{"id":114885,"date":"2026-10-07T05:24:48","date_gmt":"2026-10-06T22:24:48","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/menata-kerangka-ilmu-islam-dalam-pendidikan-muhammadiyah\/"},"modified":"2026-10-07T05:24:48","modified_gmt":"2026-10-06T22:24:48","slug":"menata-kerangka-ilmu-islam-dalam-pendidikan-muhammadiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/07\/menata-kerangka-ilmu-islam-dalam-pendidikan-muhammadiyah\/","title":{"rendered":"Menata Kerangka Ilmu Islam dalam Pendidikan Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"owl-carousel dt-foto-slider\">\n<div class=\"item\">\n<figure class=\"main-img\">\n                                            <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/07\/1791317496_3e5ca829240f928dcb14.jpg\" style=\"width:100%\" alt=\"MI\/Seno\"\/><figcaption>MI\/Seno(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan\" title=\"Pendidikan\">PENDIDIKAN<\/a> ialah &#8216;saka guru&#8217; yang merupakan fondasi utama dalam membangun karakter, keunggulan bangsa, serta integritas masyarakat. Tiga unsur yang tercakup dalam pendidikan, yakni pembangunan watak bangsa <em>(character building<\/em>), keunggulan ilmu pengetahuan berdampak, dan integritas diri masyarakat, berupa keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan berdasarkan nilai etika moral agama.<\/p>\n<p>Hasil pendidikan berupa kompetensi pengetahuan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki, dan distribusi hasil sumber alam yang berkeadilan guna menjamin kesejahteraan serta hilangnya kemiskinan warga anggota bangsa.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/933338\/keterbatasan-ruang-kelas-sd-muhammadiyah-09-plus-dapat-dukungan-pembangunan\" title=\"Keterbatasan Ruang Kelas, SD Muhammadiyah 09 Plus Dapat Dukungan Pembangunan\" target=\"_blank\">Keterbatasan Ruang Kelas, SD Muhammadiyah 09 Plus Dapat Dukungan Pembangunan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>PROGRAM JANGKA PANJANG<\/strong><\/p>\n<p>Sejak awal program <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/muhammadiyah\" title=\"Muhammadiyah\">Muhammadiyah<\/a> berorientasi jangka panjang dan Islam ialah landasannya. Perintah untuk melakukan ibadah dan semua kebaikan kepada manusia, balasannya bukan hari ini, melainkan nanti setelah yaumul hisab<\/p>\n<p>. Di antara program orientasi jangka panjang Muhammadiyah itu ada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), melalui pendidikan, yang merupakan aspek sangat penting hingga saat ini. Namun, kecenderungan kebanyakan orang &#8216;berbuat sekarang ingin menikmati hasilnya sekarang juga&#8217;. Kecenderungan itu yang harus ditata ulang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/903664\/khidmat-muhammadiyah-untuk-bangsa\" title=\"Khidmat Muhammadiyah untuk Bangsa\" target=\"_blank\">Khidmat Muhammadiyah untuk Bangsa<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bagi Muhammadiyah, pendidikan ialah proses internalisasi nilai etika moral agama dan literasi ke dalam diri anak manusia. Nilai etika moral agama membentuk orang bersikap jujur, menjunjung tinggi kebenaran dan keikhlasan. Sementara itu, literasi, di awal sejarah pendidikan Muhammadiyah, menerima huruf Latin selain Arab, mempelajari ilmu umum di samping ilmu agama, dan menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan metodologi: teknologi informasi, kecerdasan buatan (<em>artificial intelligence<\/em>) dan selanjutnya.<\/p>\n<p>Yang disebut terakhir itu ialah teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Karena itu, pendidikan agama sangat penting untuk memberikan landasan hidup, sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempermudah hidup manusia.<\/p>\n<p>Untuk tujuan itu, sekolah Muhammadiyah memberikan pelajaran agama pada kurikulum sekolah umum dan ilmu pengetahuan dasar pada sekolah agama. Kombinasi itulah yang oleh Amir Hamzah Wirjosukarto disebut bertujuan membentuk &#8216;intelek-ulama dan\/atau ulama-intelek&#8217; (Wirjosukarto, 1962). Dalam penyelenggaraannya, agama diberikan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi Muhammadiyah\/Aisyiyah (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ptma\" title=\"PTMA\">PTMA<\/a>).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PEMBIDANGAN MATERI<\/strong><\/p>\n<p>Untuk optimalisasi hasil pendidikan agama, evaluasi penting dilakukan agar tidak terjadi pengulangan materi ajar. Jika pengulangan terjadi, selain menimbulkan kebosanan, terutama bagi mereka yang menempuh linearitas pendidikan di perguruan Muhammadiyah, tujuan pendidikan seperti yang diharapkan sulit bisa dicapai. Karena itu, pembidangan materi berbasis tingkat pendidikan perlu dilakukan.<\/p>\n<p>Pada tingkat pendidikan dasar, materi yang diberikan terkait dengan pembentukan karakter. Kedisiplinan perlu dibentuk, kepercayaan perlu ditanamkan, kebenaran perlu ditekankan, dan kemandirian sangat penting dilatih pada usia dini. Pendidikan dilakukan melalui proses pembelajaran berbasis perilaku nyata dalam pergaulan sehari-hari. Pengayaan daya nalar dari tugas gambar abstrak atau sketsa untuk dirangkai dalam cerita; menceritakan tugas atau pengalaman sehari-hari di depan kelas untuk melatih kemampuan bicara di depan umum.<\/p>\n<p>Tugas seperti mencatat materi ceramah di masjid pada Ramadan seharusnya tidak hanya dikumpulkan kepada bapak\/ibu guru, tetapi juga diminta disampaikan murid yang bersangkutan di depan kelas. Materi agama diberikan berkaitan dengan akhlak pergaulan antarsesama. Pada jenjang itu yang diperhatikan ialah menerapkan prinsip<em>\u00a0teaching at the right level<\/em> (mengajar sesuai dengan tingkat kemampuan awal murid). Ironis, banyak orangtua murid merasa bangga jika persyaratan masuk sekolah dasar anak sudah harus bisa baca tulis.<\/p>\n<p>Pada tingkat pendidikan menengah pertama, agama yang diajarkan berkaitan dengan ibadah salat, puasa, zakat, ibadah haji dan umrah (<em>ibadah<\/em> <em>mahdhah<\/em>). Ibadah itu merupakan bentuk hubungan vertikal langsung antara hamba dan Allah SWT (<em>hablum minallah<\/em>). Prinsip dasar ajaran itu mendasarkan pada &#8216;semua dilarang kecuali yang diperbolehkan&#8217;.<\/p>\n<p>Pada tingkat pendidikan menengah atas, materi yang diberikan mencakup seluruh aktivitas sehari-hari yang bersifat sosial (<em>hablum minannas<\/em>), seperti bekerja mencari nafkah, belajar, bersedekah, menolong sesama, dan menjenguk orang sakit. Ajaran itu bisa menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah dan dilaksanakan dengan cara yang tidak melanggar aturan <em>(ibadah<\/em><em>\u00a0ghairu mahdhah<\/em>). Menyeimbangkan kedua ibadah itu penting dalam ajaran Islam, dengan<em>\u00a0ibadah mahdhah<\/em> menjadi landasan spiritual, sementara ibadah <em>ghairu mahdhah<\/em> merupakan bentuk implementasi Islam dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Pada perguruan tinggi, agama mencakup interaksi antarmanusia terkait dengan urusan duniawi, seperti jual beli, sewa menyewa, dan utang piutang, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuannya menciptakan keadilan, menghindari riba, dan menjaga transparansi sesuai dengan prinsip syariah (<em>mua\u2019amalah diniyah<\/em>). Selain itu, tata cara yang mengatur hubungan antarmanusia dalam urusan keduniaan, seperti interaksi sosial, ekonomi, dan politik, diajarkan. Prinsip dasar ajaran itu mengacu pada &#8216;semua diperbolehkan kecuali yang dilarang&#8217;. Karena itu, kreativitas untuk kemaslahatan bagi semua sangat perlu dikembangkan (<em>mu\u2019amalah dunyawiyah<\/em>).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>KERANGKA ILMU ISLAM\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Pembidangan materi ajar agama menurut jenjang pendidikan memang penting dilakukan, terutama pada sistem pendidikan yang mengajarkan agama pada semua tingkat pendidikan seperti di Muhammadiyah. Tujuan pendidikan agama seperti yang dirumuskan bisa dicapai apabila kerangka ilmu Islam (<em>body of islamic knowledge<\/em>) dirumuskan secara jelas. Hasil evaluasi kerangka ilmu Islam menunjukkan rumusan yang ada perlu disempurnakan.<\/p>\n<p>Karena itu, kekhawatiran pengulangan materi ajar agama Islam pada jenjang pendidikan di perguruan Muhammadiyah dapat dihindari. Selama ini, kecenderungan pendidikan agama Islam hanya diajarkan dalam aspek ajaran ibadah khusus. Karena itu, tujuan ideal pendidikan agama seperti yang dirumuskan (Wirjosukarto) belum tercapai. Kesan umum yang diperoleh bahwa pendidikan agama di Muhammadiyah menghasilkan lulusan yang <em>&#8216;mogol<\/em>&#8216;, setengah-setengah, tidak matang.<\/p>\n<p>Di PTMA, pendidikan agama Islam dirumuskan dalam Al-Islam dan kemuhammadiyahan (AIK). Meskipun singkatan AIK masih diperdebatkan, itu sudah menjadi suatu yang telanjur lazim. AIK telah dirumuskan mengacu pada kerangka ilmu Islam yang baru. Tujuan program itu ialah menyelaraskan antara &#8216;harapan dan kenyataan&#8217;. Di antara harapan itu ialah, pertama, terumuskannya AIK berkemajuan yang di dalamnya terkandung nilai ajaran yang mencakup aspek kehidupan dunia dan akhirat. Karena itu cakupan ajarannya tidak hanya terbatas pada aspek ritual atau ibadah, tetapi juga mencakup semua aspek kehidupan. Dasar rumusan AIK ialah Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang disahkan pada Muktamar Ke-48 di Surakarta pada 2022.<\/p>\n<p>Kedua, di PTMA, AIK merupakan inti (<em>core<\/em>) kurikulum yang melandasi bidang keilmuan yang dipelajari. Indikator karakteristik inti harus muncul dalam capaian pembelajaran lulusan (CPL). Ketiga, proses pendidikan dan pengajaran AIK harus membentuk etika moral Islam ke dalam diri setiap peserta didik. Luaran kompetensi (<em>outcome<\/em>) yang diharapkan ialah pribadi yang amanah, berpihak pada kebenaran serta keikhlasan dalam pengamalan ilmu maupun dalam sikap hidup antarsesama.<\/p>\n<p>Keempat, AIK menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu bukan hanya karena Islam sangat mengapresiasi ilmu pengetahuan, tetapi juga karena dalam ajaran Islam, alam semesta yang merupakan ciptaan Zat Yang Mahatinggi <em>(tauhid rububiyah<\/em>) merupakan sumber pengetahuan yang menuntut manusia menggalinya. Karena itu, diperlukan rumusan Al-Islam dan kemuhammadiyahan yang mencakup nilai ajaran universal, metodologi dan transmisi keilmuan yang memadai, serta sumber daya manusia yang mumpuni dalam mentransmisikannya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PERLU DISEMPURNAKAN<\/strong><\/p>\n<p>Kenyataan di lapangan. Keempat aspek seperti yang disebutkan di atas masih perlu disempurnakan pada sebagian di PTMA. Dari penelusuran <em>best practice<\/em> beberapa PTMA, melalui dokumen dan beberapa kali pertemuan secara daring, ditemukan praktik pembelajaran Al-Islam dan kemuhammadiyahan yang beragam.<\/p>\n<p>Keberagaman itu disebabkan, pertama, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang tidak sama antara satu PTMA dan PTMA yang lain. Sebagian dosen AIK tidak memenuhi Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sebagian memenuhi kualifikasi lulusan strata-2 (S-2), tetapi tidak memiliki kompetensi bidang keilmuan AIK. Sebagian yang lain bahkan tidak memenuhi kualifikasi jenjang pendidikan S-2 dan kompetensi bidang AIK. Dalam upaya mengatasi kekurangan dan kualifikasi dosen AIK, Majelis Diktilitbang menerbitkan sertifikasi kompetensi kinerja khusus (SKKK) sebagai dasar rekrutmen dosen baru AIK.<\/p>\n<p>Kedua, status kelembagaan yang menentukan kebijakan dan melaksanakan pembelajaran AIK berada pada tingkat yang berbeda di antara PTMA. Di sebagian PTMA, AIK diakomodasi pada wakil rektor tertentu dan umumnya digabung dengan fungsi bidang lain seperti kemahasiswaan\/alumnus dan kerja sama. Di sebagian PTMA yang lain berada pada tingkat lembaga, yang khusus menangani AIK.<\/p>\n<p>Idealnya penanganan AIK berada pada wakil rektor khusus yang hanya melakukan fungsi dan tugas menjalankan pengembangan dan implementasi pendidikan AIK. Dengan dukungan anggaran yang lebih cukup apabila AIK berada di bawah wakil rektor khusus, pengembangan kajian bisa dilakukan dalam skala yang lebih intensif, luas, dan mendalam. Hasil kajian AIK selanjutnya menjadi bahan untuk pengembangan kurikulum dan masuk proses pembelajaran. Hanya di UAD, AIK ditangani secara khusus di bawah wakil rektor satu tanpa dirangkap dengan fungsi lain.<\/p>\n<p>Ketiga, profil AIK belum mengacu pada keunggulan program pendidikan AIK. Kerangka ilmu Islam (<em>body of Islamic knowledge<\/em>) belum mengacu pada cakupan Islam sebagai nilai ajaran yang universal. Universalitas nilai ajaran tidak hanya terkait dengan persoalan ritual, sebagaimana pemahaman sebagian orang tentang cakupan isi agama Islam, tetapi mencakup semua aspek kehidupan, duniawi dan ukhrawi. AIK dalam implementasi pendidikan di PTMA selama ini cenderung pada materi ajar yang terbatas hanya pada masalah akidah, ibadah, <em>mua\u2019amalah diniyah<\/em>, dan akhlak.<\/p>\n<p>Keempat, secara paradigmatik, harus ada kejelasan AIK masuk rumpun keilmuan apa. Penentuan paradigma penting dilakukan karena paradigma akan menentukan teori dan teori akan menentukan metode dalam suatu penelitian. Pengelompokan rumpun keilmuan mendorong AIK bisa dimasukkan ke paradigma metafisik, sosiologi, dan konstruksi (Thomas Kuhn, 1922-1996); dan sosiologi membagi ke dalam tiga perspektif utama: fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial (George Ritzer, 1975). Bidang kajian AIK bisa masuk semua paradigma itu, bergantung pada aspek ajaran yang menjadi fokus penelitian. Terabaikannya paradigma ilmu dalam kajian AIK selama ini di PTMA, kebanyakan penelitian cenderung terbatas pada penelitian literer. Padahal, cakupan kajian AIK tidak hanya bersifat literer, tetapi juga pengalaman empiris kaitannya dengan implementasi nilai ajaran Islam di lapangan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/941461\/menata-kerangka-ilmu-islam-dalam-pendidikan-muhammadiyah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MI\/Seno(Dok. Pribadi) PENDIDIKAN ialah &#8216;saka guru&#8217; yang merupakan fondasi utama dalam membangun karakter, keunggulan bangsa, serta integritas masyarakat. Tiga unsur yang tercakup dalam pendidikan, yakni pembangunan watak bangsa (character building), keunggulan ilmu pengetahuan berdampak, dan integritas diri masyarakat, berupa keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan berdasarkan nilai etika moral agama. Hasil pendidikan berupa kompetensi pengetahuan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-114885","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114885"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114885\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}