{"id":107957,"date":"2026-09-23T15:30:43","date_gmt":"2026-09-23T08:30:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/bi-rate-ditahan-ekonom-stabilisasi-rupiah-tak-selalu-dengan-naikkan-suku-bunga\/"},"modified":"2026-09-23T15:30:43","modified_gmt":"2026-09-23T08:30:43","slug":"bi-rate-ditahan-ekonom-stabilisasi-rupiah-tak-selalu-dengan-naikkan-suku-bunga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/bi-rate-ditahan-ekonom-stabilisasi-rupiah-tak-selalu-dengan-naikkan-suku-bunga\/","title":{"rendered":"BI Rate Ditahan, Ekonom Stabilisasi Rupiah tak Selalu dengan Naikkan Suku Bunga"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/23\/1790151615_440c26f85155d45a42ba.jpg\" alt=\"BI Rate Ditahan, Ekonom: Stabilisasi Rupiah tak Selalu dengan Naikkan Suku Bunga\"\/><figcaption>Konferensi pers setelah Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (23\/9\/2026).(MI\/Ihfa Firdausya)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bi\" title=\"BI\">BI<\/a> <em>Rate<\/em> di 5,75% menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah tidak harus selalu dilakukan dengan menaikkan suku bunga. Menurutnya, keputusan tersebut tepat di tengah tekanan global yang masih tinggi, sekaligus memberi ruang bagi BI menggunakan instrumen yang lebih spesifik untuk menangani risiko nilai tukar.<\/p>\n<p>Sebelumnya, kata dia mayoritas ekonom memang memperkirakan BI akan menahan bunga di 5,75%. Stabilitas rupiah, kebijakan The Fed, dan inflasi menjadi faktor utama yang diperhatikan pasar.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cKeputusan mempertahankan BI <em>Rate<\/em> menurut saya tepat. Tidak semua tekanan rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Yang lebih menarik justru bagaimana BI memperluas instrumen stabilisasi di luar suku bunga,\u201d ujar Fakhrul kepada wartawan, Rabu (23\/9).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/936605\/bi-pertahankan-suku-bunga-acuan-575-persen-di-september-2026\" title=\"BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di September 2026\" target=\"_blank\">BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di September 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Fakhrul secara khusus menyoroti keputusan BI meningkatkan insentif pengurangan biaya <em>hedging swap<\/em> menjadi 25%. Langkah tersebut melanjutkan pengembangan instrumen yang dimulai pada Juni, ketika BI memberikan insentif pengurangan tingkat<em> swap<\/em> sebesar 10% untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Fakhrul, kebijakan tersebut menunjukkan perubahan penting dalam bauran kebijakan moneter.<\/p>\n<p>\u201cBI mulai memisahkan harga uang dari harga risiko valuta asing. BI <em>Rate<\/em> digunakan untuk menjaga kredibilitas inflasi dan stabilitas makro, sementara <em>swap<\/em> dan DNDF dapat digunakan lebih spesifik untuk mengurangi biaya risiko valuta asing dan menarik<em> external funding<\/em>,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/936602\/bi-rate-dipertahankan-575-persen-konsisten-dengan-strategi-stabilisasi-rupiah\" title=\"BI Rate Dipertahankan 5,75 Persen, Konsisten dengan Strategi Stabilisasi Rupiah\" target=\"_blank\">BI Rate Dipertahankan 5,75 Persen, Konsisten dengan Strategi Stabilisasi Rupiah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, peningkatan insentif menjadi 25% juga sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk menarik kembali modal asing ketika ketidakpastian global membuat investor memilih menunggu.<\/p>\n<p>Fakhrul mengatakan investor saat ini belum tentu tidak tertarik terhadap Indonesia. Sebagian, katanya, mungkin hanya memilih menunggu karena ketidakpastian Fed, minyak, dan rupiah masih tinggi.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan menurunkan biaya <em>hedging<\/em>, BI mengurangi keuntungan dari keputusan untuk terus menunggu,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Fakhrul melihat pendekatan tersebut memiliki kemiripan arah dengan eksperimen India tahun ini, ketika bank sentral menggunakan fasilitas FX<em> swap <\/em>untuk menarik <em>foreign currency funding.<\/em> Namun Indonesia tidak perlu memberikan insentif sebesar India atau menyalin desainnya secara penuh.<\/p>\n<p>\u201cSaya justru lebih nyaman BI memulainya secara gradual. 25%\u00a0cukup untuk menguji respons pasar. Kalau <em>inflow<\/em> membaik, tidak ada alasan memberikan subsidi lebih besar dari yang diperlukan.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Fakhrul, keberhasilan kebijakan tersebut nantinya harus dilihat dari kombinasi <em>foreign inflows<\/em>, stabilitas rupiah, cadangan devisa, kepemilikan asing SBN, dan kondisi likuiditas domestik, bukan hanya dari pergerakan kurs harian.<\/p>\n<p>Fakhrul menilai bauran kebijakan ini juga memungkinkan BI tidak perlu melawan setiap kenaikan<em> yield<\/em> global dengan kenaikan BI <em>Rate<\/em>.<\/p>\n<p>Yield SBN perlu diberikan ruang untuk melakukan <em>price discovery<\/em> sehingga investor memperoleh kompensasi yang memadai atas risiko durasi. Sementara itu, risiko valuta asing dapat dikurangi melalui instrumen <em>hedging<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cIni menurut saya kombinasi yang lebih sehat: biarkan <em>yield<\/em> obligasi memberikan harga terhadap <em>duration risk<\/em>, sementara instrumen <em>swap<\/em> memberikan harga terhadap <em>currency risk<\/em>. Jangan seluruh <em>shock <\/em>dunia dimasukkan ke BI <em>Rate<\/em>,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dengan inflasi Agustus sebesar 3,19% yoy, masih berada dalam sasaran BI 1,5\u20133,5%, ruang untuk pendekatan tersebut masih tersedia, meskipun tekanan harga minyak dan rupiah tetap perlu diawasi.\u00a0<\/p>\n<p>Fakhrul menekankan bahwa peningkatan insentif <em>hedging<\/em> bukan pengganti fundamental ekonomi dan tidak seharusnya menjadi fasilitas permanen.<\/p>\n<p>\u201c<em>Temporary FX incentive<\/em> bekerja kalau modal sebenarnya sedang menunggu. Kalau <em>yield<\/em> sudah menarik, biaya <em>hedging <\/em>sudah turun, tetapi investor tetap tidak masuk, berarti persoalannya bukan lagi <em>price of waiting<\/em>. Kita harus melihat kembali fundamental dan struktur neraca pembayaran,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Karena itu, kata Fakhrul, beberapa minggu mendatang akan menjadi pengujian penting terhadap efektivitas kebijakan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cBagi saya, keputusan hari ini memperlihatkan evolusi yang sehat dalam bauran kebijakan BI. BI <em>Rate <\/em>bukan satu-satunya garis pertahanan Rupiah. Kita mulai menggunakan instrumen yang berbeda untuk risiko yang berbeda,\u201d pungkasnya. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/936613\/bi-rate-ditahan-ekonom-stabilisasi-rupiah-tak-selalu-dengan-naikkan-suku-bunga\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konferensi pers setelah Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (23\/9\/2026).(MI\/Ihfa Firdausya) KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah tidak harus selalu dilakukan dengan menaikkan suku bunga. Menurutnya, keputusan tersebut tepat di tengah tekanan global yang masih tinggi, sekaligus memberi ruang bagi BI menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":107958,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-107957","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107957"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107957\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}