{"id":110296,"date":"2026-09-28T05:17:53","date_gmt":"2026-09-27T22:17:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/28\/habis-un-terbit-tka\/"},"modified":"2026-09-28T05:17:53","modified_gmt":"2026-09-27T22:17:53","slug":"habis-un-terbit-tka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/28\/habis-un-terbit-tka\/","title":{"rendered":"Habis UN Terbit TKA"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/28\/1790540072_b1970a9d4f6de8ba5fe2.jpg\" alt=\"Habis UN Terbit TKA\"\/><figcaption>(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>UN dihapus, TKA diperkenalkan. Sebuah janji baru ditebar: asesmen yang lebih manusiawi, diagnostik, dan kontekstual. Namun, janji itu tidak terwujud. TKA hanyalah bentuk baru dari persoalan lama: seleksi, skor, dan hafalan yang berganti kulit. Ia bukan terang, melainkan lampu baru di ruangan yang sama.<\/p>\n<p>Ironi itu semakin tajam pada Oktober nanti. TKA dirancang mendiagnosis kinerja sekolah, pesertanya dipilih acak oleh kementerian\u2014bukan semua siswa. Namun, begitu fungsinya bergeser menjadi &#8216;syarat&#8217; masuk perguruan tinggi, semuanya berubah. Orangtua, siswa, bahkan guru panik. Sekolah meminta semua siswa ikut TKA dan menyiapkan bimbel khusus untuk menjawab soalnya\u2014termasuk di sekolah tempat saya mengabdi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/888785\/sinkronisasi-tiga-instrumen\" title=\"Sinkronisasi Tiga Instrumen\" target=\"_blank\">Sinkronisasi Tiga Instrumen<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>UN, TKA, DAN PISA<\/strong><\/p>\n<p>TKA lahir dari niat mulia: alat evaluasi kinerja sekolah, bukan penghukum. Ia dijanjikan sebagai terang setelah kegelapan UN\u2014asesmen yang mendiagnosis penalaran, bukan sekadar hafalan. Namun, janji itu kandas. Begitu hasil TKA dihubungkan dengan seleksi perguruan tinggi, fungsinya bergeser: dari evaluasi sekolah menjadi seleksi individu. Sekolah dan bimbel ramai membuka <em>drill<\/em> TKA; pelajaran seni, olahraga, dan agama tersingkir. Inilah <em>backwash effect<\/em>, pembelajaran mengikuti tes, bukan sebaliknya. Siswa kurang mampu paling dirugikan.<\/p>\n<p>PISA 2025 memperparah ironi. Skor Indonesia stagnan, tertinggal 93-99 poin dari OECD. Lebih dari 80% siswa gagal mencapai kompetensi minimum matematika. Karena TKA meniru desain PISA, ia hanya akan mengungkap fondasi yang rapuh, bukan memperbaikinya. Terang TKA ternyata hanya menerangi mereka yang sudah berdiri di tempat terang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/860976\/rasch-untuk-penilaian-bermakna\" title=\"Rasch untuk Penilaian Bermakna\" target=\"_blank\">Rasch untuk Penilaian Bermakna<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Data PISA ini bukan sekadar angka; ia anomali yang menuntut penjelasan paradigmatik. Di sinilah Thomas Kuhn membantu kita.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>IRONI TKA\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Untuk memahami akar ironi TKA, kita perlu masuk lebih dalam daripada sekadar kritik kebijakan. Kuhn mengajarkan ilmu pengetahuan tidak berkembang linier, tetapi melalui periode <em>normal science<\/em> yang stabil, lalu diguncang anomali. Ketika anomali menumpuk dan tak lagi bisa dijelaskan paradigma lama, terjadilah krisis yang melahirkan revolusi paradigmatik.<\/p>\n<p>Hasil PISA 2025 yang stagnan, dengan mayoritas siswa gagal mencapai kompetensi minimum literasi-numerasi, ialah anomali tak terbantahkan. Paradigma pendidikan yang berpusat pada hafalan dan skor jelas tidak lagi efektif. TKA hadir sebagai tawaran paradigma baru: penilaian holistis, <em>growth mindset<\/em>, berpusat pada siswa. Dalam bahasa Kuhn, TKA ingin menjadi <em>new normal science<\/em>.<\/p>\n<p>Namun, harapan itu kandas. Alih-alih menggantikan paradigma lama, TKA justru terjebak kembali ke dalamnya, paradigma seleksi, skor, dan hafalan. Sekolah yang mengganti pelajaran lain dengan persiapan TKA ialah bukti bahwa <em>normal science<\/em> baru belum lahir; yang terjadi hanyalah revolusi semu. Paradigma lama tidak mati, ia hanya berganti kulit. Kuhn mengingatkan bahwa perubahan paradigma menuntut <em>gestalt switch<\/em>\u2014perubahan cara pandang mendasar. Sayangnya, yang berubah hanya singkatan dan format administratif. Inilah ironi epistemiknya: TKA lahir dari rahim paradigma lama, dan kembali ke rahim itu juga.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>IRONI MORAL<\/strong><\/p>\n<p>Jika Kuhn menjelaskan mengapa sistem gagal berubah, Arendt menjelaskan mengapa orang-orang di dalamnya tidak pernah mencoba mengubahnya. Konsep <em>banality of evil<\/em> menunjukkan kejahatan besar lahir dari pikiran yang tidak berpikir, ketaatan buta, dan pembiaran. Tiga ciri Eichmann relevan dengan ekosistem pendidikan kita. Pertama, guru atau kepala sekolah menjalankan perintah persiapan TKA sebagai kewajiban administratif, tanpa mempertanyakan dampaknya pada hakikat pendidikan. Kedua, pengambil kebijakan yang mengaitkan TKA dengan seleksi PTN tidak berpikir dari sudut pandang siswa tertinggal, mereka melihat data, bukan manusia. Ketiga, bahasa birokratis &#8216;TKA sebagai instrumen evaluasi kinerja sekolah&#8217; menyamarkan realitas pahit: kelas bimbel, jadwal <em>drill<\/em>, pelajaran tergeser. Sistem itu membuat orang baik melakukan hal buruk tanpa merasa bersalah. Sekolah, guru, dan orangtua hanya &#8216;menjalankan kebijakan&#8217;, taat tanpa berpikir kritis. Itulah ironi moralnya: terang TKA tidak pernah sampai karena mereka yang seharusnya menyalakannya justru sibuk menjalankan rutinitas dalam kegelapan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>MENYALAKAN TERANG YANG SESUNGGUHNYA<\/strong><\/p>\n<p>Kritik tanpa solusi hanyalah keluhan. Karena itu, TKA harus dikembalikan pada niat awalnya: pisahkan fungsi evaluasi dan seleksi. Asesmen sekolah sebaiknya <em>low-stakes<\/em>\u2014untuk pendampingan, bukan rangking atau sanksi. Tes seleksi PT boleh <em>high-stakes<\/em>, tetapi harus dirancang dengan soal penalaran, studi kasus, dan pemecahan masalah, bukan hafalan. Pemerintah pun wajib mengelola efek sampingnya: akses latihan gratis, pelatihan guru, dan larangan mengganti pelajaran inti demi <em>drill<\/em> ujian. PISA 2025 menunjukkan masalahnya bukan kurang latihan soal, melainkan pembelajaran yang belum membangun nalar sejak awal. Fondasi literasi dan numerasi harus diperkuat sejak pendidikan dasar\u2014bukan diperbaiki di ujung dengan bimbel dan <em>drill<\/em>.<\/p>\n<p>Namun, solusi struktural tidak akan cukup tanpa perubahan cara berpikir. Yang paling mendasar ialah melawan banalitas: guru, kepala sekolah, orangtua, dan pembuat kebijakan perlu terus bertanya, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan, untuk siapa, dan apakah ini benar-benar mendidik? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman karena menuntut kita berhenti sekadar menjalankan kebijakan. Arendt mengingatkan bahwa kejahatan besar tidak lahir dari monster, tetapi dari orang-orang biasa yang berhenti berpikir. Karena itu, terang yang sesungguhnya tidak datang dari pergantian nama atau format administratif, tetapi dari kesadaran kolektif untuk tidak lagi taat tanpa bertanya. Di situlah\u2014bukan di ruang birokrasi, melainkan di ruang-ruang kelas dan ruang guru\u2014terang itu mulai dinyalakan.<\/p>\n<p>RA Kartini menulis <em>Habis Gelap Terbitlah Terang<\/em> dari balik dinding pingitan\u2014sebuah doa bahwa setelah kegelapan, datanglah cahaya. Namun, ketika UN dihapus dan TKA diperkenalkan, janji itu justru berbalik: yang terbit bukan terang, melainkan senja berkepanjangan. TKA mengulang kegelapan UN dengan nama yang lebih elok. Ironi itu lahir dari paradigma yang tak berubah dan orang-orang yang berhenti berpikir. Terang tidak datang dari pergantian nama, tetapi dari keberanian berpikir berbeda. Selama fungsi evaluasi dan seleksi tidak dipisahkan, selama sekolah tetap menjadi pabrik skor, selama itu pula pelesetan &#8216;Habis UN Terbit TKA&#8217; akan tetap pahit.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/938230\/habis-un-terbit-tka\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Dok. Pribadi) UN dihapus, TKA diperkenalkan. Sebuah janji baru ditebar: asesmen yang lebih manusiawi, diagnostik, dan kontekstual. Namun, janji itu tidak terwujud. TKA hanyalah bentuk baru dari persoalan lama: seleksi, skor, dan hafalan yang berganti kulit. Ia bukan terang, melainkan lampu baru di ruangan yang sama. Ironi itu semakin tajam pada Oktober nanti. TKA dirancang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110297,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-110296","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110296","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110296"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110296\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}