{"id":109238,"date":"2026-09-25T21:55:36","date_gmt":"2026-09-25T14:55:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/walhi-dorong-pengurangan-risiko-bencana-jadi-standar-pembangunan-flores\/"},"modified":"2026-09-25T21:55:36","modified_gmt":"2026-09-25T14:55:36","slug":"walhi-dorong-pengurangan-risiko-bencana-jadi-standar-pembangunan-flores","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/walhi-dorong-pengurangan-risiko-bencana-jadi-standar-pembangunan-flores\/","title":{"rendered":"WALHI Dorong Pengurangan Risiko Bencana Jadi Standar Pembangunan Flores"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/25\/1790347287_31d78c2b6cb4a812b8e8.jpg\" alt=\"WALHI Dorong Pengurangan Risiko Bencana Jadi Standar Pembangunan Flores\"\/><figcaption>Foto udara menunjukkan kerusakan pada bangunan terminal penumpang Pelabuhan Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16\/8\/2026)(ANTARA\/Mega Toka)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/walhi\" title=\"Walhi\">WALHI<\/a>) menyoroti tingginya kerentanan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap berbagai ancaman bencana setelah gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Selain dampak langsung gempa, masyarakat disebut menghadapi sejumlah persoalan turunan, mulai dari kesulitan akses air dan pangan hingga munculnya persoalan sosial di sejumlah wilayah terdampak.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Daerah WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga mengatakan bahwa Flores merupakan salah satu wilayah dengan risiko bencana yang tinggi dan beragam. Kondisi tersebut dipengaruhi posisi Flores yang berada di kawasan Ring of Fire serta wilayah pertemuan lempeng tektonik.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Flores ini salah satu pulau, salah satu wilayah yang punya risiko yang cukup tinggi dan beragam. Dia persis berada di atas Ring of Fire, pertemuan tiga lempeng,&#8221; kata Yuvensius dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (25\/9).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/937675\/walhi-ungkap-dampak-pascagempa-flores-dari-krisis-air-hingga-persoalan-sosial\" title=\"Walhi Ungkap Dampak Pascagempa Flores, dari Krisis Air hingga Persoalan Sosial\" target=\"_blank\">Walhi Ungkap Dampak Pascagempa Flores, dari Krisis Air hingga Persoalan Sosial<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut dia, ancaman di Flores tidak hanya berasal dari gempa bumi. Aktivitas gunung api juga menjadi salah satu ancaman yang perlu diperhitungkan karena sejumlah wilayah di Flores dan pulau-pulau kecil di sekitarnya memiliki risiko letusan gunung berapi.<\/p>\n<p>Yuvensius menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan di Flores. Analisis risiko bencana dan daya dukung lingkungan, kata dia, perlu menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Ini yang luput sampai hari ini. Itu tidak dilihat oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah di daerah, tidak kemudian menjadikan salah satu perspektif analisis risiko yang kemudian menjadi pertimbangan untuk menentukan kebijakan apa yang cocok untuk dilakukan di Flores,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/937657\/108-warga-meninggal-di-pengungsian-walhi-desak-evaluasi-penanganan-bencana\" title=\"108 Warga Meninggal di Pengungsian, Walhi Desak Evaluasi Penanganan Bencana\" target=\"_blank\">108 Warga Meninggal di Pengungsian, Walhi Desak Evaluasi Penanganan Bencana<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Yuvensius menegaskan pengurangan risiko bencana tidak seharusnya baru dilakukan setelah bencana terjadi. Menurutnya, pemerintah perlu membangun kapasitas masyarakat dan sistem kesiapsiagaan jauh sebelum gempa maupun letusan gunung api terjadi.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan dampak letusan Gunung Lewotobi yang turut memengaruhi sektor peternakan masyarakat. Menurut dia, pemerintah perlu membangun sistem kesiapsiagaan yang mampu melindungi sumber penghidupan masyarakat, bukan hanya menyalurkan bantuan setelah bencana terjadi.<\/p>\n<p>&#8220;Yang kami minta bukan bahwa ini akan diurus ternaknya atau akan dikasih air atau akan dikasih rumah atau tidak. Tapi kemudian kapasitas itu yang perlu dibangun jauh sebelum bencana atau risiko atau ancaman itu terjadi. Itu harus dibangun dalam sebuah sistem yang lebih siap dari pemerintah pusat juga pemerintah daerah,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>WALHI NTT pun meminta pemerintah menjadikan bencana di Flores sebagai momentum untuk mengevaluasi berbagai kebijakan pembangunan yang telah maupun sedang dijalankan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Yuvensius menilai evaluasi perlu dilakukan terhadap kebijakan berskala besar yang berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan dan meningkatkan kerentanan masyarakat.<\/p>\n<p>Ia menyinggung penetapan Flores sebagai wilayah pengembangan panas bumi sejak 2017, serta berbagai proyek pembangunan berskala besar, seperti pariwisata dan bendungan.<\/p>\n<p>&#8220;Di Flores, dari 2017 Flores ditetapkan sebagai pulau geothermal tanpa kemudian menanyakan kepada orang Flores sendiri. Kemudian kebijakan-kebijakan skala besar seperti pariwisata, bendungan, dan macam-macam itu juga punya poin-poin kerentanan yang kemudian memberikan kepada masyarakat Flores sendiri,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Yuvensius, evaluasi terhadap kebijakan tersebut penting karena sebagian besar masyarakat Flores menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan perikanan. Kondisi tersebut membuat akses terhadap pangan menjadi persoalan penting ketika bencana terjadi.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika ini daerah dengan mayoritas petani cukup banyak, ketika situasi bencana justru akses ke pangan sulit, justru itu yang harus dijawab oleh pemerintah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Karena itu, WALHI NTT mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai standar dalam perencanaan pembangunan di Flores. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan ancaman bencana, daya dukung lingkungan, serta keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Yuvensius menilai masa depan Flores perlu dirancang dengan perspektif pembangunan yang memperhitungkan karakter wilayah dan beragam ancaman bencana yang dihadapinya.<\/p>\n<p>&#8220;Pengurangan risiko bencana harus jadi standar yang harus diperhatikan oleh pemerintah pusat, juga pemerintah daerah, sehingga masa depan Flores atau perspektif pembangunan di sana itu juga bisa memperhatikan soal ancaman-ancaman bencana tadi,&#8221; tuturnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/937712\/walhi-dorong-pengurangan-risiko-bencana-jadi-standar-pembangunan-flores\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto udara menunjukkan kerusakan pada bangunan terminal penumpang Pelabuhan Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16\/8\/2026)(ANTARA\/Mega Toka) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti tingginya kerentanan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap berbagai ancaman bencana setelah gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Selain dampak langsung gempa, masyarakat disebut menghadapi sejumlah persoalan turunan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109239,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109238"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109238\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109239"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}