{"id":109942,"date":"2026-09-27T09:59:36","date_gmt":"2026-09-27T02:59:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/27\/misteri-sendawa-lubang-hitam-terungkap-sama-saja-meski-beda-ukuran\/"},"modified":"2026-09-27T09:59:36","modified_gmt":"2026-09-27T02:59:36","slug":"misteri-sendawa-lubang-hitam-terungkap-sama-saja-meski-beda-ukuran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/27\/misteri-sendawa-lubang-hitam-terungkap-sama-saja-meski-beda-ukuran\/","title":{"rendered":"Misteri Sendawa Lubang Hitam Terungkap Sama Saja Meski Beda Ukuran"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/27\/1790455146_03740e3907d92fa07232.jpg\" alt=\"Misteri \" sendawa=\"\" lubang=\"\" hitam=\"\" terungkap:=\"\" sama=\"\" saja=\"\" meski=\"\" beda=\"\" ukuran=\"\"\/><figcaption>Ilustrasi lubang hitam yang merobek bintang selama peristiwa gangguan pasang surut(NRAO\/AUI\/NSF\/NASA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lubang-hitam\" title=\"lubang hitam\">LUBANG hitam<\/a> di alam semesta hadir dalam berbagai variasi ukuran. Mulai dari lubang hitam bermassa bintang yang ukurannya hanya beberapa kali lipat massa Matahari, hingga lubang hitam supermasif bernilai miliaran kali massa Matahari yang mendominasi pusat galaksi-galaksi besar. Meski skala ukurannya sangat jauh berbeda, penelitian terbaru menunjukkan fenomena semburan energi atau &#8220;sendawa&#8221; saat mereka memangsa bintang ternyata mengikuti mekanisme yang serupa.<\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah berteori bahwa prinsip fisika dasar yang bekerja pada lubang hitam seharusnya sama tanpa memandang perbedaan ukuran dan massanya. Namun, membuktikan teori tersebut secara langsung di lapangan sangat sulit. Hal ini disebabkan proses evolusi lubang hitam supermasif di pusat galaksi yang memakan waktu sangat lambat, yakni hingga ribuan bahkan jutaan tahun.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Guna mengatasi hambatan skala waktu tersebut, para astronom mempelajari fenomena yang dikenal sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tidal-disruption-event\" title=\"tidal disruption event\">Tidal Disruption Event<\/a> (TDE) atau peristiwa gangguan pasang surut. Pada peristiwa ini, proses pemangsaan materi oleh lubang hitam terkompresi dalam rentang waktu beberapa tahun saja, sehingga memungkinkan untuk diamati secara langsung oleh manusia.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/936007\/perubahan-rasa-partikel-hantu-ungkap-penentu-bintang-meledak-jadi-supernova-atau-runtuh-jadi-lubang-hitam\" title=\"Perubahan 'Rasa' Partikel Hantu Ungkap Penentu Bintang Meledak Jadi Supernova atau Runtuh Jadi Lubang Hitam\" target=\"_blank\">Perubahan &#8216;Rasa&#8217; Partikel Hantu Ungkap Penentu Bintang Meledak Jadi Supernova atau Runtuh Jadi Lubang Hitam<\/a><\/strong><\/p>\n<p>TDE terjadi ketika orbit sebuah bintang melintas terlalu dekat dengan gravitasi ekstrem lubang hitam. Gaya pasang surut yang sangat kuat kemudian meremas bintang secara horizontal dan meregangkannya secara vertikal, sebuah proses yang dikenal dalam istilah astrofisika sebagai spaghettification.<\/p>\n<p>Materi plasma dari bintang yang hancur tersebut kemudian tergulung di sekitar lubang hitam. Akan tetapi, proses pemangsaan ini tidak berlangsung rapi. Lubang hitam memuntahkan sebagian besar materi bintang tersebut, melontarkannya dari area kutub sebagai semburan jet berkecepatan mendekati kecepatan cahaya yang membentang hingga ribuan tahun cahaya. Fenomena semburan inilah yang kerap diandalkan sebagai &#8220;sendawa&#8221; kosmik.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, mekanisme pasti yang memicu jet energi ini sempat menjadi misteri, terutama karena adanya jeda waktu antara momen lubang hitam memangsa bintang dengan momen pelepasan pancaran jet tersebut.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/932196\/ledakan-sinyal-misterius-di-alam-semesta-jadi-kunci-buka-misteri-kosmik\" title=\"Ledakan Sinyal Misterius di Alam Semesta Jadi Kunci Buka Misteri Kosmik\" target=\"_blank\">Ledakan Sinyal Misterius di Alam Semesta Jadi Kunci Buka Misteri Kosmik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mengapa beberapa lubang hitam supermasif langsung memancarkan jet gelombang radio tepat setelah mencabik-cabik bintang, sementara yang lain tampak diam sepenuhnya dan baru menyalakan jet mereka beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian?&#8221; ujar peneliti utama Andrew Mummery dari Institute for Advanced Study (IAS) School of Natural Sciences. &#8220;Kami sangat ingin memecahkan teka-teki besar ini.&#8221;<\/p>\n<p>Gagasan baru untuk memecahkan teka-teki ini muncul saat Mummery dan rekan penulis studi, Adelle J. Goodwin, berdiskusi di sebuah bar di Madrid, Spanyol, di sela-sela kegiatan konferensi. Mereka menyadari aturan fisik yang berlaku pada pancaran jet lubang hitam bermassa bintang seharusnya juga berlaku pada lubang hitam supermasif.<\/p>\n<p>Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti menganalisis data lintas radiasi elektromagnetik dari sampel 20 TDE. Dari sampel tersebut, separuhnya memiliki data yang cukup andal untuk memodelkan perilaku pemangsaan serta semburan materi keluar pada lubang hitam.<\/p>\n<p>Hasil pengamatan menunjukkan pembentukan jet energi terjadi dalam dua fase terpisah:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Fase Pertama: Terjadi saat lubang hitam supermasif sedang memangsa materi pada tingkat paling ekstrem.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Fase Kedua: Terjadi jauh setelahnya, bahkan bisa mencapai hitungan tahun setelah bintang hancur. Fase ini muncul ketika tingkat pemangsaan lubang hitam menurun hingga menyentuh angka 2 persen dari Eddington limit (batas Eddington).<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Eddington limit sendiri merupakan titik ambang sebelum radiasi dari objek yang memangsa materi menjadi begitu intens hingga tekanannya menolak materi baru untuk masuk.<\/p>\n<p>Ambang batas 2% ini menjadi penemuan kunci karena pada titik itulah lubang hitam bermassa bintang meluncurkan jet mereka sendiri. Artinya, baik lubang hitam berukuran beberapa kali massa Matahari maupun yang berukuran miliaran kali lebih besar, proses pembentukan jet energi bekerja dengan cara yang persis sama.<\/p>\n<p>Temuan yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy ini membuka jalan baru bagi para astronom untuk memprediksi kapan sebuah lubang hitam akan meluncurkan pancaran energinya saat mengamati peristiwa TDE di masa depan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami berharap pekerjaan kami dapat membuka jalan bagi penemuan-penemuan yang jauh lebih mendalam tentang alam semesta kita,&#8221; tutur Mummery. (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/938043\/misteri-sendawa-lubang-hitam-terungkap-sama-saja-meski-beda-ukuran\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi lubang hitam yang merobek bintang selama peristiwa gangguan pasang surut(NRAO\/AUI\/NSF\/NASA) LUBANG hitam di alam semesta hadir dalam berbagai variasi ukuran. Mulai dari lubang hitam bermassa bintang yang ukurannya hanya beberapa kali lipat massa Matahari, hingga lubang hitam supermasif bernilai miliaran kali massa Matahari yang mendominasi pusat galaksi-galaksi besar. Meski skala ukurannya sangat jauh berbeda, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109943,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109942"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109942\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}