{"id":114436,"date":"2026-10-06T10:05:39","date_gmt":"2026-10-06T03:05:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/06\/brin-92-persen-sampah-dari-daratan-berakhir-di-pantai-indonesia\/"},"modified":"2026-10-06T10:05:39","modified_gmt":"2026-10-06T03:05:39","slug":"brin-92-persen-sampah-dari-daratan-berakhir-di-pantai-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/06\/brin-92-persen-sampah-dari-daratan-berakhir-di-pantai-indonesia\/","title":{"rendered":"BRIN 92 Persen Sampah dari Daratan Berakhir di Pantai Indonesia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/06\/1791255148_5b5e4d1c3f3ef995cb4c.jpg\" alt=\"BRIN: 92 Persen Sampah dari Daratan Berakhir di Pantai Indonesia\"\/><figcaption>Ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>RISET Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sebanyak 92% aliran sampah yang berasal dari daratan berakhir di pantai Indonesia. Sampah tersebut terbawa melalui aliran sungai dan kemudian terakumulasi di sejumlah wilayah pesisir, terutama Jawa dan Bali.<\/p>\n<p>Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN Budhi Gunadharma Gautama mengatakan temuan tersebut diperoleh melalui pemodelan pergerakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-laut\" title=\"sampah laut\">sampah laut<\/a>.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cBerdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 92% aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali,\u201d ujar Budhi, Selasa (6\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912091\/sampah-plastik-penyebab-utama-pencemaran-laut-indonesia\" title=\"Sampah Plastik Penyebab Utama Pencemaran Laut Indonesia\u00a0\" target=\"_blank\">Sampah Plastik Penyebab Utama Pencemaran Laut Indonesia\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Budhi, sejumlah kawasan pesisir Jawa menjadi titik akumulasi sampah yang cukup tinggi. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang terdampak, selain Bali.<\/p>\n<p>\u201cJawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Budhi menilai penanganan sampah laut tidak cukup hanya dilakukan dengan membersihkan sampah yang telah masuk ke laut. Upaya pencegahan harus dimulai dari daratan, terutama melalui pengelolaan sampah dan pengendalian sampah yang masuk ke sungai.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/898907\/lawan-sampah-laut-komut-pertamina-mochamad-iriawan-hadirkan--solusi-robot-air-cerdas\" title=\"Lawan Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan  Solusi Robot Air Cerdas\" target=\"_blank\">Lawan Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan  Solusi Robot Air Cerdas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cPencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain untuk memetakan pergerakan sampah, pemodelan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan penyebaran pencemaran di laut, termasuk tumpahan bahan berbahaya.<\/p>\n<p>Budhi mengatakan informasi mengenai arah dan pola penyebaran material pencemar dapat menjadi data ilmiah untuk mendukung penanganan pencemaran dan penegakan hukum lingkungan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Peneliti PRO BRIN Wahyu Budi Setyawan menyoroti persoalan sedimentasi di kawasan pesisir Bengkulu. Sedimentasi yang terjadi berulang di alur pelabuhan berpotensi menyebabkan pendangkalan dan memengaruhi kawasan pantai di sekitarnya.<\/p>\n<p>Menurut Wahyu, perubahan pola transportasi sedimen menyebabkan material terus masuk ke alur pelabuhan. Di sisi lain, terdapat kawasan yang mengalami erosi akibat berkurangnya suplai sedimen alami.<\/p>\n<p>\u201cKalau ini tidak ditangani, efeknya apa? Maka suplai sedimen ke pantai panjang pun akan terpengaruh,\u201d kata Wahyu.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, perubahan distribusi sedimen tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pelabuhan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kawasan wisata pantai dan sumber ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>Kedua penelitian tersebut menunjukkan persoalan sampah laut dan sedimentasi pesisir berkaitan erat dengan proses yang terjadi dari daratan hingga laut. Karena itu, data dan pemodelan ilmiah dinilai penting untuk mengetahui pergerakan material, lokasi akumulasi, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.<\/p>\n<p>BRIN mendorong hasil riset kelautan dan oseanografi dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam menangani persoalan sampah laut maupun sedimentasi pesisir. (Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/941080\/brin-92-persen-sampah-dari-daratan-berakhir-di-pantai-indonesia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Antara) RISET Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sebanyak 92% aliran sampah yang berasal dari daratan berakhir di pantai Indonesia. Sampah tersebut terbawa melalui aliran sungai dan kemudian terakumulasi di sejumlah wilayah pesisir, terutama Jawa dan Bali. Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN Budhi Gunadharma Gautama mengatakan temuan tersebut diperoleh melalui pemodelan pergerakan sampah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":114437,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-114436","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114436"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114436\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}