{"id":116139,"date":"2026-10-09T12:34:42","date_gmt":"2026-10-09T05:34:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/kritik-dibalas-pembatasan-sosiolog-ugm-peringatkan-bahaya-kelumpuhan-demokrasi\/"},"modified":"2026-10-09T12:34:42","modified_gmt":"2026-10-09T05:34:42","slug":"kritik-dibalas-pembatasan-sosiolog-ugm-peringatkan-bahaya-kelumpuhan-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/09\/kritik-dibalas-pembatasan-sosiolog-ugm-peringatkan-bahaya-kelumpuhan-demokrasi\/","title":{"rendered":"Kritik Dibalas Pembatasan, Sosiolog UGM Peringatkan Bahaya Kelumpuhan Demokrasi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/09\/1791523724_7c93ababdb4da6f4d6a8.jpg\" alt=\"Kritik Dibalas Pembatasan, Sosiolog UGM Peringatkan Bahaya Kelumpuhan Demokrasi\"\/><figcaption>Ilustrasi .(MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SOSIOLOG Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai kehidupan demokrasi di Indonesia tengah mengalami kemunduran signifikan. Hal itu dipicu oleh melemahnya fungsi pengawasan (checks and balances) parlemen serta kian menyempitnya ruang kritik bagi masyarakat sipil.<\/p>\n<p>Arie menegaskan, kualitas demokrasi tidak sebatas diukur dari penyelenggaraan pemilu sebagai sarana pergantian kekuasaan. Keberadaan fungsi pengawasan, ruang kritik, dan partisipasi publik menjadi elemen vital yang menentukan kesehatan demokrasi di antara periode pemilu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Ketika mekanisme tersebut melemah, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan antarlembaga negara, tetapi menyangkut kepercayaan publik terhadap demokrasi,&#8221; ungkap Arie dalam siaran pers, Jumat (9\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/939389\/pancasila-disebut-hanya-hidup-di-pidato\" title=\"Pancasila Disebut Hanya Hidup di Pidato\" target=\"_blank\">Pancasila Disebut Hanya Hidup di Pidato<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menyoroti kelumpuhan mekanisme checks and balances dalam tata kelola pemerintahan saat ini. Menurutnya, DPR memiliki mandat konstitusional untuk mengawasi eksekutif sekaligus mengartikulasikan aspirasi rakyat melalui fungsi representasi dan kontrol.<\/p>\n<p>Ketika parlemen gagal menjalankan peran tersebut secara efektif, publik kehilangan saluran resmi untuk menguji dan mengoreksi kebijakan pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cDemokrasi di Indonesia itu semakin menurun, merosot dan stres. Ini tercermin dari checks and balances kita enggak jalan,\u201d tegas Arie.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/926378\/mui-imbau-masyarakat-kedepankan-etika-dan-kesantunan-dalam-menyampaikan-kritik\" title=\"MUI Imbau Masyarakat Kedepankan Etika dan Kesantunan dalam Menyampaikan Kritik\" target=\"_blank\">MUI Imbau Masyarakat Kedepankan Etika dan Kesantunan dalam Menyampaikan Kritik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kondisi ini berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perwakilan. Pasalnya, publik membutuhkan kehadiran parlemen saat timbul persoalan akibat kebijakan atau tindakan pemerintah.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau parlemen ini tidak punya fungsi secara efektif dalam mengimbangi jalannya kekuasaan, maka jangan salahkan jika masyarakat makin tidak percaya pada parlemen,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p><strong>SUMBATAN INFORMASI KE PRESIDEN<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nSelain persoalan pengawasan di parlemen, Arie juga menyoroti jarak antara realitas sosial-ekonomi di masyarakat dan jajaran pemerintahan. Ia mempertanyakan efektivitas penyampaian aspirasi publik kepada Presiden.<\/p>\n<p>Ia mengkhawatirkan disinformasi atau ketidakutuhan informasi yang diterima Kepala Negara dapat menghasilkan kebijakan yang tidak responsif terhadap ketimpangan di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cSaya khawatir cerita realitas itu tidak sampai ke presiden. Atau bisa jadi memang tidak punya sensitifitas soal itu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, suara kritis dari luar lingkaran kekuasaan\u2014seperti mahasiswa, akademisi, jurnalis, dan organisasi masyarakat sipil\u2014menjadi krusial untuk menyampaikan realitas obyektif sekaligus menawarkan perspektif alternatif.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan pemerintah agar tidak memposisikan kelompok kritis sebagai pihak oposisional yang harus dimusuhi.<\/p>\n<p>\u201cJangan musuhi anak-anak muda, jangan musuhi pakar. Jangan musuhi para mahasiswa karena mereka menyuarakan kritik,\u201d kata Arie.<\/p>\n<p><strong>HENTIKAN KRIMINALISASI<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nArie menyesalkan respons pemerintah yang kerap membatasi ruang publik hingga menimbulkan keengganan masyarakat dalam menyampaikan pendapat. Tindakan semacam itu dinilai mempersempit ruang dialog yang diperlukan untuk mengoreksi kebijakan publik.<\/p>\n<p>&#8220;Kritik seharusnya menjadi bagian dari proses evaluasi, terutama ketika kebijakan yang dibuat pemerintah menimbulkan dampak yang dirasakan langsung masyarakat,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, pembatasan dan intimidasi hanya akan memperburuk situasi serta memperluas ketidakpercayaan publik terhadap instansi negara. Kepercayaan publik hanya dapat dibangun jika pemerintah mampu membuktikan bahwa masukan masyarakat diakomodasi dalam perbaikan kebijakan.<\/p>\n<p>\u201cBangun kepercayaan itu dengan menunjukkan bahwa kritik itu didengarkan dan bisa untuk membuat alasan pemerintah terbaik,\u201d tegas Arie.<\/p>\n<p>Di sisi lain, perbandingan peran perguruan tinggi juga menjadi sorotan. Civitas akademika memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memproduksi pengetahuan demi kemaslahatan publik, termasuk bersikap kritis terhadap jalannya pemerintahan.<\/p>\n<p>\u201cTugas para intelektual itu harus berpikir kritis, mengingatkan keadaan supaya Indonesia ini semakin berkembang,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Arie menegaskan bahwa kritik bukan sarana untuk menjatuhkan kekuasaan, melainkan instrumen mitigasi agar pemerintah tidak terjebak dalam krisis yang lebih besar. &#8220;Jangan alergi pada kritik karena bangsa ini bisa besar juga karena kritik,\u201d pungkasnya. (AT\/P-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/942454\/kritik-dibalas-pembatasan-sosiolog-ugm-peringatkan-bahaya-kelumpuhan-demokrasi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi .(MI) SOSIOLOG Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai kehidupan demokrasi di Indonesia tengah mengalami kemunduran signifikan. Hal itu dipicu oleh melemahnya fungsi pengawasan (checks and balances) parlemen serta kian menyempitnya ruang kritik bagi masyarakat sipil. Arie menegaskan, kualitas demokrasi tidak sebatas diukur dari penyelenggaraan pemilu sebagai sarana pergantian kekuasaan. Keberadaan fungsi pengawasan, ruang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":116140,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-116139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116139"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116139\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}