{"id":108530,"date":"2026-09-24T16:21:47","date_gmt":"2026-09-24T09:21:47","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/24\/rupiah-dekati-rp18-000-per-dolar-as-pakar-umy-ingatkan-dampak-ke-sektor-riil\/"},"modified":"2026-09-24T16:21:47","modified_gmt":"2026-09-24T09:21:47","slug":"rupiah-dekati-rp18-000-per-dolar-as-pakar-umy-ingatkan-dampak-ke-sektor-riil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/24\/rupiah-dekati-rp18-000-per-dolar-as-pakar-umy-ingatkan-dampak-ke-sektor-riil\/","title":{"rendered":"Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pakar UMY Ingatkan Dampak ke Sektor Riil"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/24\/1790240238_d0406f98e6cd03885821.jpg\" alt=\"Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pakar UMY Ingatkan Dampak ke Sektor Riil\"\/><figcaption>Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9\/7\/2026)(ANTARA\/Darryl Ramadhan)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nilai-tukar\" title=\"nilai tukar\">NILAI tukar<\/a> Rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan hingga mendekati level Rp18.000 pada Kamis (24\/9). Tren penurunan ini memperpanjang sinyal waspada di pasar keuangan domestik yang saat ini tengah dalam posisi menanti dan memantau (wait and see) transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan yang dipimpin oleh Suahasil Nazara.<\/p>\n<p>Guru Besar Ilmu Ekonomi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/universitas-muhammadiyah-yogyakarta\" title=\"Universitas Muhammadiyah Yogyakarta\">Universitas Muhammadiyah Yogyakarta<\/a> (UMY), Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si., menilai respons pasar saat ini sangat wajar. Menurutnya, pergantian nahkoda fiskal yang terjadi di tengah situasi tidak biasa memicu kehati-hatian investor.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see dengan menahan aktivitas dan aliran dana sambil menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah,&#8221; ujar Imamudin, Kamis (24\/9).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/896894\/rupiah-tembus-18-ribu-bi-tingkatkan-intensitas-intervensi\" title=\"Rupiah Tembus 18 Ribu, BI Tingkatkan Intensitas Intervensi\" target=\"_blank\">Rupiah Tembus 18 Ribu, BI Tingkatkan Intensitas Intervensi<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Dampak Langsung ke Dapur Masyarakat<\/h2>\n<p>Imamudin mengingatkan bahwa pelemahan Rupiah tidak boleh dianggap remeh karena berpotensi merembet langsung ke sektor riil dan konsumsi rumah tangga. Jatuhnya nilai tukar akan meningkatkan beban biaya impor yang pada akhirnya membebani masyarakat luas.<\/p>\n<p>&#8220;Impor bahan baku yang membengkak berisiko mengerek harga kebutuhan pokok, menaikkan biaya produksi UMKM, dan menekan daya beli masyarakat secara luas,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Terkait kondisi ini, ia berpesan agar masyarakat, khususnya generasi muda dan mahasiswa, merespons secara rasional dengan meningkatkan literasi keuangan. Hal ini penting agar mereka tidak mudah terpengaruh spekulasi atau informasi yang tidak akurat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/883406\/rupiah-menguat-tipis-turis-singapura-panen-untung\" title=\"Rupiah Menguat Tipis, Turis Singapura Panen Untung\" target=\"_blank\">Rupiah Menguat Tipis, Turis Singapura Panen Untung<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mahasiswa harus bersiap menjadi pelaku ekonomi aktif yang mampu membaca peluang di tengah besarnya potensi pasar domestik kita,&#8221; tegas Imamudin.<\/p>\n<h2>Tekanan Domestik dan Global<\/h2>\n<p>Lebih lanjut, Imamudin menekankan bahwa pelemahan Rupiah tidak hanya disebabkan oleh faktor domestik. Tekanan ekonomi global turut menjadi pemicu utama, mulai dari lonjakan tensi geopolitik di Asia Barat hingga dinamika di Selat Hormuz yang memicu gejolak harga minyak dunia.<\/p>\n<p>Menurutnya, kepercayaan pasar (market confidence) adalah benteng utama untuk menahan kejatuhan nilai tukar lebih dalam. Pemerintah dituntut memberikan respons melalui komunikasi strategis yang terukur, bukan sekadar wacana.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika muncul ketidakpastian terhadap arah kebijakan, kepercayaan pasar bisa menurun. Dampaknya, pasar menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Untuk menenangkan gejolak tersebut, pemerintah disarankan segera memperjelas peta jalan ekonomi nasional. Isu krusial seperti kepastian investasi, pengendalian inflasi, kepastian hukum, hingga komitmen pemberantasan korupsi harus dinarasikan secara transparan.<\/p>\n<p>&#8220;Informasi mengenai langkah-langkah strategis pemerintah perlu disampaikan agar pasar merasa lebih tenang dan memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi Indonesia,&#8221; tutup Imamudin. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/937102\/rupiah-dekati-rp18000-per-dolar-as-pakar-umy-ingatkan-dampak-ke-sektor-riil\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9\/7\/2026)(ANTARA\/Darryl Ramadhan) NILAI tukar Rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan hingga mendekati level Rp18.000 pada Kamis (24\/9). Tren penurunan ini memperpanjang sinyal waspada di pasar keuangan domestik yang saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108531,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-108530","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108530","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}