{"id":115022,"date":"2026-10-07T11:17:42","date_gmt":"2026-10-07T04:17:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/citra-satelit-ungkap-dua-kantong-magma-aktif-di-bawah-gunung-berapi-masaya\/"},"modified":"2026-10-07T11:17:42","modified_gmt":"2026-10-07T04:17:42","slug":"citra-satelit-ungkap-dua-kantong-magma-aktif-di-bawah-gunung-berapi-masaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/citra-satelit-ungkap-dua-kantong-magma-aktif-di-bawah-gunung-berapi-masaya\/","title":{"rendered":"Citra Satelit Ungkap Dua Kantong Magma Aktif di Bawah Gunung Berapi Masaya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/07\/1791325501_b5aa9d3a30ab95875401.jpg\" alt=\"Citra Satelit Ungkap Dua Kantong Magma Aktif di Bawah Gunung Berapi Masaya\"\/><figcaption>Pengamatan satelit mengungkap keberadaan dua kantong magma aktif di bawah Gunung Berapi Masaya, Nikaragua.(next adventure nicaragua)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gunung-berapi-masaya\" title=\"Gunung Berapi Masaya\">GUNUNG Berapi Masaya<\/a> berdiri sekitar 20 kilometer di sebelah tenggara Managua, ibu kota <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nikaragua\" title=\"Nikaragua\">Nikaragua<\/a>. Sekitar dua juta orang tinggal dalam radius tersebut, sementara kaldera gunung ini menjadi kawasan taman nasional yang menarik wisatawan untuk melihat langsung kawah yang pernah menampung danau lava.<\/p>\n<p>Pengukuran satelit terbaru menunjukkan bahwa dua kolam magma terpisah sedang aktif di bawah gunung berapi tersebut. Satu <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kantong-magma\" title=\"kantong magma\">kantong magma<\/a> berada di kedalaman sekitar 3,2 kilometer dan tampak sedang terisi kembali, sementara kantong lainnya terletak hanya beberapa ratus meter di bawah kawah aktif dan perlahan-lahan mengering.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Penelitian ini dipimpin Lizzie Johnson, yang meraih gelar sarjana ilmu kebumian di Penn State pada Mei lalu, bersama Young Cheol Kim dan profesor ilmu kebumian Christelle Wauthier.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/754889\/pemerintahan-trump-akhiri-status-hukum-500000-migran-dari-kuba-haiti-nikaragua-dan-venezuela\" title=\"Pemerintahan Trump Akhiri Status Hukum 500.000 Migran dari Kuba, Haiti, Nikaragua, dan Venezuela\" target=\"_blank\">Pemerintahan Trump Akhiri Status Hukum 500.000 Migran dari Kuba, Haiti, Nikaragua, dan Venezuela<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Pengamatan ini membantu para ilmuwan memahami dengan lebih baik bagaimana magma bergerak di bawah Masaya dan dapat meningkatkan pemantauan serta prakiraan erupsi di masa depan,&#8221; kata Johnson.<\/p>\n<p>Masaya merupakan gunung berapi perisai basaltik dengan serangkaian kerucut dan kawah. Lubang aktifnya berada di kawah Santiago, yang sempat menampung danau lava sejak Desember 2015 hingga tanah longsor menutupinya pada Maret 2024.<\/p>\n<p>Di masa lalu, Masaya menghasilkan sedikitnya empat letusan eksplosif besar yang membentuk kaldera. Aliran lava besar terakhirnya terjadi pada 1772, dan saat ini aktivitasnya sebagian besar berupa pelepasan gas secara terus-menerus.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/708461\/nikaragua-putus-hubungan-diplomatik-dengan-israel\" title=\"Nikaragua Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel\" target=\"_blank\">Nikaragua Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pelepasan gas tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi lingkungan sekitar. &#8220;Meskipun Masaya terakhir kali menghasilkan aliran lava besar pada 1772, pelepasan gas yang berkepanjangan sering kali menghasilkan gas sulfur dioksida beracun dalam konsentrasi yang sangat tinggi dan berbahaya,&#8221; ujar Johnson.<\/p>\n<p>Wisatawan juga pernah mengalami situasi berbahaya di lokasi ini. Pada 23 April 2001, sebuah ledakan kecil melontarkan material batuan ke arah wisatawan di area parkir sepanjang tepi kawah dan merusak beberapa kendaraan, meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.<\/p>\n<p>Tim peneliti menggunakan gambar radar dari satelit European Sentinel-1 yang melintasi gunung berapi tersebut sekitar 12 hari sekali. Dengan membandingkan citra dari waktu ke waktu melalui metode Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), para ilmuwan dapat mengukur kenaikan dan penurunan permukaan tanah yang sangat kecil.<\/p>\n<p>&#8220;Penetrasi awan sangat penting untuk gunung berapi karena banyak di antaranya, seperti Masaya, berada di daerah tropis yang sering tertutup awan,&#8221; kata Kim.<\/p>\n<p>&#8220;Dan ketika kami melihat semua citra satelit yang berbeda selama beberapa tahun, kami dapat melihat bagaimana jarak antara satelit dan permukaan tanah berubah, baik saat mengalami pengangkatan maupun penurunan,&#8221; tambah Kim.<\/p>\n<p>Catatan pengamatan berlangsung dari Januari 2018 hingga Februari 2024. Hingga pertengahan 2022, permukaan tanah di tengah kaldera turun sekitar 3 sentimeter. Namun, tren tersebut berbalik dan permukaan tanah mulai naik sekitar 4 milimeter per tahun.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika permukaan tanah turun, itu berarti kemungkinan ada magma yang mengalir keluar dari gunung berapi. Namun begitu permukaan tanah mulai naik kembali, itu menandakan potensi adanya magma baru yang masuk,&#8221; jelas Johnson.<\/p>\n<p>Tim memodelkan sumber tersebut sebagai reservoir setinggi 3,2 kilometer di bawah permukaan tanah, dekat pusat kaldera dan sekitar 3,2 kilometer di sebelah utara kawah Santiago. Reservoir ini kehilangan volume sekitar 1,3 juta meter kubik hingga 2022, lalu bertambah sekitar 450.000 meter kubik pada 2024.<\/p>\n<p>Di sekitar kawah Santiago, permukaan tanah menunjukkan pergerakan berbeda dan terus mengalami penurunan selama enam tahun penuh. Para peneliti melacak sinyal tersebut ke reservoir kecil terpisah sekitar 200 meter di bawah kawah, yang kehilangan volume beberapa ribu meter kubik pada setiap periodenya.<\/p>\n<p>&#8220;Ini menunjukkan bahwa sistem saluran magma di bawah permukaan lebih kompleks dan bisa disebabkan oleh berkurangnya magma di reservoir kedua yang lebih dangkal,&#8221; kata Johnson.<\/p>\n<p>Struktur dua tingkat ini mirip dengan Gunung Kilauea di Hawaii, yang juga memiliki danau lava dan aktivitas eksplosif berkala. Meski demikian, para peneliti tidak mengidentifikasi adanya bahaya langsung bagi masyarakat di sekitar Masaya.<\/p>\n<p>Peningkatan aktivitas lava dapat terjadi jika reservoir dalam terus membengkak. Analisis lanjutan hingga April 2026 mencatat penambahan volume sebesar 1,6 juta meter kubik, sehingga para penulis memperkirakan masih diperlukan inflasi yang jauh lebih besar sebelum lava kembali naik ke permukaan.<\/p>\n<p>&#8220;Melakukan pemantauan secara berkelanjutan memungkinkan kami memahami aktivitas dasar dan melihat apakah ada perubahan,&#8221; kata Kim. &#8220;Dengan begitu, jika ada kebutuhan untuk memperingatkan masyarakat, kami dapat melakukannya secara tepat waktu.&#8221;<\/p>\n<p>Studi lengkap mengenai pemetaan gunung berapi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters. (Earth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/941486\/citra-satelit-ungkap-dua-kantong-magma-aktif-di-bawah-gunung-berapi-masaya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengamatan satelit mengungkap keberadaan dua kantong magma aktif di bawah Gunung Berapi Masaya, Nikaragua.(next adventure nicaragua) GUNUNG Berapi Masaya berdiri sekitar 20 kilometer di sebelah tenggara Managua, ibu kota Nikaragua. Sekitar dua juta orang tinggal dalam radius tersebut, sementara kaldera gunung ini menjadi kawasan taman nasional yang menarik wisatawan untuk melihat langsung kawah yang pernah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":115023,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-115022","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115022","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115022"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115022\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115023"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115022"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115022"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115022"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}