{"id":110270,"date":"2026-09-28T00:48:39","date_gmt":"2026-09-27T17:48:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/28\/setelah-demam-poco-poco-kini-ada-senam-kreasi-terbaru-ikan-nae-di-pante\/"},"modified":"2026-09-28T00:48:39","modified_gmt":"2026-09-27T17:48:39","slug":"setelah-demam-poco-poco-kini-ada-senam-kreasi-terbaru-ikan-nae-di-pante","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/28\/setelah-demam-poco-poco-kini-ada-senam-kreasi-terbaru-ikan-nae-di-pante\/","title":{"rendered":"Setelah Demam Poco-Poco, Kini Ada Senam Kreasi Terbaru Ikan Nae di Pante"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/27\/1790508856_c83b60be4f8a251b09c0.jpeg\" alt=\"Setelah Demam Poco-Poco, Kini Ada Senam Kreasi Terbaru Ikan Nae di Pante\"\/><figcaption>Senam Bersama Ikan Naek di Pante serta Gerak Peduli NTT dalam rangkaian peringatan Hari Bhakti Pariwisata 2026 di Halaman Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Minggu (27\/9).(MI\/Iis Zatnika)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Setelah demam <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/poco-poco\" title=\"poco-poco\">Poco-Poco<\/a> yang menyatukan seni musik, tarian, hingga olahraga, kini mulai eksis Ikan Nae di Pante. Musiknya yang dinamis membuat lagu ini menjadi tren <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/senam\" title=\"senam\">senam<\/a> kreasi yang mulai banyak ditemukan di berbagai acara.<\/p>\n<p>Istilah senam kreasi, menurut Wakil Ketua Umum Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia (FOKBI) Lily Greta Karmel, merupakan sebutan untuk kegiatan yang menggabungkan aktivitas menari dan senam kebugaran. Senam kreasi Ikan Nae di Pante sendiri diciptakan dua tahun lalu. Berbagai gerakannya merepresentasikan keseharian masyarakat NTT, asal lagu yang dinamis tersebut.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Gerakannya menggambarkan berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari bercocok tanam, menjala dan menangkap ikan, hingga tarian bergandengan tangan yang mencerminkan kerukunan. Kami ingin mengembangkan senam Ikan Nae di Pante agar bisa seperti Poco-Poco yang sudah berhasil kita bawa go international ke tingkat dunia,&#8221; kata Lily dalam acara Gerak Peduli NTT dalam rangkaian peringatan Hari Bhakti Pariwisata 2026 di Halaman Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Minggu (27\/9).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/olahraga\/923850\/fgi-kirim-tri-wahyuni-dan-dylanov-clara-ke-asian-games-2026\" title=\"FGI Kirim Tri Wahyuni dan Dylanov Clara ke Asian Games 2026\" target=\"_blank\">FGI Kirim Tri Wahyuni dan Dylanov Clara ke Asian Games 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ketua Umum FOKBI Sapta Nirwandar yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan Ikan Nae di Pante diharapkan dapat mengikuti keberhasilan Poco-Poco yang pada 2018 melibatkan 65.000 peserta di Jakarta dan memecahkan rekor dunia Guinness World Records untuk Poco-Poco Dance.<\/p>\n<p>Sapta menjelaskan, momentum dua tahun terciptanya senam Ikan Nae di Pante diselenggarakan bersamaan dengan aksi kemanusiaan untuk menggalang donasi bagi masyarakat NTT yang tengah terdampak bencana.<\/p>\n<p>Kegiatan Gerak Peduli NTT \u2013 Ikan Nae di Pante digelar secara hibrida dengan melibatkan 250 peserta yang hadir langsung di Jakarta serta terhubung dengan 11 kepengurusan daerah FOKBI di Indonesia.<\/p>\n<p>Senam Poco-Poco sendiri berasal dari Ternate, Maluku Utara, meskipun banyak orang juga mengaitkannya dengan Ambon, Maluku, serta sering pula dianggap khas dari Minahasa, Sulawesi Utara. Penciptanya adalah musisi asal Ternate berdarah Saparua, Arie Sapulette. Poco-Poco berasal dari bahasa Ternate yang merujuk pada bayi yang lucu, montok, atau menggemaskan. Lagu ini dipopulerkan secara luas pada tahun 1990-an, terutama lewat aransemen oleh Yopie Latul, dan sering digunakan sebagai musik pengiring senam serta tarian baris atau line dance.<\/p>\n<p>Berikut sebagian lirik Ikan Nae di Pante:<br \/>&#13;<br \/>\nIkan nae di pante<br \/>&#13;<br \/>\nMama mama dong turun beli ikan di pante<br \/>&#13;<br \/>\nLiat ko minum moke dong buat rumpu rampe<br \/>&#13;<br \/>\nKurang nikmat apa kita hidup di NTT ee<br \/>&#13;<br \/>\nDari Timur hari bae NTT<br \/>&#13;<br \/>\nDari Flores kami hadir kembali<br \/>&#13;<br \/>\nHanya lewat lagu ini<br \/>&#13;<br \/>\nKami ingin menghibur ele-le-le le lele-le le-le-le. (X-6)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/938154\/setelah-demam-poco-poco-kini-ada-senam-kreasi-terbaru-ikan-nae-di-pante\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senam Bersama Ikan Naek di Pante serta Gerak Peduli NTT dalam rangkaian peringatan Hari Bhakti Pariwisata 2026 di Halaman Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Minggu (27\/9).(MI\/Iis Zatnika) Setelah demam Poco-Poco yang menyatukan seni musik, tarian, hingga olahraga, kini mulai eksis Ikan Nae di Pante. Musiknya yang dinamis membuat lagu ini menjadi tren senam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110271,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-110270","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110270","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110270"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110270\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110271"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}