{"id":109196,"date":"2026-09-25T20:06:37","date_gmt":"2026-09-25T13:06:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/bedah-buku-kpu-solo-melawan-fenomena-buruh-nyoblos-dalam-demokrasi\/"},"modified":"2026-09-25T20:06:37","modified_gmt":"2026-09-25T13:06:37","slug":"bedah-buku-kpu-solo-melawan-fenomena-buruh-nyoblos-dalam-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/bedah-buku-kpu-solo-melawan-fenomena-buruh-nyoblos-dalam-demokrasi\/","title":{"rendered":"Bedah Buku KPU Solo Melawan Fenomena Buruh Nyoblos dalam Demokrasi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/25\/1790341085_c2a341badd197bc8c329.jpg\" alt=\"Bedah Buku KPU Solo: Melawan Fenomena Buruh Nyoblos dalam Demokrasi\"\/><figcaption>Ilustrasi(MI\/WIDJAJADI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DEMOKRASI jangan direduksi menjadi sekadar rutinitas lima tahunan yang berakhir di bilik suara. Kegelisahan itulah yang melatari forum <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bedah-buku\" title=\"Bedah Buku\">bedah buku<\/a> bertajuk <i>&#8220;Jalan Terjal Konsolidasi Demokrasi: Untold Story Pemilu 2014&#8221;<\/i> yang digelar di Kantor KPU Kota Solo, Kamis (24\/9\/2026) petang.<\/p>\n<p>Forum ini bukan sekadar ajang nostalgia Pemilu 2014, melainkan ruang dialektika lintas komunitas yang hangat. Hadir di antaranya para aktivis Cipayung Plus yang meliputi HMI, PMII, GMNI, PMKRI, GMKI, IMM, hingga KAMMI. Penulis buku yang juga Ketua <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kpu-solo\" title=\"kpu solo\">KPU Solo<\/a> periode 2013-2018, Agus Sulistyo, mengajak peserta melihat kembali problem demokrasi elektoral yang masih sangat relevan hingga saat ini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Ancaman Ideologi Politik Uang<\/h2>\n<p>Salah satu sorotan tajam dalam diskusi tersebut adalah semakin permisifnya praktik politik uang. Agus menegaskan bahwa politik uang kini telah bergeser menjadi semacam &#8220;ideologi&#8221; yang mengubah cara pandang warga terhadap hak suaranya sendiri.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/935851\/sinergi-multistakeholder-jadi-kunci-perkuat-tata-kelola-sumber-daya-alam-nasional\" title=\"Sinergi Multistakeholder Jadi Kunci Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Alam Nasional\" target=\"_blank\">Sinergi Multistakeholder Jadi Kunci Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Alam Nasional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kandidat membutuhkan suara, sementara suara diperlakukan sebagai komoditas,&#8221; tulis Agus dalam bukunya. Ia menyayangkan suara rakyat yang seharusnya menjadi ekspresi kedaulatan, kini justru berubah menjadi barang yang bisa ditukar dengan materi.<\/p>\n<h2>Fenomena &#8216;Buruh Nyoblos&#8217;<\/h2>\n<p>Dari praktik transaksional tersebut, lahir kritik yang disebut Agus sebagai fenomena &#8220;buruh nyoblos&#8221;. Dalam kondisi ini, rakyat hanya diposisikan sebagai massa pemilik suara pada hari pemungutan suara: datang, mencoblos, lalu selesai tanpa keterikatan ideologis maupun programatik.<\/p>\n<p>&#8220;<i>One man one vote, but not one value<\/i>,&#8221; sergah mantan aktivis pergerakan 98 ini. Ia menekankan bahwa secara angka, semua suara memang sama. Namun, kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kesadaran di baliknya; apakah memilih karena rekam jejak, program, dan integritas, atau sekadar karena amplop.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/934986\/14-tahun-perjalanan-mengelola-isu-konflik-dan-krisis\" title=\"14 Tahun Perjalanan Mengelola Isu, Konflik dan Krisis\" target=\"_blank\">14 Tahun Perjalanan Mengelola Isu, Konflik dan Krisis<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Forum juga menyoroti fenomena golput yang tidak bisa dibaca hanya sebagai angka ketidakhadiran. Terdapat persoalan <i>electoral disconnect<\/i> atau terputusnya relasi antara wakil rakyat dengan konstituen yang diwakilinya. Oleh karena itu, pekerjaan rumah penyelenggara pemilu bukan hanya memastikan kehadiran fisik di TPS, tetapi membangun pemahaman mengapa suara mereka penting bagi masa depan.<\/p>\n<h2>Pendidikan Pemilih yang Inklusif<\/h2>\n<p>Agus menawarkan gagasan pendidikan pemilih yang tidak seragam. Menurutnya, sosialisasi KPU tidak boleh hanya berisi tata cara teknis mencoblos, tetapi harus menggunakan strategi berbasis kultur komunitas.<\/p>\n<p>Pemilih muda dengan ekosistem digital, kelompok difabel, hingga pemilih marginal membutuhkan pendekatan yang berbeda. &#8220;Tidak bisa semua pemilih dipukul rata dengan satu model sosialisasi,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Buku tersebut secara khusus mengulas pengalaman menyasar sembilan lembaga difabel di Solo. Agus berargumen bahwa demokrasi menjadi inklusif ketika kelompok difabel ditempatkan sebagai subjek politik, bukan sekadar objek sosialisasi. Fokusnya harus bergeser dari sekadar jumlah kehadiran menjadi kesetaraan akses informasi dan ruang politik.<\/p>\n<p>&#8220;Sosialisasi harus menjadi diskursus yang memperkaya literasi dan narasi yang mendidik, bukan hanya sebatas KPU bicara dan masyarakat mendengarkan,&#8221; ujar Agus.<\/p>\n<p>Diskusi semakin dinamis dengan tanggapan dari Zidan Maulana (HMI), Dimas Suryo Aji (Gusdurian), dan Rahmad Hendro (Perisai Demokrasi). Refleksi akhir dari bedah buku ini mengingatkan bahwa di balik satu angka rekapitulasi, terdapat harapan dan masa depan manusia yang dipertaruhkan. Demokrasi yang sehat bukan mencetak &#8220;buruh nyoblos&#8221;, melainkan warga negara yang sadar akan tujuan mereka memilih. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/937650\/bedah-buku-kpu-solo-melawan-fenomena-buruh-nyoblos-dalam-demokrasi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(MI\/WIDJAJADI) DEMOKRASI jangan direduksi menjadi sekadar rutinitas lima tahunan yang berakhir di bilik suara. Kegelisahan itulah yang melatari forum bedah buku bertajuk &#8220;Jalan Terjal Konsolidasi Demokrasi: Untold Story Pemilu 2014&#8221; yang digelar di Kantor KPU Kota Solo, Kamis (24\/9\/2026) petang. Forum ini bukan sekadar ajang nostalgia Pemilu 2014, melainkan ruang dialektika lintas komunitas yang hangat. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109197,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-109196","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109196"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109196\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109197"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109196"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109196"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}