{"id":107775,"date":"2026-09-23T08:15:38","date_gmt":"2026-09-23T01:15:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/mengapa-peta-bumi-2d-tak-pernah-akurat-ini-alasan-ilmiahnya\/"},"modified":"2026-09-23T08:15:38","modified_gmt":"2026-09-23T01:15:38","slug":"mengapa-peta-bumi-2d-tak-pernah-akurat-ini-alasan-ilmiahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/mengapa-peta-bumi-2d-tak-pernah-akurat-ini-alasan-ilmiahnya\/","title":{"rendered":"Mengapa Peta Bumi 2D Tak Pernah Akurat Ini Alasan Ilmiahnya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/23\/1790114986_2bdd3307b7d552ffb3f2.jpg\" alt=\"Mengapa Peta Bumi 2D Tak Pernah Akurat? Ini Alasan Ilmiahnya\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MEMBUAT peta dunia yang benar-benar akurat akan menjadi tugas yang mudah jika bentuk Bumi datar. Namun, karena permukaan planet pada dasarnya berbentuk tiga dimensi yang membulat, memindahkannya ke dalam media dua dimensi datar menjadi tantangan ilmiah besar bagi para kartografer.<\/p>\n<p>Persoalan ini berlaku untuk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/peta-bumi\" title=\"Peta Bumi\">peta Bumi<\/a>, seperti proyeksi Mercator yang populer atau proyeksi Equal Earth, \u00a0yang baru-baru ini didukung oleh mayoritas anggota Majelis Umum PBB, hingga peta planet lain di tata surya. Setiap proyeksi peta dua dimensi pada dasarnya merupakan gabungan antara akurasi dan distorsi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Sangat penting untuk diketahui bahwa terkadang, seperti halnya statistik atau hal lainnya, Anda bisa menyampaikan sebuah cerita melalui peta,&#8221; kata Corey Fortezzo, seorang ahli geologi dan koordinator pemetaan untuk Program Pemetaan Geologi Planet yang dikelola bersama oleh Survei Geologi AS (USGS) dan NASA. &#8220;Dan cerita itu belum tentu cerita yang sebenarnya.&#8221;<\/p>\n<p>Proses meratakan permukaan tiga dimensi menjadi bidang datar selalu menimbulkan ketidaksempurnaan. Jue Wang, seorang ilmuwan data kartografi di Washington University, St. Louis, menjelaskan bahwa setiap proyeksi harus memilih aspek mana yang ingin dipertahankan.<\/p>\n<p>&#8220;Setiap proyeksi memilih apa yang akan dipertahankan, pada beberapa proyeksi yang dipertahankan adalah luas wilayah, beberapa mempertahankan bentuk, beberapa mempertahankan jarak, beberapa mempertahankan arah, tetapi tidak semuanya sekaligus,&#8221; ujar Jue Wang. &#8220;Ini bukan tentang proyeksi mana yang benar, melainkan tentang apa yang ingin Anda lakukan dengan peta tersebut.&#8221;<\/p>\n<p>Di Amerika Serikat dan berbagai negara lain, masyarakat paling familiar dengan proyeksi Mercator. Diciptakan tahun 1569 oleh seorang kartografer di wilayah yang kini menjadi Belgia, proyeksi ini merancang garis lurus untuk menunjukkan arah kompas yang konstan.<\/p>\n<p>&#8220;Peta ini dibangun untuk tujuan navigasi, sehingga proyeksi Mercator mempertahankan sudut,&#8221; kata Wang. &#8220;Hal itu sangat berguna dan menjadi alasan mengapa para pelaut menggunakan proyeksi Mercator selama berabad-abad.&#8221;<\/p>\n<p>Namun, sebagian besar dari 8,2 miliar penduduk Bumi saat ini bukanlah pelaut. Peta dunia modern lebih banyak digunakan untuk memahami letak geografis ketimbang navigasi laut. Pada proyeksi Mercator, terjadi distorsi ukuran yang signifikan di dekat kutub, sehingga membuat Greenland tampak lebih besar daripada Amerika Selatan.<\/p>\n<p>Kondisi inilah yang mendorong lahirnya dukungan terhadap proyeksi Equal Earth untuk menggantikan Mercator di ruang kelas. Proyeksi Equal Earth memprioritaskan keakuratan proporsi luas wilayah antarbenua dan negara, meskipun harus mengorbankan keakuratan sudut. Akibatnya, garis bujur utara-selatan menjadi melengkung, dan jarak garis lintang timur-barat semakin rapat di dekat kutub.<\/p>\n<p>Tantangan pemetaan ini juga dialami dalam kartografi benda langit lain. Peta Bulan tertua yang diketahui dicatat pada tahun 1609. Berbeda dengan pemetaan Bumi yang mengandalkan pengamatan langsung di lokasi, pemetaan planet dan bulan menggunakan data jarak jauh dari teleskop dan wahana antariksa.<\/p>\n<p>Data tersebut umumnya berupa citra dua dimensi yang menggabungkan potongan-potongan foto permukaan melengkung. Selain itu, karena Bumi maupun benda langit lainnya tidak berbentuk bola sempurna, sistem proyeksi tidak dapat ditransfer secara begitu saja antarplanet. Setiap dunia membutuhkan titik acuan garis bujur 0 derajat yang unik.<\/p>\n<p>Meski demikian, pemetaan objek luar angkasa memiliki satu kemudahan dibandingkan Bumi. Selain objek seperti Io yang vulkanik atau Titan yang memiliki lautan cairan organik, permukaan planet lain tidak tertutup oleh daratan dan lautan yang rumit.<\/p>\n<p>&#8220;Kami dapat mengambil satu bagian, dan bagian itu tidak berisi apa-apa selain batu dan es,&#8221; tutur Fortezzo. &#8220;Hal ini membuatnya jauh lebih mudah. Tidak ada perasaan yang terlibat di dalamnya.&#8221; (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/936466\/mengapa-peta-bumi-2d-tak-pernah-akurat-ini-alasan-ilmiahnya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) MEMBUAT peta dunia yang benar-benar akurat akan menjadi tugas yang mudah jika bentuk Bumi datar. Namun, karena permukaan planet pada dasarnya berbentuk tiga dimensi yang membulat, memindahkannya ke dalam media dua dimensi datar menjadi tantangan ilmiah besar bagi para kartografer. Persoalan ini berlaku untuk peta Bumi, seperti proyeksi Mercator yang populer atau proyeksi Equal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":107776,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-107775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107776"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}