{"id":111100,"date":"2026-09-29T19:18:51","date_gmt":"2026-09-29T12:18:51","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/29\/ahli-geologi-ugm-peringatkan-potensi-tanah-longsor-tanpa-didahului-hujan\/"},"modified":"2026-09-29T19:18:51","modified_gmt":"2026-09-29T12:18:51","slug":"ahli-geologi-ugm-peringatkan-potensi-tanah-longsor-tanpa-didahului-hujan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/29\/ahli-geologi-ugm-peringatkan-potensi-tanah-longsor-tanpa-didahului-hujan\/","title":{"rendered":"Ahli Geologi UGM Peringatkan Potensi Tanah Longsor tanpa Didahului Hujan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/29\/1790683451_dfaa9ae59fec98eee011.jpg\" alt=\"Ahli Geologi UGM Peringatkan Potensi Tanah Longsor tanpa Didahului Hujan\"\/><figcaption>Penanganan longsor di Cianjur, Jawa Barat.(MI\/Benny Bastiandi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KESAN bahwa bencana <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tanah-longsor\" title=\"tanah longsor\">tanah longsor<\/a> hanya terjadi saat cuaca ekstrem dan hujan deras ditepis oleh pakar geologi. Menanggapi peringatan Badan Geologi terkait potensi gerakan tanah tinggi di 12 provinsi Indonesia, Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo, menegaskan bahwa hujan hanyalah salah satu dari sekian pemicu lepasnya kestabilan lereng.\u00a0<\/p>\n<p>Longsor sebenarnya bisa terjadi kapan saja, bahkan secara perlahan tanpa setetes pun air hujan. &#8220;Ada pemicu guncangan gempa, kemudian hujan, kemudian akibat manusia yang memotong lereng,&#8221; ujar Wahyu dalam siaran pers dari Humas UGM, Selasa (29\/9).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Wahyu menjelaskan, sebelum longsor terjadi, sebuah wilayah sudah memiliki kondisi rentan yang dikontrol oleh alam maupun ulah manusia. Kemiringan lereng yang makin curam, material tanah yang lapuk, struktur retakan geologi, hingga penataan lahan yang tidak tepat menjadi faktor pengontrol kestabilan tanah. Ketika kondisi lereng sudah berada di titik kritis, pergerakan tanah hanya membutuhkan sedikit dorongan untuk menjadi bencana.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/936762\/warga-rejang-lebong-diminta-waspada-banjir-dan-longsor-di-masa-pancaroba\" title=\"Warga Rejang Lebong Diminta Waspada Banjir dan Longsor di Masa Pancaroba\" target=\"_blank\">Warga Rejang Lebong Diminta Waspada Banjir dan Longsor di Masa Pancaroba<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Di luar curah hujan, ada dua pemicu utama lainnya yang patut diwaspadai, yaitu guncangan getaran dan aktivitas manusia. Gempa bumi dapat memberikan gangguan mendadak pada material lereng yang rentan. Sementara itu, pemotongan lereng secara sembarangan untuk pembangunan jalan kerap memicu keruntuhan.<\/p>\n<p>Bahkan, terdapat fenomena pergerakan tanah yang dapat berlangsung sangat lambat tanpa disadari, yakni rayapan tanah. Fenomena ini kerap dipengaruhi oleh karakteristik lapisan lempung yang merespons kelembapan tanah secara perlahan.<\/p>\n<p>Mengingat bahaya yang dapat mengintai kapan saja, keberadaan Sistem Peringatan Dini (EWS) serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi benteng utama. Parameter standar seperti pemantauan curah hujan dan deformasi (perubahan bentuk) lereng harus terus dipantau berdasarkan karakteristik lokal tiap wilayah. Namun, mitigasi tak cukup hanya mengandalkan alat canggih, melainkan butuh respons nyata dari warga yang bermukim di daerah rawan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/931830\/tanah-longsor-dan-hujan-deras-terjang-gunung-fuji-di-hari-terakhir-musim-pendakian\" title=\"Tanah Longsor dan Hujan Deras Terjang Gunung Fuji di Hari Terakhir Musim Pendakian\" target=\"_blank\">Tanah Longsor dan Hujan Deras Terjang Gunung Fuji di Hari Terakhir Musim Pendakian<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Mendekati masa transisi musim, keberadaan retakan tanah akibat cuaca kering juga menjadi ancaman tersembunyi yang perlu diwaspadai secara khusus sebelum air hujan membasahi bumi.<\/p>\n<p>&#8220;Pada waktu musim penghujan pertama itu adalah kritikal, karena apa? Karena air kemudian masuk ke dalam retakan itu, dan bisa memicu timbulnya longsor,&#8221; jelas Wahyu.<\/p>\n<p>Ia juga menambahkan bahwa efektivitas mitigasi bencana pada akhirnya sangat bergantung pada kesadaran warga sekitar. Alat peringatan dini yang canggih tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan pemahaman dan tindakan cepat dari masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;EWS sudah memberikan informasi, tapi kalau masyarakatnya tidak merespons dengan baik, ya tidak ada gunanya,&#8221; tutup Wahyu. (AT\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/938836\/ahli-geologi-ugm-peringatkan-potensi-tanah-longsor-tanpa-didahului-hujan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penanganan longsor di Cianjur, Jawa Barat.(MI\/Benny Bastiandi) KESAN bahwa bencana tanah longsor hanya terjadi saat cuaca ekstrem dan hujan deras ditepis oleh pakar geologi. Menanggapi peringatan Badan Geologi terkait potensi gerakan tanah tinggi di 12 provinsi Indonesia, Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo, menegaskan bahwa hujan hanyalah salah satu dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111101,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-111100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111100"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111100\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}