{"id":110114,"date":"2026-09-27T18:00:37","date_gmt":"2026-09-27T11:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/27\/komidigi-ancaman-ekstremisme-kini-masuk-lewat-algoritma-digital\/"},"modified":"2026-09-27T18:00:37","modified_gmt":"2026-09-27T11:00:37","slug":"komidigi-ancaman-ekstremisme-kini-masuk-lewat-algoritma-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/27\/komidigi-ancaman-ekstremisme-kini-masuk-lewat-algoritma-digital\/","title":{"rendered":"Komidigi Ancaman Ekstremisme Kini Masuk Lewat Algoritma Digital"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/27\/1790500808_42982b927fdda4cec3fb.png\" alt=\"Komidigi: Ancaman Ekstremisme Kini Masuk Lewat Algoritma Digital\"\/><figcaption>ilustrasi ancaman ekstremisme.(MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEMENTERIAN Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ancaman-ekstremisme\" title=\"Ancaman Ekstremisme\">ancaman ekstremisme<\/a> di ruang digital kini tidak lagi hanya menyebar melalui jaringan tertutup atau pertemuan langsung, tetapi masuk melalui kanal digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nDirektur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar mengatakan perubahan terbesar saat ini bukan terletak pada muatan ideologi ekstremisme, melainkan pada jalur distribusinya.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\n\u201cAncaman narasinya yang berubah saat ini bukan muatan ideologinya, tetapi jalur distribusinya,\u201d ujar Alexander dalam diskusi publik bertema Mewaspadai Ancaman Algoritma Ekstremisme di Ruang Digital di Universitas Hasanuddin Makassar, dikutip Minggu (27\/9).<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nMenurut beliau, narasi kekerasan kini dapat muncul melalui kanal yang sama dengan konten hiburan, termasuk yang dikonsumsi anak-anak dan generasi muda. Konten tersebut juga dapat dikemas menggunakan bahasa, format, dan estetika yang sudah akrab sehingga paparan awal sering kali sulit dikenali.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nAlexander menjelaskan, sistem rekomendasi platform digital bekerja berdasarkan perilaku pengguna. Ketika seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, algoritma dapat terus menawarkan konten serupa.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\n\u201cKetika teman-teman mahasiswa, adik-adik siswa SMA, satu kali saja mengklik konten kekerasan misalnya, maka algoritma akan memberikan konten itu terus-menerus ke gadget adik-adik,\u201d ujarnya.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nIa menambahkan, potensi paparan tidak hanya datang dari media sosial terbuka, tetapi juga forum penggemar, komunitas tertutup, game daring, hingga ruang percakapan digital yang sulit dipantau orang tua.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nPerwakilan Densus 88 Antiteror Polri di Sulawesi Selatan, AKP M. Faisal, mengatakan kelompok teror saat ini banyak memanfaatkan ruang digital untuk berkomunikasi dan melakukan perekrutan.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\n\u201cDari sekian banyak teroris yang dilakukan penegakan hukum oleh Densus 88, 30 persen berasal atau terpapar dari media sosial,\u201d kata Faisal.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nMenurut dia, kelompok usia muda menjadi salah satu sasaran perekrutan, terutama mereka yang masih berada dalam fase pencarian jati diri. Densus 88, kata Faisal, telah melakukan upaya pencegahan di ruang digital terkait radikalisme, terorisme, dan ekstremisme sejak 2021.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nSementara itu, Kompol Deni Ratmodiharjo dari Ditintelkam Polda Sulawesi Selatan mengatakan kepolisian melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi ancaman di ruang digital, mulai dari radikalisme, terorisme, hoaks, ujaran kebencian hingga informasi provokatif yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nDosen Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Andi Ali Armundato menilai algoritma dapat bekerja sebagai bentuk soft power yang mempengaruhi pengguna tanpa disadari. \u201cAlgoritma itu mengendalikan apa yang kita perhatikan,\u201d ujarnya.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nMenurut Andi, proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membuat seseorang menyukai suatu konten, mempercayainya, hingga akhirnya terdorong melakukan sesuatu.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nDiskusi publik tersebut diselenggarakan Ditjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi bekerja sama dengan Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin. Kegiatan diikuti mahasiswa, pelajar, dosen, serta sejumlah pemangku kepentingan di bidang keamanan dan ruang digital. (Cah\/P-3)<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/938132\/komidigi-ancaman-ekstremisme-kini-masuk-lewat-algoritma-digital\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi ancaman ekstremisme.(MI) KEMENTERIAN Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan bahwa ancaman ekstremisme di ruang digital kini tidak lagi hanya menyebar melalui jaringan tertutup atau pertemuan langsung, tetapi masuk melalui kanal digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.&#13; \u00a0&#13; Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar mengatakan perubahan terbesar saat ini bukan terletak pada muatan ideologi ekstremisme, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110115,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-110114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110114"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110114\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}