{"id":109578,"date":"2026-09-26T13:53:37","date_gmt":"2026-09-26T06:53:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/benarkah-makanan-ultra-olahan-berkaitan-dengan-gejala-depresi-ini-kata-studi\/"},"modified":"2026-09-26T13:53:37","modified_gmt":"2026-09-26T06:53:37","slug":"benarkah-makanan-ultra-olahan-berkaitan-dengan-gejala-depresi-ini-kata-studi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/benarkah-makanan-ultra-olahan-berkaitan-dengan-gejala-depresi-ini-kata-studi\/","title":{"rendered":"Benarkah Makanan Ultra-Olahan Berkaitan dengan Gejala Depresi Ini Kata Studi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/26\/1790404935_4b96ac8ba681382e1cdd.jpg\" alt=\"Benarkah Makanan Ultra-Olahan Berkaitan dengan Gejala Depresi? Ini Kata Studi\"\/><figcaption>Ilustrasi makanan ultra-proses. Penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENELITI menemukan keterkaitan antara\u00a0 mengonsumsi makanan kemasan, makanan cepat saji, atau produk dengan banyak bahan tambahan dengan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-mental\" title=\"Kesehatan Mental\">kesehatan mental<\/a>.\u00a0\u00a0<\/p>\n<p>Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perbaikan kualitas pola makan dengan lebih banyak makanan minim proses berkaitan dengan penurunan gejala <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/depresi\" title=\"depresi\">depresi<\/a> pada orang dewasa.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada April 2026 tersebut dilakukan oleh peneliti dari University of Michigan dan melibatkan 31 orang dewasa dengan gejala depresi sedang hingga sedang-berat.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/925778\/8-cara-mengelola-depresi-dan-kecemasan-untuk-kesehatan-mental\" title=\"8 Cara Mengelola Depresi dan Kecemasan untuk Kesehatan Mental\" target=\"_blank\">8 Cara Mengelola Depresi dan Kecemasan untuk Kesehatan Mental<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Peserta menjalani intervensi pola makan selama dua minggu setelah sebelumnya menjalani masa pengamatan selama satu minggu.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\nBerdasarkan laporan dari <em>Scientific<\/em> <em>Reports<\/em>, penelitian membagi peserta secara acak ke dalam dua kelompok. Sebanyak 20 peserta mendapat makanan melalui layanan pengantaran, sementara 11 peserta lainnya menerapkan panduan pola makan secara mandiri.<\/p>\n<p>Kedua kelompok diarahkan mengonsumsi makanan yang sebagian besar minim proses, dengan lebih sedikit gula tambahan dan karbohidrat olahan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917312\/dampak-jerawat-terhadap-kesehatan-mental-dan-pentingnya-penanganan-dini\" title=\"Dampak Jerawat terhadap Kesehatan Mental dan Pentingnya Penanganan Dini\" target=\"_blank\">Dampak Jerawat terhadap Kesehatan Mental dan Pentingnya Penanganan Dini<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hasilnya, kualitas pola makan meningkat pada seluruh peserta. Sementara penurunan gejala depresi terlihat pada kelompok yang menerima makanan melalui layanan pengantaran.<\/p>\n<p>Namun, temuan ini masih bersifat awal karena penelitian merupakan studi percontohan dengan jumlah peserta yang kecil. Peneliti menyebutkan bahwa semakin besar peningkatan kualitas pola makan, semakin besar pula penurunan gejala depresi, tetapi penelitian lebih besar dan lebih lama masih diperlukan untuk memastikan hasil tersebut.<\/p>\n<h3>Apa Itu Makanan Ultra-Proses?<\/h3>\n<p>Dilansir dari <em>Healthline<\/em>, makanan ultra-proses merupakan produk yang mengalami pengolahan industri secara intensif dan umumnya mengandung bahan tambahan, contohnya antara lain makanan ringan kemasan, minuman manis, dan produk siap santap. Namun, tidak semua makanan yang diproses tergolong tidak sehat, sehingga fokusnya lebih pada memperbanyak konsumsi makanan utuh atau minim proses.<\/p>\n<p>Temuan tersebut menunjukkan bahwa pola makan berpotensi menjadi salah satu bagian dalam mendukung kesehatan mental. Meski demikian, perubahan pola makan tidak dapat menggantikan penanganan profesional untuk depresi, terutama bagi mereka yang mengalami gejala menetap atau berat. (H-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/937871\/benarkah-makanan-ultra-olahan-berkaitan-dengan-gejala-depresi-ini-kata-studi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi makanan ultra-proses. Penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi(Magnific) PENELITI menemukan keterkaitan antara\u00a0 mengonsumsi makanan kemasan, makanan cepat saji, atau produk dengan banyak bahan tambahan dengan kesehatan mental.\u00a0\u00a0 Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perbaikan kualitas pola makan dengan lebih banyak makanan minim proses berkaitan dengan penurunan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109579,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109578","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109578"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109578\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}