{"id":107714,"date":"2026-09-23T05:06:38","date_gmt":"2026-09-22T22:06:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/ketidakpastian-keheningan-keterasingan-narasi-pascagempa-flores-yang-tersisa\/"},"modified":"2026-09-23T05:06:38","modified_gmt":"2026-09-22T22:06:38","slug":"ketidakpastian-keheningan-keterasingan-narasi-pascagempa-flores-yang-tersisa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/23\/ketidakpastian-keheningan-keterasingan-narasi-pascagempa-flores-yang-tersisa\/","title":{"rendered":"Ketidakpastian, Keheningan, Keterasingan Narasi Pascagempa Flores yang Tersisa"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/23\/1790109756_62d0881c837d43a00d23.jpg\" alt=\"Ketidakpastian, Keheningan, Keterasingan: Narasi Pascagempa Flores yang Tersisa\"\/><figcaption>(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>GEMPA bumi dahsyat (15\/8\/2026) sudah berlalu, meskipun Flores masih terus-menerus berguncang, dengan belasan ribu gempa susulan yang terus menghiasi kehidupan sehari-hari warga. Setelah getaran pertama yang merobohkan dinding-dinding rumah, ruang-ruang doa ringsek, tangis bersahutan, yang tersisa justru bagian paling berat untuk ditanggung. Itu adalah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keheningan\" title=\"Keheningan\">keheningan<\/a>. Untuk tidak menyebutnya dengan kesunyian.<\/p>\n<p>Keheningan pascagempa ini bukan sebuah potongan kedamaian. Ini adalah ruang kosong yang penuh dengan rasa sesak yang tak terucapkan. Di tenda-tenda pengungsian, rumah sakit lapangan, dan halaman rumah ibadah yang retak, sebagian besar orang tidak lagi berlari. Mereka hanya duduk, diam, menunggu gempa-gempa susulan berhenti dengan sendirinya. Meski situasi sudah memasuki fase transisi menuju pemulihan, keheningan itu menyelusup seperti belati tajam yang menusuk ke sudut terdalam kehidupan warga.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/925363\/karitas-keuskupan-ruteng-salurkan-bantuan-integral-bagi-korban-gempa-flores\" title=\"Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan Integral bagi Korban Gempa Flores\" target=\"_blank\">Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan Integral bagi Korban Gempa Flores<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ketidakpastian\" title=\"ketidakpastian\">KETIDAKPASTIAN<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sebulan lebih sesudah gempa bumi itu, rumah-rumah memang masih berdiri, meskipun sebagian terlihat goyah dan rapuh. Retakan menganga di dinding, lantai miring, atap menggantung. Orang-orang berdiri di depan puing miliknya sendiri dan menimbang-nimbang apakah masih berani masuk untuk mengambil peralatan masak\u2014dan foto keluarga yang menempel di dinding yang nyaris ambruk.<\/p>\n<p>Gempa tidak hanya merusak bangunan. Ia juga memutus relasi paling dasar antara manusia dan tanah sebagai ibu kehidupan. Rasa khawatir menyelusup ke dalam ruang-ruang kehidupan. Sebagiannya terhubung dengan tanah yang retak. Ada keraguan tentang apakah masih ada benih terbaik yang dapat ditanam di atasnya. Sementara ingatan akan musim hujan yang mungkin tidak lama lagi datang menambah rasa sesak karena harus memperhitungkan hunian baru\u2014yang ternyata hanya masih ada dalam bayangan belaka.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/835258\/cinta-laura-ajak-kita-berani-menghadapi-ketidakpastian\" title=\"Cinta Laura Ajak Kita Berani Menghadapi Ketidakpastian\" target=\"_blank\">Cinta Laura Ajak Kita Berani Menghadapi Ketidakpastian<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tentu, membangun kembali apa yang ambruk bukan sekadar soal semen dan besi. Sebagian penyintas gempa bumi ini mungkin adalah para tukang yang tahu cara membangun rumah. Namun, mereka pasti tidak tahu harus memulai dari mana untuk membangunnya\u2014apalagi tanpa kepastian tentang biaya. Pascagempa adalah narasi pelik yang berurusan dengan ketidakpastian\u2014tentang banyak hal\u2014terutama seputar masa depan kehidupan para korban.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keterasingan\" title=\"Keterasingan\">KETERASINGAN<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Gempa bumi di Flores mengirimkan dua gelombang dahsyat. Yang pertama merobohkan bangunan. Yang kedua meremukkan kepastian. Yang kedua hadir jauh lebih lama. Volumenya belum surut. Para penyintas masih bergulat dengannya. Jauh lebih lama. Memedihkan. Namun, mereka hanya bisa diam. Ketika perhatian nasional mulai beralih, mereka yang di kampung jauh, yang jalannya masih putus, yang namanya mungkin belum masuk dalam data \u2014menjadi kelompok yang paling berisiko untuk dipulihkan terakhir\u2014atau bahkan mungkin tidak akan pernah tersentuh pemulihan. Keterasingan akan mengurung mereka.<\/p>\n<p>Rentetan fase tanggap darurat yang terekam kamera sudah usai. Bantuan logistik telah dibagikan kepada penyintas gempa bumi. Spanduk-spanduk bertuliskan doa bagi para korban mulai pudar di bawah terik musim panas yang berkepanjangan. <em>Flyer-flyer<\/em> permohonan donasi bencana sudah lenyap di balik janji-janji pemulihan yang datang entah dari mana. Yang juga sama sekali tidak mudah ditagih agar dapat hadir tepat waktu.<\/p>\n<p>Satu demi satu kelompok relawan berkemas kembali, entah sejenak mengurus keluarga mereka\u2014atau menjawab panggilan dari ruang-ruang kepedihan lainnya. Pertanyaan tentang pembangunan kembali pun masih menggantung. Ada kekhawatiran bahwa kita akan menghadirkan kembali kerentanan yang sama: rumah tanpa besi pengikat, berdiri di lereng yang sama, tanpa peta risiko gempa yang seharusnya menjadi pengetahuan warga. Di titik ini, peran semua pihak diuji. Jangan sampai kehadiran kita hanya nyata saat tanggap darurat.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>KEHENINGAN<\/strong><\/p>\n<p>Untuk membunuh suasana menusuk nubari ini, sebagian besar warga memilih untuk memulihkan diri dalam keheningan. Berlangsung dalam diam. Mungkin dengan air mata yang tersimpan di sudut jiwa. Anak-anak sudah kembali ke sekolah di tenda darurat. Mereka berbagi tawa antarkawan. Para guru berusaha menjadi bagian dari proses penyembuhan trauma anak-anak didik. Meskipun tubuh mereka sendiri terperangkap dalam ingatan akan guncangan\u2014bahkan ketika pikiran mencoba melupakannya.<\/p>\n<p>Flores sudah terbiasa mendengar seruan \u2018Bangkit dan kuat\u2019. Label itu pasti cocok untuk spanduk. Namun, mungkin kurang jujur dalam merangkul ketakutan yang masih tersisa. Tidak ada televisi yang akan mewartakan. Mereka membutuhkan bukan sekadar rumah baru yang cepat dibangun. Para penyintas yang tersisa di pengungsian berucap pelan\u2014entah kepada siapa. Mungkin mereka hanya menunggu seseorang yang mau duduk bersama mereka sampai rasa takut itu reda. Dan\u2014keheningan seolah menyediakan jalan bagi mereka untuk memaafkan situasi yang tidak menentu ini.<\/p>\n<p>Gempa perlahan usai, demikian yang diberitahukan kepada publik. Namun, merawat keheningan baru saja dimulai. Kita perlu merawat keheningan ini agar suara para penyintas yang berada di pinggiran, yang terancam terasing dari sentuhan pemulihan, tidak tenggelam dalam sistematisasi dokumentasi keberhasilan penanganan bencana ini. Pemulihan yang sejati tidak bising. Bahkan tidak membutuhkan seremoni peletakan batu pertama. Yang diperlukan hanya kerelaan kita untuk menjahit masa depan penyintas\u2014dengan kerangka kepastian pemulihan. Lebih cepat. Dan tanpa nuansa diskriminatif.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/936456\/ketidakpastian-keheningan-keterasingan-narasi-pascagempa-flores-yang-tersisa\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(MI\/Seno) GEMPA bumi dahsyat (15\/8\/2026) sudah berlalu, meskipun Flores masih terus-menerus berguncang, dengan belasan ribu gempa susulan yang terus menghiasi kehidupan sehari-hari warga. Setelah getaran pertama yang merobohkan dinding-dinding rumah, ruang-ruang doa ringsek, tangis bersahutan, yang tersisa justru bagian paling berat untuk ditanggung. Itu adalah keheningan. Untuk tidak menyebutnya dengan kesunyian. Keheningan pascagempa ini bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":107715,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-107714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}