{"id":113741,"date":"2026-10-05T02:36:46","date_gmt":"2026-10-04T19:36:46","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/05\/fce-2026-bi-ntt-bawa-produk-unggulan-ntt-ke-pasar-lebih-luas\/"},"modified":"2026-10-05T02:36:46","modified_gmt":"2026-10-04T19:36:46","slug":"fce-2026-bi-ntt-bawa-produk-unggulan-ntt-ke-pasar-lebih-luas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/05\/fce-2026-bi-ntt-bawa-produk-unggulan-ntt-ke-pasar-lebih-luas\/","title":{"rendered":"FCE 2026, BI NTT Bawa Produk Unggulan NTT ke Pasar Lebih Luas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/04\/1791114572_600540abd02b6be91968.jpeg\" alt=\"FCE 2026, BI NTT Bawa Produk Unggulan NTT ke Pasar Lebih Luas\"\/><figcaption>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti Bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wagub NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, dan Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT Adidoyo Prakoso memukul tambur tanda dimulainya FCE 2026.(MI\/Palce Amalo)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>FLOBAMORATA Creative Expo (FCE) 2026 tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk memperkenalkan tenun Nusa Tenggara Timur (NTT). <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bank-indonesia\" title=\"Bank Indonesia\">Bank Indonesia<\/a> memperluas ajang ini menjadi wadah bagi berbagai produk unggulan daerah, mulai dari wastra, kopi, kuliner hingga inovasi usaha, dengan sasaran pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/fce-2026\" title=\"FCE 2026\">FCE 2026<\/a> digelar di Kupang pada 2-4 Oktober 2026 oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT. Mengusung tema \u201cFlobamora Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan\u201d, kegiatan ini mempertemukan pelaku UMKM, pemerintah, perbankan, dunia usaha dan masyarakat.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan perubahan dari Exotic Tenun Fest menjadi Flobamora Creative Expo merupakan bagian dari upaya melihat potensi NTT secara lebih utuh. Menurut dia, kekuatan ekonomi NTT tidak hanya berada pada tenun, tetapi juga kopi, kelor, kuliner, dan berbagai produk kreatif lainnya.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/399357\/bank-indonesia-tahan-suku-bunga-acuan-di-35\" target=\"_blank\" title=\"Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%\">Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cNTT punya aset lainnya. Kopinya bagus, kelornya juga luar biasa,\u201d kata Destry.<\/p>\n<p>Ia menilai potensi tersebut perlu diolah agar memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih besar. Untuk tenun, misalnya, teknologi dapat dimanfaatkan agar kain menjadi lebih ringan dan tipis sehingga lebih mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menghilangkan ciri khas dan motif daerah.<\/p>\n<p>Pengembangan desain juga menjadi perhatian melalui program Cipranusa yang mengangkat karakter budaya lokal dalam desain tenun. Pada saat yang sama, Destry mengingatkan pentingnya pelindungan hak cipta dan kekayaan intelektual ketika produk lokal mulai berkembang. Menurut dia, motif, desain dan karya para perajin harus mendapat perlindungan sehingga manfaat ekonomi dari perkembangan produk tetap kembali kepada penciptanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/399132\/hadapi-lebaran-2021-bi-kalteng-siapkan-rp335-triliun\" target=\"_blank\" title=\"Hadapi Lebaran 2021, BI Kalteng Siapkan Rp3,35 Triliun\">Hadapi Lebaran 2021, BI Kalteng Siapkan Rp3,35 Triliun<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari perhatian BI. Destry menyebut program kewirausahaan yang dijalankan BI telah menjaring sekitar 2.400 peserta pada tahap awal sebelum diseleksi secara bertahap hingga tersisa 10 finalis. Program tersebut menekankan bisnis berbasis teknologi, literasi usaha, kemampuan menyusun laporan keuangan dan pembentukan jiwa kewirausahaan.<\/p>\n<p>Di sektor kopi, BI juga memiliki program pengembangan dan sertifikasi barista. Destry menyebut jumlah barista yang memiliki sertifikasi nasional masih di bawah 10%. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia seiring berkembangnya industri kopi di daerah.<\/p>\n<p>Menurut Destry, kondisi ekonomi NTT juga memberikan ruang bagi pengembangan kegiatan usaha. Ia menyebut inflasi NTT berada sekitar 2,5%, lebih rendah dibanding inflasi nasional yang disebutnya mencapai 3,28%. Stabilitas harga, terutama pangan, menjadi salah satu faktor yang perlu terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Salah satu peluang lain yang mendapat perhatian adalah perdagangan lintas batas dengan Timor-Leste. Destry mengatakan BI sedang mengembangkan kerja sama <em>QRIS Cross Border<\/em> dengan bank sentral Timor-Leste.<\/p>\n<p>Kerja sama tersebut dinilai relevan dengan hubungan masyarakat di wilayah perbatasan yang selama ini memiliki hubungan keluarga sekaligus aktivitas ekonomi. Dengan sistem pembayaran lintas negara, transaksi dapat dilakukan secara lebih langsung menggunakan mata uang masing-masing tanpa harus melalui dolar Amerika Serikat sebagai perantara.<\/p>\n<p>Destry mengatakan pengembangan ekonomi daerah tidak bisa dilakukan hanya oleh pihak BI. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat perlu mengambil bagian agar berbagai potensi ekonomi daerah dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kolaborasi tersebut juga berpeluang diperluas ke luar NTT. Menurut Destry, kerja sama dengan daerah seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat dapat membuka jaringan pasar yang lebih luas bagi produk-produk dari NTT.<\/p>\n<h5><img decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/10\/04\/1791114436_48582424a68b319ba500.jpeg\" style=\"width: 380px; height: 253px;\"\/><\/h5>\n<h6>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Ketua TP PKK NTT\u00a0Mindryati Astiningsih Laka Lena, dan Ketua PIPEBI NTT\u00a0Terry Adidoyo meninjau sekaligus membeli pakaian berbahan kain tenun karya perajin binaan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bi-ntt\" title=\"BI NTT\">BI NTT<\/a> dalam Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026, Sabtu (3\/10\/2026).<\/h6>\n<h2>Setiap Daerah Perlu Punya Pusat Bisnis<\/h2>\n<p>Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan pengembangan ekonomi daerah harus melihat kekuatan masing-masing kabupaten dan kota. Ia menginginkan setiap daerah memiliki pusat kegiatan ekonomi yang tumbuh dari potensi setempat.<\/p>\n<p>Menurut Melki, Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi memiliki karakter dan kekuatan ekonomi sendiri. Begitu pula Kabupaten Kupang dan daerah lainnya yang memiliki potensi berbeda.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKalau orang datang ke Kota Kupang, bisnisnya tentu sesuai dengan kekuatan Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi. Ketika orang ke Kabupaten Kupang, di sana juga harus muncul pusat industri dan pusat ekonomi yang sesuai dengan potensi yang ada di Kabupaten Kupang,\u201d ujar Melki.<\/p>\n<p>Ia melihat FCE sebagai ruang yang mempertemukan kreativitas, inovasi, pelaku usaha dan pasar. Produk wastra, kopi dan kuliner NTT tidak cukup hanya menjadi kebanggaan budaya, tetapi perlu berkembang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, pelaku UMKM perlu mendapat akses terhadap peningkatan kualitas produk, inovasi, desain, pengemasan, merek, pemasaran digital, pembiayaan dan jaringan pasar. Produk daerah juga harus mampu melewati tahap produksi bahan mentah menuju produk jadi yang memiliki nilai tambah.<\/p>\n<p>Melki menilai rangkaian FCE yang memadukan <em>masterclass<\/em>, kompetisi, pameran, business matching, konsultasi ekspor dan akses pembiayaan memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mengenal kebutuhan pasar.<\/p>\n<p>Di tengah kegiatan ekonomi tersebut, FCE juga membawa pesan solidaritas. Sebagian hasil penjualan UMKM disiapkan untuk disumbangkan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Selain itu, terdapat lelang tenun dan penggalangan dana melalui QRIS ChariTree.<\/p>\n<p>\u201cDi tengah upaya-upaya untuk menggerakkan ekonomi, kita tidak boleh jalan sendiri dan melupakan sesama. Saya mengapresiasi inisiatif solidaritas melalui donasi dari hasil penjualan UMKM,\u201d kata Melki.<\/p>\n<p>Pesan tersebut sejalan dengan tema lokal yang diangkat dalam FCE, yakni \u201c<em>Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae<\/em>\u201d, yang dimaknai sebagai semangat bersama, saling peduli dan saling menguatkan untuk bangkit.<\/p>\n<h2>BI NTT Bangun Ekosistem UMKM dari Hulu hingga Pasar<\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/10\/04\/1791114491_84fa8cf8322f68b7ab2c.jpeg\" style=\"width: 380px; height: 253px;\"\/><\/p>\n<h6>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Ketua TP PKK NTT\u00a0Mindryati Astiningsih Laka Lena, dan Ketua PIPEBI NTT\u00a0Terry Adidoyo meninjau sekaligus membeli pakaian berbahan kain tenun karya perajin binaan BI NTT dalam Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026, Sabtu (3\/10\/2026).<\/h6>\n<p>Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso mengatakan FCE dirancang sebagai bagian dari penguatan ekosistem UMKM, bukan sekadar kegiatan untuk memamerkan produk.<\/p>\n<p>Menurut Adidoyo, persoalan UMKM tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan barang. Pelaku usaha juga membutuhkan peningkatan kapasitas, model bisnis yang jelas, akses pembiayaan, pendampingan, kepastian pasar dan kemampuan memenuhi kebutuhan pembeli.<\/p>\n<p>Karena itu, FCE dikembangkan dalam kerangka <em>impactful, inclusive, integrative<\/em>, dan <em>synergy<\/em>. Pendekatan tersebut mempertemukan pemerintah, perbankan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan pelaku UMKM dalam satu rangkaian kegiatan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cFCE ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali dan memperkuat UMKM NTT dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, lembaga keuangan dan seluruh pemangku kepentingan,\u201d kata Adidoyo.<\/p>\n<p>Penguatan dari sisi hulu antara lain dilakukan melalui pengembangan ketahanan pangan. Adidoyo mencontohkan pengembangan ekosistem cabai melalui gerakan pengendalian inflasi, mulai dari penanaman, produksi hingga pengemasan.<\/p>\n<p>Hasil produksi kemudian dihubungkan dengan pasar. Hotel dan restoran dilibatkan sebagai off-taker, sehingga petani tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi memiliki gambaran mengenai siapa yang akan membeli hasil produksinya.<\/p>\n<p>Konsep serupa diterapkan melalui program BETA BISA (<em>Business, Entrepreneur, Transformation and Equalization<\/em>). Program ini mempertemukan Pemprov NTT, balai latihan kerja, perbankan, perguruan tinggi seperti Universitas Nusa Cendana, Kadin dan media untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha sekaligus memperbaiki model bisnis mereka.<\/p>\n<p>Dia mengatakan, penguatan kapasitas tersebut penting agar UMKM tidak berhenti pada tahap produksi. Mereka harus mampu menghitung biaya usaha, mengelola keuangan, memperbaiki kualitas produk, membangun merek dan menyesuaikan produknya dengan kebutuhan pasar. Dari sisi hilir, BI NTT mulai mempertemukan pelaku usaha dengan pasar ekspor. Salah satu contohnya adalah kerja sama antara koperasi petani kakao di Sikka dengan pembeli dari Australia.<\/p>\n<p>Pengiriman awal mencapai 20 ton kakao dengan nilai sekitar Rp1,1 miliar. Kerja sama tersebut diharapkan terus berkembang sehingga petani dan koperasi memiliki akses pasar yang lebih pasti.<\/p>\n<p>Adidoyo mengatakan pola tersebut sejalan dengan gagasan <em>One Village One Product<\/em> atau OVOP, yakni mengembangkan produk yang berasal dari kekuatan khas suatu daerah agar memiliki nilai ekonomi dan mampu masuk ke pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p>FCE juga tidak hanya berbicara tentang produk. Edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, perlindungan konsumen, pencegahan penipuan dan literasi keuangan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Dengan demikian, pelaku usaha dan konsumen sama-sama mendapat pengetahuan untuk menjalankan aktivitas ekonomi secara lebih aman.<\/p>\n<p>Rangkaian FCE tahun ini dibagi dalam tiga seri besar, yakni wastra, kopi, dan kuliner. Kegiatannya meliputi <em>masterclass<\/em> tenun dan kopi, kompetisi barista, kompetisi tenun, <em>fashion show <\/em>IWABA dan PIPEBI, <em>storytelling<\/em>, tari kreasi, <em>talkshow <\/em>pelindungan konsumen (Peka) dan kopi, edukasi Rupiah, hingga lelang tenun dan penggalangan dana, serta Bedah buku berjudul &#8216;<em>Kami (bukan) Sarjana Kertas<\/em>&#8216;.\u00a0<\/p>\n<p>FCE 2026 menampilkan 22 peserta wastra, 18 makanan dan minuman, 18 kopi serta lima inovasi. Sebagian hasil penjualan UMKM dialokasikan untuk kegiatan sosial, ditambah lelang tenun dan penggalangan dana melalui QRIS ChariTree bagi masyarakat yang terdampak bencana.<\/p>\n<p>Dengan rangkaian tersebut, FCE 2026 tidak berhenti sebagai etalase produk daerah. Ajang ini memperlihatkan bagaimana potensi lokaldari tenun, kopi, kuliner hingga inovasi dihubungkan dengan peningkatan kapasitas, pembiayaan, teknologi dan pasar, termasuk peluang pasar di luar NTT. (PO\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/940521\/fce-2026-bi-ntt-bawa-produk-unggulan-ntt-ke-pasar-lebih-luas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti Bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wagub NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, dan Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT Adidoyo Prakoso memukul tambur tanda dimulainya FCE 2026.(MI\/Palce Amalo) FLOBAMORATA Creative Expo (FCE) 2026 tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk memperkenalkan tenun Nusa Tenggara Timur (NTT). Bank Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":113742,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-113741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=113741"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113741\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/113742"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=113741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=113741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=113741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}