{"id":115618,"date":"2026-10-08T13:01:39","date_gmt":"2026-10-08T06:01:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/08\/bagaimana-astronom-mengukur-risiko-asteroid-menabrak-bumi-ini-penjelasannya\/"},"modified":"2026-10-08T13:01:39","modified_gmt":"2026-10-08T06:01:39","slug":"bagaimana-astronom-mengukur-risiko-asteroid-menabrak-bumi-ini-penjelasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/08\/bagaimana-astronom-mengukur-risiko-asteroid-menabrak-bumi-ini-penjelasannya\/","title":{"rendered":"Bagaimana Astronom Mengukur Risiko Asteroid Menabrak Bumi Ini Penjelasannya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/08\/1791438472_dca5f044b357d631ce0b.jpeg\" alt=\"Bagaimana Astronom Mengukur Risiko Asteroid Menabrak Bumi? Ini Penjelasannya\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>ASTEROID merupakan benda langit yang terus bergerak mengelilingi Matahari. Sebagian memiliki orbit yang dapat membawa mereka mendekati lintasan Bumi. Kondisi tersebut membuat astronom perlu terus mengamati asteroid tertentu untuk mengetahui apakah benda langit tersebut berpotensi menimbulkan ancaman bagi Bumi.<\/p>\n<p>Meski terdengar mengkhawatirkan, kemunculan sebuah asteroid dalam daftar pemantauan risiko tidak berarti benda tersebut pasti akan menabrak Bumi. <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nasa\" title=\"NASA\">NASA<\/a> menjelaskan asteroid yang baru ditemukan biasanya memiliki ketidakpastian orbit yang lebih besar karena jumlah pengamatan masih terbatas. Seiring bertambahnya data, perhitungan orbit dapat menjadi semakin akurat dan kemungkinan tabrakan dapat berubah atau bahkan menjadi nol.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Lantas, bagaimana astronom menghitung risiko tersebut?<\/h2>\n<h3>1. Mengumpulkan posisi asteroid<\/h3>\n<p>Langkah awal dilakukan dengan mengamati asteroid menggunakan teleskop. Astronom mencatat posisi benda tersebut di langit pada waktu yang berbeda. Data pengamatan kemudian digunakan untuk menentukan orbit asteroid mengelilingi Matahari.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/942041\/potret-memukau-sistem-saturnus-meningkatnya-kejernihan-dari-bumi-dengan-teknik-lucky-imaging\" title=\"Potret Memukau Sistem Saturnus: Meningkatnya Kejernihan Dari Bumi Dengan Teknik Lucky Imaging\" target=\"_blank\">Potret Memukau Sistem Saturnus: Meningkatnya Kejernihan Dari Bumi Dengan Teknik Lucky Imaging<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut NASA&#8217;s Center for Near-Earth Object Studies (CNEOS), orbit dihitung dengan mencari lintasan elips yang paling sesuai dengan seluruh hasil pengamatan. Semakin banyak pengamatan yang tersedia, semakin baik astronom dapat mengetahui posisi asteroid pada masa mendatang.\u00a0<\/p>\n<h3>2. Menghitung kemungkinan lintasan<\/h3>\n<p>Astronom tidak hanya menghitung satu kemungkinan lintasan. Karena selalu ada ketidakpastian dalam hasil pengukuran, terdapat sejumlah kemungkinan orbit yang masih sesuai dengan data.<\/p>\n<p>NASA menggunakan sistem pemantauan bernama Sentry untuk menganalisis kemungkinan asteroid mendekati atau bertabrakan dengan Bumi. Sistem tersebut dapat memproyeksikan pergerakan asteroid hingga 100 tahun ke depan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/942004\/nasa-dan-spacex-siap-luncurkan-misi-resplai-ke-35-ke-stasiun-luar-angkasa\" title=\"NASA dan SpaceX Siap Luncurkan Misi Resplai ke-35 ke Stasiun Luar Angkasa\" target=\"_blank\">NASA dan SpaceX Siap Luncurkan Misi Resplai ke-35 ke Stasiun Luar Angkasa<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>3. Menggunakan \u201casteroid virtual\u201d<\/h3>\n<p>Untuk mengetahui kemungkinan tabrakan, sistem dapat membuat banyak kemungkinan versi asteroid atau yang disebut virtual asteroids. Masing-masing memiliki sedikit perbedaan pada parameter orbit, tetapi masih sesuai dengan data pengamatan.<\/p>\n<p>Kemungkinan lintasan tersebut kemudian dihitung ke masa depan. Jika salah satu kemungkinan lintasan dapat bertemu dengan Bumi, astronom akan melakukan analisis lebih lanjut untuk memperkirakan probabilitas terjadinya tumbukan.\u00a0<\/p>\n<h3>4. Menghitung probabilitas tumbukan<\/h3>\n<p>Hasil pengamatan kemudian digunakan untuk menentukan seberapa besar kemungkinan asteroid bertabrakan dengan Bumi. Angka tersebut dapat berubah ketika data baru diperoleh.<\/p>\n<p>Karena itu, sebuah asteroid yang awalnya memiliki kemungkinan tumbukan tertentu belum tentu mempertahankan angka tersebut. NASA menjelaskan bahwa prediksi awal dapat terlihat lebih mengkhawatirkan karena ketidakpastian orbit masih besar. Pengamatan tambahan biasanya membantu mempersempit kemungkinan lintasan.\u00a0<\/p>\n<h3>5. Menggunakan skala risiko<\/h3>\n<p>Astronom juga memiliki sistem untuk mengomunikasikan tingkat bahaya. Salah satunya adalah Torino Impact Hazard Scale, yang menggunakan skala 0 hingga 10. Skala tersebut mempertimbangkan kemungkinan tumbukan dan dampak yang dapat ditimbulkan.<\/p>\n<p>Skala 0 berarti kemungkinan tumbukan sangat rendah atau tidak menimbulkan bahaya yang perlu diperhatikan. Sementara itu, angka yang lebih tinggi menunjukkan tingkat ancaman yang semakin serius.\u00a0<\/p>\n<p>Selain Torino Scale, para ahli menggunakan Palermo Technical Impact Hazard Scale untuk analisis yang lebih teknis. Skala ini membandingkan risiko suatu asteroid dengan risiko latar belakang dari objek lain dan mempertimbangkan faktor seperti probabilitas tumbukan, energi tumbukan, serta waktu hingga kemungkinan kejadian.\u00a0<\/p>\n<h2>Pemantauan Terus Dilakukan<\/h2>\n<p>Pemantauan asteroid tidak berhenti setelah perhitungan pertama. NASA dan lembaga antariksa lainnya terus memperbarui data orbit ketika pengamatan baru tersedia.<\/p>\n<p>Contohnya, ESA memiliki Risk List yang berisi objek-objek dengan kemungkinan tumbukan non-nol berdasarkan perhitungan saat ini. Daftar tersebut terus diperbarui karena data orbit dan probabilitas dapat berubah seiring bertambahnya pengamatan.\u00a0<\/p>\n<p>Dengan demikian, keberadaan asteroid dalam daftar pemantauan risiko tidak selalu berarti Bumi berada dalam bahaya. Justru, pemantauan tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan planet untuk mendeteksi potensi ancaman sedini mungkin dan memberikan waktu bagi astronom untuk memperbaiki perhitungan. (NASA\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/942043\/bagaimana-astronom-mengukur-risiko-asteroid-menabrak-bumi-ini-penjelasannya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) ASTEROID merupakan benda langit yang terus bergerak mengelilingi Matahari. Sebagian memiliki orbit yang dapat membawa mereka mendekati lintasan Bumi. Kondisi tersebut membuat astronom perlu terus mengamati asteroid tertentu untuk mengetahui apakah benda langit tersebut berpotensi menimbulkan ancaman bagi Bumi. Meski terdengar mengkhawatirkan, kemunculan sebuah asteroid dalam daftar pemantauan risiko tidak berarti benda tersebut pasti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":115619,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-115618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115619"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}