{"id":114092,"date":"2026-10-05T19:07:59","date_gmt":"2026-10-05T12:07:59","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/05\/pbb-peringatkan-117-juta-perempuan-di-28-negara-terancam-krisis-pangan-akibat-konflik-timur-tengah\/"},"modified":"2026-10-05T19:07:59","modified_gmt":"2026-10-05T12:07:59","slug":"pbb-peringatkan-117-juta-perempuan-di-28-negara-terancam-krisis-pangan-akibat-konflik-timur-tengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/05\/pbb-peringatkan-117-juta-perempuan-di-28-negara-terancam-krisis-pangan-akibat-konflik-timur-tengah\/","title":{"rendered":"PBB Peringatkan 11,7 Juta Perempuan di 28 Negara Terancam Krisis Pangan Akibat Konflik Timur Tengah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/05\/1791201861_bf7117e00468afb1a86a.jpg\" alt=\"PBB Peringatkan 11,7 Juta Perempuan di 28 Negara Terancam Krisis Pangan Akibat Konflik Timur Tengah\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok AFP)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PBB mengeluarkan peringatan serius mengenai ancaman kerawanan pangan akut yang kini membayangi 11,7 juta perempuan dan anak perempuan di 28 negara. Situasi darurat ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah serta gangguan jalur logistik di Selat Hormuz, yang secara langsung mendongkrak lonjakan harga pangan global sekaligus merusak sumber penghidupan masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan analisis mutakhir yang dirilis oleh UN Women, eskalasi tersebut berpotensi menyeret sekitar 22 juta jiwa lainnya ke dalam jurang kerawanan pangan dalam skenario dampak moderat. Dari angka proyeksi tambahan tersebut, kelompok perempuan dan anak perempuan mencakup 53 persen di antaranya.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Lonjakan kerentanan ini dikhawatirkan akan memperparah kondisi gelombang krisis sebelumnya. Sebanyak 208 juta perempuan dan anak perempuan tercatat telah mengalami kerawanan pangan maupun kekurangan gizi kronis di 28 negara yang menjadi cakupan studi tersebut.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/940693\/as-buru-buru-tarik-seluruh-bomber-b-1-dari-pangkalan-inggris\" title=\"AS Buru-Buru Tarik Seluruh Bomber B-1 dari Pangkalan Inggris\" target=\"_blank\">AS Buru-Buru Tarik Seluruh Bomber B-1 dari Pangkalan Inggris<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Wakil Direktur Eksekutif UN Women, Neradzayi Gumbonzvanda, menjelaskan bahwa negara-negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia menanggung proporsi terbanyak dari total perempuan dan anak perempuan yang berisiko tinggi menghadapi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/krisis-pangan\" title=\"krisis pangan\">krisis pangan<\/a> ini.<\/p>\n<p>Secara spesifik, UN Women memetakan sejumlah wilayah seperti Sudan, Sudan Selatan, Yaman, Palestina, dan Haiti sebagai kawasan dengan tingkat kerentanan ekstrem. Wilayah-wilayah tersebut menanggung beban berlapis akibat kombinasi destruktif dari konflik bersenjata, krisis pengungsian masif, serta kerapuhan struktur ekonomi lokal.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Gumbonzvanda menyoroti bagaimana kaum perempuan kerap kali menjadi kelompok paling rentan yang harus menanggung dampak terberat dari setiap krisis pangan yang terjadi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/940424\/moskow-beri-dukungan-diplomatik-penuh-ke-iran-medvedev-kami-blokir-resolusi-dk-pbb-lawan-teheran\" title=\"Moskow Beri Dukungan Diplomatik Penuh ke Iran, Medvedev: Kami Blokir Resolusi DK PBB Lawan Teheran\" target=\"_blank\">Moskow Beri Dukungan Diplomatik Penuh ke Iran, Medvedev: Kami Blokir Resolusi DK PBB Lawan Teheran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mereka mengurangi jatah makanan atau bahkan tidak makan demi memenuhi kebutuhan anggota keluarga lainnya sambil terus menghadapi kesenjangan dalam hal pekerjaan, akses layanan keuangan, dan sumber daya ekonomi,&#8221; ujar Wakil Direktur Eksekutif UN Women, Neradzayi Gumbonzvanda.<\/p>\n<p>Menghadapi ancaman krisis yang kian meluas, badan dunia tersebut mendesak komunitas internasional untuk segera menerapkan strategi penanggulangan terpadu. Langkah darurat yang diserukan mencakup penguatan distribusi bantuan pangan beserta tunjangan tunai, penerapan program perlindungan sosial dan pemulihan mata pencaharian, serta optimalisasi dukungan sektor pertanian.<\/p>\n<p>Selain itu, PBB menekankan pentingnya penyaluran sumber daya secara tepat sasaran ke wilayah-wilayah paling rentan, serta peningkatan instrumen pengumpulan data guna mengidentifikasi kelompok perempuan dan anak perempuan yang paling membutuhkan intervensi cepat.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, Gumbonzvanda menegaskan bahwa penyelesaian krisis pangan global ini tidak bisa hanya bertumpu pada koridor bantuan kemanusiaan semata.<\/p>\n<p>&#8220;Penanganan krisis ini tidak hanya membutuhkan upaya kemanusiaan, tetapi juga perdamaian dan keamanan, de-eskalasi, dan juga dukungan bagi solusi diplomatik yang mampu mendorong stabilitas di tingkat regional maupun global,&#8221; pungkas Gumbonzvanda. (Ant\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/940878\/pbb-peringatkan-117-juta-perempuan-di-28-negara-terancam-krisis-pangan-akibat-konflik-timur-tengah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok AFP) PBB mengeluarkan peringatan serius mengenai ancaman kerawanan pangan akut yang kini membayangi 11,7 juta perempuan dan anak perempuan di 28 negara. Situasi darurat ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah serta gangguan jalur logistik di Selat Hormuz, yang secara langsung mendongkrak lonjakan harga pangan global sekaligus merusak sumber penghidupan masyarakat setempat. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":114093,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-114092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114092"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114092\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}