{"id":109780,"date":"2026-09-26T22:22:48","date_gmt":"2026-09-26T15:22:48","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/kanker-usus-besar-bisa-dioperasi-dengan-robotik-ini-pertimbangan-dokter\/"},"modified":"2026-09-26T22:22:48","modified_gmt":"2026-09-26T15:22:48","slug":"kanker-usus-besar-bisa-dioperasi-dengan-robotik-ini-pertimbangan-dokter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/kanker-usus-besar-bisa-dioperasi-dengan-robotik-ini-pertimbangan-dokter\/","title":{"rendered":"Kanker Usus Besar Bisa Dioperasi dengan Robotik, ini Pertimbangan Dokter"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/26\/1790435192_eb7b68f1831fbec9edc1.jpg\" alt=\"Kanker Usus Besar Bisa Dioperasi dengan Robotik, ini Pertimbangan Dokter\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnifik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Pengobatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kanker-usus-besar\" title=\"Kanker usus besar\">kanker usus besar<\/a> dapat melibatkan berbagai metode, salah satunya operasi untuk mengangkat jaringan kanker. Seiring perkembangan teknologi medis, operasi dengan bantuan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/robot\" title=\"robot\">robot<\/a> menjadi salah satu pilihan teknik minimal invasif yang dapat digunakan pada sebagian pasien. Namun, metode ini tidak otomatis menjadi pilihan untuk setiap kasus karena keputusan operasi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan karakteristik tumornya.<\/p>\n<p>Menurut National Cancer Institute (NCI), operasi merupakan salah satu terapi utama pada kanker usus besar. Jenis tindakan yang dilakukan dapat berbeda berdasarkan stadium kanker, lokasi dan ukuran tumor, kondisi kesehatan pasien, serta apakah seluruh tumor dapat diangkat melalui operasi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/operasi-robotik\" title=\"operasi robotik\">operasi robotik<\/a>, dokter bedah tetap menjadi pihak yang mengendalikan tindakan. Sistem robot digunakan sebagai alat bantu untuk menggerakkan instrumen bedah yang dimasukkan melalui sayatan kecil. Teknik tersebut termasuk dalam kelompok operasi minimal invasif, bersama dengan metode laparoskopi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/937880\/jangan-disepelekan-5-kebiasaan-ini-bisa-tingkatkan-risiko-kanker-usus-besar-\" title=\"Jangan Disepelekan, 5 Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar \" target=\"_blank\">Jangan Disepelekan, 5 Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar <\/a><\/strong><\/p>\n<p>American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS) menjelaskan bahwa operasi robotik merupakan salah satu perkembangan dari teknik minimal invasif untuk penyakit pada usus besar dan rektum. Pendekatan ini memungkinkan dokter melakukan operasi melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi terbuka pada kasus yang sesuai.<\/p>\n<h3><strong>Lantas, kapan metode robotik dapat dipertimbangkan?<\/strong><\/h3>\n<p>Salah satu pertimbangannya adalah ketika kanker dapat ditangani melalui operasi minimal invasif dan kondisi pasien memungkinkan prosedur tersebut dilakukan dengan aman. Dokter akan melihat karakteristik tumor, riwayat operasi sebelumnya, kondisi medis secara keseluruhan, serta faktor lain yang dapat memengaruhi keamanan tindakan.<\/p>\n<p>Lokasi dan tingkat kesulitan operasi juga menjadi pertimbangan. Teknologi robot dapat memberikan bantuan dalam melakukan gerakan instrumen secara presisi, terutama pada prosedur yang membutuhkan ruang gerak lebih terbatas. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa operasi kolorektal dengan bantuan robot memiliki tingkat keberhasilan yang sebanding dengan teknik laparoskopi dalam berbagai hasil klinis.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/935151\/mengenal-bedah-robotik-presisi-medis-di-tangan-dokter\" title=\"Mengenal Bedah Robotik, Presisi Medis di Tangan Dokter\" target=\"_blank\">Mengenal Bedah Robotik, Presisi Medis di Tangan Dokter<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sebuah umbrella review yang diterbitkan pada 2026 dan mencakup 27 tinjauan dengan lebih dari 110.000 pasien menemukan bahwa operasi kolorektal robotik memiliki hasil perioperatif dan onkologis yang secara umum sebanding dengan laparoskopi. Salah satu temuan yang konsisten adalah lebih rendahnya kemungkinan operasi harus dialihkan menjadi operasi terbuka, terutama pada operasi kanker rektum dan pasien dengan obesitas.<\/p>\n<p>Meta-analisis terhadap 12 uji klinis acak dengan 3.107 pasien juga menemukan bahwa operasi dengan bantuan robot memiliki tingkat konversi ke operasi terbuka yang lebih rendah dibandingkan laparoskopi. Lama rawat inap sedikit lebih pendek, sementara komplikasi pascaoperasi secara keseluruhan tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Namun, waktu operasi robotik cenderung lebih panjang.<\/p>\n<p>Meski menawarkan sejumlah keuntungan, operasi robotik tetap memiliki keterbatasan. Biaya prosedur dan penggunaan peralatan khusus dapat menjadi lebih tinggi. Selain itu, tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas robotik atau dokter bedah yang memiliki pengalaman khusus dalam teknik tersebut.<\/p>\n<p>Pasien dengan riwayat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/operasi-perut\" title=\"operasi perut\">operasi perut<\/a> tertentu, kondisi medis berat, atau karakteristik tumor yang membuat prosedur minimal invasif kurang aman mungkin membutuhkan pendekatan berbeda. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat memulai operasi dengan teknik minimal invasif tetapi kemudian mengubahnya menjadi operasi terbuka jika tindakan tersebut dianggap lebih aman. ASCRS menyebut perubahan teknik tersebut sebagai conversion dan tidak selalu berarti terjadi komplikasi.<\/p>\n<p>Karena itu, keputusan menjalani operasi robotik tidak hanya didasarkan pada keinginan menggunakan teknologi terbaru. Dokter perlu menilai stadium dan karakteristik kanker, lokasi tumor, kondisi tubuh pasien, riwayat kesehatan, serta pengalaman tim bedah.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, tujuan utama operasi kanker usus besar tetap mengangkat jaringan kanker secara aman dengan tetap mengikuti prinsip operasi kanker. Teknik robotik menjadi salah satu alat yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut pada pasien yang sesuai.<\/p>\n<p>Bagi pasien yang mempertimbangkan metode ini, diskusi dengan dokter spesialis bedah kolorektal menjadi langkah penting. Pasien dapat menanyakan apakah dirinya merupakan kandidat operasi minimal invasif, keuntungan dan risikonya, kemungkinan beralih ke operasi terbuka, serta pengalaman dokter dalam melakukan prosedur robotik.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: <em>National Cancer Institute (NCI)<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/938017\/kanker-usus-besar-bisa-dioperasi-dengan-robotik-ini-pertimbangan-dokter\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnifik) Pengobatan kanker usus besar dapat melibatkan berbagai metode, salah satunya operasi untuk mengangkat jaringan kanker. Seiring perkembangan teknologi medis, operasi dengan bantuan robot menjadi salah satu pilihan teknik minimal invasif yang dapat digunakan pada sebagian pasien. Namun, metode ini tidak otomatis menjadi pilihan untuk setiap kasus karena keputusan operasi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109781,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109780","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109780"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109780\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}