{"id":115266,"date":"2026-10-07T21:51:45","date_gmt":"2026-10-07T14:51:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/karhutla-di-jawa-timur-hanguskan-9-540-hektar-lahan-di-25-daerah\/"},"modified":"2026-10-07T21:51:45","modified_gmt":"2026-10-07T14:51:45","slug":"karhutla-di-jawa-timur-hanguskan-9-540-hektar-lahan-di-25-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/karhutla-di-jawa-timur-hanguskan-9-540-hektar-lahan-di-25-daerah\/","title":{"rendered":"Karhutla di Jawa Timur Hanguskan 9.540 Hektar Lahan di 25 Daerah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/07\/1791384415_1bed382f3dfa3bfaf453.jpg\" alt=\"Karhutla di Jawa Timur Hanguskan 9.540 Hektar Lahan di 25 Daerah\"\/><figcaption>Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan proses pendinginan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (13\/9\/2026).(ANTARA\/IRFAN SUMANJAYA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEBAKARAN hutan dan lahan (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/karhutla\" title=\"karhutla\">karhutla<\/a>) masih menjadi ancaman serius di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 150 kejadian kebakaran hutan dan lahan skala besar yang tersebar di 25 daerah di Jawa Timur, dengan total luas lahan yang hangus mencapai 9.540 hektar.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bpbd-jawa-timur\" title=\"BPBD Jawa Timur\">BPBD Jawa Timur<\/a>, Satriyo Nurseno, menjelaskan bahwa kondisi musim kemarau yang berkepanjangan menjadi faktor utama yang memperburuk situasi. Suhu panas yang ekstrem menyebabkan vegetasi mengering, sehingga memicu api untuk lebih cepat membesar dan merambat.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cMusim kemarau menjadi salah satu kondisi yang memperbesar risiko kebakaran. Suhu panas membuat vegetasi mengering sehingga api lebih cepat membesar,\u201d ujar Satriyo di Surabaya, Rabu (7\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/939691\/bpbd-jatim-catat-9269-hektare-lahan-terbakar-di-25-daerah-selama-kemarau-2026\" title=\"BPBD Jatim Catat 9.269 Hektare Lahan Terbakar di 25 Daerah selama Kemarau 2026\" target=\"_blank\">BPBD Jatim Catat 9.269 Hektare Lahan Terbakar di 25 Daerah selama Kemarau 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Pemicu Kebakaran dan Kendala Lapangan<\/h2>\n<p>Selain faktor alam, Satriyo menyebutkan bahwa aktivitas manusia diduga kuat menjadi pemicu munculnya sejumlah titik api. Kelalaian seperti pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga pembuangan puntung rokok sembarangan di area kering menjadi penyebab yang sering ditemukan.<\/p>\n<p>Petugas di lapangan juga menghadapi tantangan berat dalam proses pemadaman. Kombinasi antara angin kencang dan medan yang ekstrem seringkali menghambat akses personel menuju titik api secara langsung.<\/p>\n<p>&#8220;Ada api di lahan kering dan angin kencang. Lalu ditambah lagi dengan medan ekstrem yang membuat kami (petugas) sulit ke titik lokasi dengan dekat. Akibatnya api pun cepat membesar dan merembet ke titik lainnya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/934173\/musim-kemarau-2026-14-gunung-di-jawa-timur-terbakar-bromo-dan-argopuro-terparah\" title=\"Musim Kemarau 2026: 14 Gunung di Jawa Timur Terbakar, Bromo dan Argopuro Terparah\" target=\"_blank\">Musim Kemarau 2026: 14 Gunung di Jawa Timur Terbakar, Bromo dan Argopuro Terparah<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Langkah Penanganan dan Pemantauan<\/h2>\n<p>Menyikapi luasnya lahan yang terbakar, BPBD Jawa Timur kini memperketat pemantauan di kawasan-kawasan rawan karhutla. Strategi pengawasan dilakukan secara ganda, yakni melalui patroli darat dan pemantauan titik panas (hotspot) secara real-time menggunakan satelit Sipongi.<\/p>\n<p>Sebagai langkah antisipasi untuk lokasi yang sulit dijangkau jalur darat, skema pemadaman melalui udara atau <i>water bombing<\/i> telah disiapkan. Selain itu, BPBD Jatim tengah berkoordinasi untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).<\/p>\n<p>\u201cPemantauan berkala, baik melalui patroli darat maupun pantauan satelit Sipongi, terus diperketat untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api susulan,\u201d pungkas Satriyo. Pihaknya berharap OMC dapat segera memicu turunnya hujan untuk membantu menekan potensi kebakaran lebih lanjut di wilayah Jawa Timur. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/941853\/karhutla-di-jawa-timur-hanguskan-9540-hektar-lahan-di-25-daerah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan proses pendinginan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (13\/9\/2026).(ANTARA\/IRFAN SUMANJAYA) KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 150 kejadian kebakaran hutan dan lahan skala besar yang tersebar di 25 daerah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":115267,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-115266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115266"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115266\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}