{"id":108750,"date":"2026-09-25T01:42:40","date_gmt":"2026-09-24T18:42:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/fosil-518-juta-tahun-ungkap-petunjuk-baru-asal-usul-bintang-laut\/"},"modified":"2026-09-25T01:42:40","modified_gmt":"2026-09-24T18:42:40","slug":"fosil-518-juta-tahun-ungkap-petunjuk-baru-asal-usul-bintang-laut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/25\/fosil-518-juta-tahun-ungkap-petunjuk-baru-asal-usul-bintang-laut\/","title":{"rendered":"Fosil 518 Juta Tahun Ungkap Petunjuk Baru Asal-usul Bintang Laut"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/24\/1790262582_45296aeb1414c95caca9.jpg\" alt=\"Fosil 518 Juta Tahun Ungkap Petunjuk Baru Asal-usul Bintang Laut\"\/><figcaption>Ilustrasi(Pixabay)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MISTERI <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/asal-usul-bintang-laut\" title=\"asal-usul bintang laut\">asal-usul bintang laut<\/a> mendapat petunjuk baru setelah para ilmuwan menemukan sejumlah fosil berusia sekitar 518 juta tahun di Tiongkok. Fosil tersebut berasal dari periode ledakan Kambrium, masa ketika berbagai kelompok hewan utama mulai muncul dalam catatan fosil.<\/p>\n<p>Fosil yang diberi nama Yujingia glutenotunica itu dapat mengubah pemahaman mengenai nenek moyang kelompok hewan yang kini mencakup bintang laut, bulu babi, dan cacing acorn. Penelitian ini melibatkan ilmuwan dari University of Cambridge dan sejumlah institusi lainnya.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3><strong>Fosil Kecil dengan Petunjuk Besar<\/strong><\/h3>\n<p>Fosil Yujingia memiliki panjang sekitar 8 hingga 22 milimeter. Meski tidak mempunyai kerangka keras, fosil tersebut mampu mempertahankan bagian tubuh, usus, serta sejumlah struktur tambahan dengan sangat baik.<\/p>\n<p>Hal yang membuat penemuan ini menarik adalah keberadaan dua kelompok struktur menyerupai tentakel. Salah satunya berupa tentakel seperti bulu yang diduga digunakan untuk menangkap partikel makanan dari air. Sementara kelompok lainnya kemungkinan membantu hewan tersebut menambatkan diri di dasar laut.<\/p>\n<p>Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai bagaimana <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nenek-moyang-bintang-laut\" title=\"Nenek Moyang Bintang Laut\">nenek moyang bintang laut<\/a> memperoleh makanan.<\/p>\n<h3><strong>Nenek Moyang Bintang Laut Ternyata Berbeda<\/strong><\/h3>\n<p>Sebelumnya, terdapat dugaan bahwa nenek moyang terakhir kelompok ambulacraria merupakan hewan mirip cacing yang hidup di dasar laut. Hewan tersebut diperkirakan memperoleh makanan dengan menyaring air melalui bagian faring.<\/p>\n<p>Namun, Yujingia memberikan petunjuk berbeda. Giovanni Mussini, peneliti dari Department of Earth Sciences, University of Cambridge, mengatakan fosil tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa nenek moyang ambulacraria justru memiliki bentuk yang lebih menyerupai bintang laut dan kerabatnya.<\/p>\n<p>Peneliti utama Kaiyue He dari Northwest University juga terlibat dalam penelitian tersebut. Tim menganalisis 505 karakter morfologi dari 100 spesies hidup dan fosil untuk menentukan posisi evolusi Yujingia.<\/p>\n<h3><strong>Membuka Cerita Baru <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/evolusi-bintang-laut\" title=\"Evolusi Bintang Laut\">Evolusi Bintang Laut<\/a><\/strong><\/h3>\n<p>Hasil analisis menempatkan Yujingia dekat dengan nenek moyang terakhir ambulacraria yang masih hidup. Posisi tersebut menjadikannya bentuk penting untuk memahami hubungan antara hewan bertentakel dari Kambrium awal dengan kelompok echinodermata dan hemichordata.<\/p>\n<p>Penemuan ini juga membantu menjelaskan bagaimana kelompok yang masih berkerabat, termasuk garis keturunan bintang laut dan chordata yang mencakup manusia, akhirnya berkembang menjadi bentuk tubuh yang sangat berbeda.<\/p>\n<p>Dengan demikian, fosil mungil Yujingia bukan sekadar peninggalan kehidupan laut ratusan juta tahun lalu. Temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai perjalanan evolusi yang akhirnya menghasilkan bintang laut dengan bentuk tubuh yang dikenal hingga saat ini.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: <em>University of Cambridge<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/937340\/fosil-518-juta-tahun-ungkap-petunjuk-baru-asal-usul-bintang-laut\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Pixabay) MISTERI asal-usul bintang laut mendapat petunjuk baru setelah para ilmuwan menemukan sejumlah fosil berusia sekitar 518 juta tahun di Tiongkok. Fosil tersebut berasal dari periode ledakan Kambrium, masa ketika berbagai kelompok hewan utama mulai muncul dalam catatan fosil. Fosil yang diberi nama Yujingia glutenotunica itu dapat mengubah pemahaman mengenai nenek moyang kelompok hewan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108751,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-108750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108750"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108750\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}