{"id":109508,"date":"2026-09-26T10:54:03","date_gmt":"2026-09-26T03:54:03","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/ini-tips-menyimpan-makanan-sisa-di-kulkas\/"},"modified":"2026-09-26T10:54:03","modified_gmt":"2026-09-26T03:54:03","slug":"ini-tips-menyimpan-makanan-sisa-di-kulkas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/26\/ini-tips-menyimpan-makanan-sisa-di-kulkas\/","title":{"rendered":"Ini Tips Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/26\/1790394362_8511f8b080f5fddf50cc.jpg\" alt=\"Ini Tips Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENYIMPAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/makanan\" title=\"makanan\">makanan<\/a> sisa di dalam <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kulkas\" title=\"kulkas\">kulkas<\/a> sering kali dianggap sebagai solusi praktis untuk menekan pemborosan pangan (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/food-waste\" title=\"Food waste\">food waste<\/a>). Namun, kebiasaan ini tidak serta-merta menjamin makanan tetap aman dikonsumsi jika tidak dilakukan dengan prosedur yang benar.<\/p>\n<p>Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengingatkan bahwa penyimpanan yang salah dapat memicu penyakit bawaan makanan (<em>foodborne disease<\/em>) serta menurunkan kualitas gizi. Menurutnya, suhu dingin kulkas bukan cara untuk mensterilkan makanan, melainkan hanya memperlambat aktivitas mikroorganisme.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3>Bakteri Tidak Mati, Hanya Melambat<\/h3>\n<p>&#8220;Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1\u20134\u00b0C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri,&#8221; ujar Rosyda.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kuliner\/846827\/menikmati-hidangan-bakaran-tanpa-cemas-panduan-gizi-dan-keamanan-pangan\" title=\"Menikmati Hidangan Bakaran Tanpa Cemas: Panduan Gizi dan Keamanan Pangan\" target=\"_blank\">Menikmati Hidangan Bakaran Tanpa Cemas: Panduan Gizi dan Keamanan Pangan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menekankan pentingnya menghindari <em>temperature danger zone<\/em>, yakni rentang suhu 5\u00b0C hingga 60\u00b0C. Pada kondisi ini, mikroorganisme dapat berkembang biak dengan sangat cepat, sehingga risiko kontaminasi meningkat tajam.<\/p>\n<h3>Panduan Keamanan dan Masa Simpan<\/h3>\n<p>Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu di bawah atau sama dengan 4\u00b0C disarankan untuk dikonsumsi dalam waktu 3 hingga 4 hari. Namun, jenis makanan tertentu seperti nasi dan pasta memerlukan perhatian ekstra karena risiko spora <em>Bacillus cereus<\/em> yang tahan suhu tertentu.<\/p>\n<div style=\"border: 1px solid #ccc; padding: 15px; margin: 20px 0; background-color: #f9f9f9;\"><strong>Ringkasan Parameter Keamanan Penyimpanan Makanan:<\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 10px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #e2e2e2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px; text-align: left;\">Parameter<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px; text-align: left;\">Ketentuan Aman<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Suhu Kulkas Ideal<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">1\u00b0C \u2013 4\u00b0C<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Temperature Danger Zone<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">5\u00b0C \u2013 60\u00b0C (Hindari)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Durasi Simpan Umum<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Maksimal 3\u20134 Hari<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Suhu Pemanasan Ulang<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Minimal 74\u00b0C (Merata)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<\/div>\n<h3>Dampak Terhadap Kandungan Gizi<\/h3>\n<p>Penyimpanan dan proses pemanasan kembali (<em>reheating<\/em>) juga berdampak pada nutrisi. Vitamin larut air seperti vitamin C dan B kompleks sangat sensitif terhadap panas dan oksidasi. Selain itu, lemak tak jenuh dalam makanan dapat mengalami oksidasi jika wadah penyimpanan tidak tertutup rapat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/835459\/pola-makan-jadi-faktor-kunci-kurangi-food-waste\" title=\"Pola Makan Jadi Faktor Kunci Kurangi Food Waste\" target=\"_blank\">Pola Makan Jadi Faktor Kunci Kurangi Food Waste<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Meski demikian, ada sisi positif pada makanan berkarbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta. Proses pendinginan dapat mengubah struktur pati menjadi lebih sulit dicerna (pati resisten), yang justru bermanfaat dalam mengendalikan kenaikan gula darah dan mendukung kesehatan pencernaan, selama tidak terjadi kontaminasi.<\/p>\n<h3>Prinsip &#8220;2\u20134\u201374&#8221; untuk Mencegah Risiko<\/h3>\n<p>Rosyda menyoroti beberapa kesalahan umum masyarakat, seperti membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang, menggunakan wadah yang terlalu besar dan dalam, hingga mencampur makanan matang dengan bahan mentah (kontaminasi silang).<\/p>\n<p>Sebagai solusi praktis, ia memperkenalkan prinsip <strong>&#8220;2\u20134\u201374&#8221;<\/strong>:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>2:<\/strong> Jangan biarkan makanan mudah rusak lebih dari 2 jam di suhu ruang.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>4:<\/strong> Simpan makanan pada suhu sekitar 4\u00b0C atau lebih rendah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>74:<\/strong> Panaskan kembali makanan hingga mencapai suhu minimal 74\u00b0C secara merata sebelum dikonsumsi.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>&#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keamanan-pangan\" title=\"Keamanan pangan\">Keamanan pangan<\/a> tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,&#8221; tutupnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kuliner\/937834\/ini-tips-menyimpan-makanan-sisa-di-kulkas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) MENYIMPAN makanan sisa di dalam kulkas sering kali dianggap sebagai solusi praktis untuk menekan pemborosan pangan (food waste). Namun, kebiasaan ini tidak serta-merta menjamin makanan tetap aman dikonsumsi jika tidak dilakukan dengan prosedur yang benar. Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengingatkan bahwa penyimpanan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109509,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109508"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109508\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109509"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}