari oleh faktor pengaruh ayah Gibran, Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang berada di balik layar.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/931920\/hasil-pilpres-2024-digugat-ke-mk-tuntutan-diskualifikasi-gibran\" title=\"Hasil Pilpres 2024 Digugat ke MK, Tuntutan: Diskualifikasi Gibran\" target=\"_blank\">Hasil Pilpres 2024 Digugat ke MK, Tuntutan: Diskualifikasi Gibran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Saya <em>hakul yakin <\/em>banyak partai politik yang tidak berkenan dengan Wapres Gibran. Satu-satunya partai yang memang mendukung Gibran ya hanya PSI, yang lain itu dalam hatinya sebenarnya <em>no Gibran bin Jokowi<\/em>. Kenapa? Karena Gibran ini sebenarnya bukan dia sendiri, tapi di belakangnya itulah faktor Jokowi yang menyebabkan dia bisa menjadi wakil presiden,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Dengan beralihnya penanganan kasus ini ke DPR, Pakar Hukum Tata Negara ini mengingatkan bahwa proses politik menuju pemakzulan di DPR dan MPR akan menghadapi tantangan berat dan barikade politik yang sangat kuat dari partai-partai koalisi pendukung pemerintah. Ia bahkan mengibaratkan proses pemakzulan seperti permainan sepak bola ketika ada kubu yang bertahan total agar tidak kebobolan.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi kita mesti paham, ketika Mahkamah Konstitusi tidak mengambil jalur tol untuk mendiskualifikasi Gibran, jalur yuridis yang sebenarnya konstitusional maka kita akan melewati jalur yang berliku, penuh tajam pendakian, macet. Kalau sepak bola ini benteng pertahanannya <em>catenaccio<\/em>, parkir busnya itu banyak dan sulit untuk bikin gol,&#8221; pungkas Denny. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/942657\/proses-pemakzulan-gibran-bakal-berliku-denny-indrayana-ibarat-lawan-taktik-catenaccio\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Denny Indrayana (kedua dari kanan).(MI\/Rahmatul Fajri) MANTAN Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), Denny Indrayana, menyebut proses pemakzulan Gibran Rakabuming Raka dari kursi wakil presiden setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bakal menemui jalan yang berliku dan proses yang alot. Denny menilai MK sebetulnya memiliki peluang untuk mengambil tindakan hukum progresif atau judicial [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":116319,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-116318","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116318","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116318"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116318\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}