{"id":115064,"date":"2026-10-07T13:05:43","date_gmt":"2026-10-07T06:05:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/terdesak-aktivitas-manusia-burung-monal-himalaya-terpaksa-pindah-habitat-dan-ubah-suara\/"},"modified":"2026-10-07T13:05:43","modified_gmt":"2026-10-07T06:05:43","slug":"terdesak-aktivitas-manusia-burung-monal-himalaya-terpaksa-pindah-habitat-dan-ubah-suara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/terdesak-aktivitas-manusia-burung-monal-himalaya-terpaksa-pindah-habitat-dan-ubah-suara\/","title":{"rendered":"Terdesak Aktivitas Manusia, Burung Monal Himalaya Terpaksa Pindah Habitat dan Ubah Suara"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/07\/1791333970_580eda938a3bc93a92d8.jpg\" alt=\"Terdesak Aktivitas Manusia, Burung Monal Himalaya Terpaksa Pindah Habitat dan Ubah Suara\"\/><figcaption>Burung monal Himalaya jantan memamerkan bulunya yang berkilauan selama ritual pacaran yang bertujuan untuk menarik perhatian betina.(Rajeev Lochan)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENINGKATAN pesat aktivitas manusia serta ekspansi infrastruktur di kawasan Pegunungan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/himalaya\" title=\"himalaya\">Himalaya<\/a> berdampak serius terhadap pola hidup dan cara berkomunikasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/burung-monal\" title=\"Burung Monal\">burung monal<\/a>. Dua penelitian terbaru yang dilakukan para peneliti India selama lima tahun mengungkapkan burung khas Himalaya ini terdesak hingga ke area yang lebih tinggi serta mengubah nada suaranya akibat kebisingan.<\/p>\n<p>Burung monal, dengan pejantan yang memiliki bulu mencolok berwarna hijau, biru, dan tembaga, merupakan burung resmi Negara Bagian Uttarakhand di India sekaligus burung nasional Nepal. Spesies ini memiliki ikatan kuat dengan kebudayaan dan identitas masyarakat di kawasan Himalaya.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Peneliti utama kedua studi tersebut, Dr. Rajeev Lochan, menjelaskan burung monal dipilih karena memiliki jangkauan habitat yang terbatas. Burung ini berpindah secara musiman antara zona pegunungan bawah dan zona alpin berelidasi tinggi, sehingga menjadi indikator kunci kesehatan ekosistem di Himalaya barat laut.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/938241\/2-tewas-dan-belasan-hilang-usai-longsor-salju-terjang-base-camp-puncak-himlung-himal-nepal\" title=\"2 Tewas dan Belasan Hilang usai Longsor Salju Terjang Base Camp Puncak Himlung Himal Nepal\" target=\"_blank\">2 Tewas dan Belasan Hilang usai Longsor Salju Terjang Base Camp Puncak Himlung Himal Nepal<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Jika spesies ini menghadapi masalah di lanskap tertentu, ada kemungkinan gangguan ekologis tersebut juga memengaruhi burung-burung lainnya,&#8221; kata Lochan.<\/p>\n<h2>Terdesak ke Puncak Gunung dan Resiko Kepunahan<\/h2>\n<p>Studi pertama memetakan bagaimana perubahan iklim dan perambahan habitat memengaruhi pergerakan burung monal di wilayah Uttarakhand dan Himachal Pradesh. Penelitian ini memanfaatkan model iklim global serta skenario emisi yang digunakan Badan PBB untuk Perubahan Iklim (IPCC).<\/p>\n<p>Aktivitas pariwisata yang tidak terkontrol serta pembangunan infrastruktur yang masif dalam dekade terakhir telah menyempitkan habitat alami burung monal di padang rumput alpin. Kondisi ini diperparah oleh mencairnya salju akibat perubahan iklim, yang memaksa burung-burung tersebut bergeser ke area yang lebih tinggi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/928923\/banjir-bandang-nepal-jadi-peringatan-bagi-negara-negara-kawasan-himalaya\" title=\"Banjir Bandang Nepal Jadi Peringatan bagi Negara-Negara Kawasan Himalaya\" target=\"_blank\">Banjir Bandang Nepal Jadi Peringatan bagi Negara-Negara Kawasan Himalaya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Burung-burung ini sekarang perlahan-lahan bergerak ke atas di Himalaya seiring mencairnya salju dan tumbuhnya vegetasi, membuat area tersebut dapat diakses oleh mereka. Lagipula mereka memang terdorong ke atas karena habitat alami mereka di padang rumput alpin dirambah oleh manusia,&#8221; ujar Lochan.<\/p>\n<p>Perpindahan ke elevasi yang lebih tinggi berisiko memecah populasi burung monal ke dalam kantong-kantong wilayah yang terisolasi. Kondisi ini menyulitkan proses perkembangbiakan antarkelompok, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko penurunan populasi hingga kepunahan lokal. Model penelitian memproyeksikan bahwa habitat burung monal akan terus menyusut dan tidak stabil hingga tahun 2100.<\/p>\n<h2>Mengubah Frekuensi Suara Akibat Kebisingan<\/h2>\n<p>Studi kedua yang dilakukan oleh Lochan bersama Dinesh Kumar Sharma dan Anand Kumar dari Universitas Hemvati Nandan Bahuguna Garhwal berfokus pada perubahan perilaku burung monal. Peneliti membandingkan komunikasi burung monal di dua lembah di Suaka Margasatwa Kedarnath Musk Deer, yakni Chopta yang ramai wisatawan dan lalu lintas, serta Madmaheshwar yang cenderung tenang.<\/p>\n<p>Melalui perekaman lebih dari 700 panggilan suara sejak April 2023, peneliti menemukan bahwa burung monal di area bising secara konsisten menghasilkan suara dengan frekuensi puncak yang lebih tinggi dan durasi panggilan yang lebih pendek. Langkah ini dilakukan agar suara mereka dapat menembus kebisingan lalu lintas serta wisatawan.<\/p>\n<p>&#8220;Ini tidak berarti bahwa spesies tersebut telah mengalami perubahan permanen atau evolusioner dalam frekuensi vokalnya; melainkan, temuan kami menunjukkan fleksibilitas perilaku dalam merespons lingkungan akustik yang berbeda,&#8221; jelas Lochan.<\/p>\n<p>Perubahan frekuensi suara ini menjadi perhatian karena panggilan suara merupakan sarana komunikasi vital bagi burung, termasuk dalam menentukan keberhasilan proses perkawinan.<\/p>\n<p>Praktisi lingkungan Vishal Singh serta Profesor Kebijakan Publik dari FLAME University, Anjal Prakash, menilai temuan ini sebagai peringatan penting atas tekanan ekologis yang dialami wilayah Himalaya.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika suatu spesies harus menaikkan nada suaranya agar terdengar di tengah lalu lintas wisatawan, atau mendaki lebih tinggi karena padang rumput semakin padat, ini memperlihatkan bagaimana tekanan manusia menulis ulang aturan kehidupan di Himalaya,&#8221; kata Prakash. (BBC\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/941516\/terdesak-aktivitas-manusia-burung-monal-himalaya-terpaksa-pindah-habitat-dan-ubah-suara\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Burung monal Himalaya jantan memamerkan bulunya yang berkilauan selama ritual pacaran yang bertujuan untuk menarik perhatian betina.(Rajeev Lochan) PENINGKATAN pesat aktivitas manusia serta ekspansi infrastruktur di kawasan Pegunungan Himalaya berdampak serius terhadap pola hidup dan cara berkomunikasi burung monal. Dua penelitian terbaru yang dilakukan para peneliti India selama lima tahun mengungkapkan burung khas Himalaya ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":115065,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-115064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115064\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}