{"id":107316,"date":"2026-09-22T12:01:36","date_gmt":"2026-09-22T05:01:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/22\/menghentikan-penggunaan-obat-glp-1-bisa-menghapus-manfaat-kesehatan-jantung-dengan-cepat\/"},"modified":"2026-09-22T12:01:36","modified_gmt":"2026-09-22T05:01:36","slug":"menghentikan-penggunaan-obat-glp-1-bisa-menghapus-manfaat-kesehatan-jantung-dengan-cepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/22\/menghentikan-penggunaan-obat-glp-1-bisa-menghapus-manfaat-kesehatan-jantung-dengan-cepat\/","title":{"rendered":"Menghentikan Penggunaan Obat GLP-1 Bisa Menghapus Manfaat Kesehatan Jantung dengan Cepat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/22\/1790037629_f5dea1d53548af59bea7.jpg\" alt=\"Menghentikan Penggunaan Obat GLP-1 Bisa Menghapus Manfaat Kesehatan Jantung dengan Cepat\"\/><figcaption>Ilustrasi(Hallo Sehat)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENGGUNAAN obat-obatan golongan GLP-1, seperti semaglutide (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ozempic\" title=\"Ozempic\">Ozempic<\/a> dan Wegovy) serta tirzepatide (Mounjaro dan Zepbound), telah mengalami lonjakan popularitas untuk menangani diabetes tipe 2 dan membantu penurunan berat badan. Selain kedua fungsi utama tersebut, obat-obatan ini juga dikenal luas memberikan perlindungan bagi kesehatan kardiovaskular.<\/p>\n<p>Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Medicine mengungkapkan bahwa manfaat perlindungan jantung tersebut dapat memudar dengan cepat ketika pengobatan dihentikan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Riset yang dipimpin oleh para peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis memantau lebih dari 333.000 veteran AS penderita diabetes tipe 2 selama tiga tahun. Dari total partisipan, sebanyak 132.551 orang diresepkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/obat-glp-1\" title=\"obat GLP-1\">obat GLP-1<\/a>, sementara 201.136 orang lainnya diresepkan obat diabetes golongan sulfonilurea, seperti glipizide, glimepiride, dan glyburide.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/934341\/bpjs-kesehatan-minta-rs-cegah-in-hospital-delay-pasien-kritis\" title=\"BPJS Kesehatan Minta RS Cegah In-Hospital Delay Pasien Kritis\" target=\"_blank\">BPJS Kesehatan Minta RS Cegah In-Hospital Delay Pasien Kritis<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Risiko Peningkatan Gangguan Kardiovaskular<\/h2>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan menghentikan atau memutus pengobatan GLP-1 selama setidaknya enam bulan berkaitan erat dengan peningkatan signifikan risiko kejadian kardiovaskular utama, termasuk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/serangan-jantung\" title=\"serangan jantung\">serangan jantung<\/a>, stroke, dan kematian.<\/p>\n<p>Penghentian obat yang berlangsung lebih lama memicu dampak yang kian merugikan. Setelah dua tahun tanpa terapi GLP-1, risiko serangan jantung, stroke, dan kematian melonjak hingga 22 persen dibandingkan pasien yang terus melanjutkan pengobatan. Kondisi ini secara signifikan menghapus manfaat perlindungan jantung yang telah didapatkan selama masa terapi.<\/p>\n<p>Para ilmuwan mengamati bahwa pasien yang mengonsumsi GLP-1 secara berkelanjutan selama tiga tahun penuh mengalami penurunan risiko kardiovaskular utama sebesar 18% dibandingkan pengguna sulfonilurea. Sebaliknya, pasien yang menghentikan terapi GLP-1 sebelum mencapai masa pengobatan 18 bulan tidak menunjukkan penurunan risiko kardiovaskular yang signifikan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/934142\/semaglutide-dan-ozempic-faktor-keempat-perlambat-penuaan-biologis\" title=\"Semaglutide dan Ozempic: Faktor Keempat Perlambat Penuaan Biologis?\" target=\"_blank\">Semaglutide dan Ozempic: Faktor Keempat Perlambat Penuaan Biologis?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Ada antusiasme yang sangat besar untuk mulai menggunakan obat GLP-1, tetapi perhatian terhadap apa yang terjadi ketika orang menghentikannya masih sangat kurang,&#8221; kata penulis senior studi, Ziyad Al-Aly, MD, seorang epidemiolog klinis di WashU Medicine sekaligus Kepala Layanan Penelitian dan Pengembangan di VA Saint Louis Health Care System. &#8220;Banyak orang berhenti setelah beberapa bulan karena biaya, efek samping, atau kelangkaan obat. Ketika mereka berhenti, bukan hanya berat badan yang kembali; mereka mengalami lonjakan kembali pada peradangan, tekanan darah, dan kolesterol. Penambahan berat badan terlihat secara fisik; namun pembalikan metabolik ini tidak terlihat.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Data kami menunjukkan bahwa lonjakan metabolik balikan ini merusak kesehatan jantung,&#8221; tambah Al-Aly. &#8220;Memulai kembali pengobatan membantu memulihkan sebagian perlindungan, tetapi hanya sebagian, yang menunjukkan bahwa penghentian obat meninggalkan bekas yang bertahan lama.&#8221;<\/p>\n<h2>jeda Pengobatan Mengurangi Efek Perlindungan<\/h2>\n<p>Studi ini juga menemukan bahwa jeda sementara dalam pengobatan dapat melemahkan manfaat perlindungan jantung. Pasien yang mengalami jeda pengobatan selama enam bulan sebelum memulai kembali tetap mengalami peningkatan risiko kardiovaskular sebesar 4% hingga 8% dibandingkan mereka yang mengonsumsi obat secara terus-menerus.<\/p>\n<p>Sementara itu, pasien yang menghentikan penggunaan GLP-1 selama satu tahun penuh tanpa memulai kembali mencatatkan risiko 14% lebih tinggi terkena gangguan kardiovaskular.<\/p>\n<p>Penemuan ini menegaskan bahwa perlindungan kardiovaskular dari terapi GLP-1 terbangun secara bertahap dalam jangka panjang, namun dapat hilang dalam waktu yang jauh lebih singkat jika pengobatan terputus.<\/p>\n<p>&#8220;Para klinisi harus memperlakukan kepatuhan terhadap pengobatan GLP-1 sebagai hasil penting dalam haknya sendiri, bukan sebagai pertimbangan belakangan,&#8221; tegas Al-Aly. &#8220;Sistem kesehatan perlu memiliki rencana untuk membantu orang melanjutkan pengobatan mereka secara tak terbatas, dengan menyadari bahwa GLP-1 mengobati kondisi kronis. Hal itu mencakup pengelolaan efek samping secara proaktif, diskusi jujur mengenai sifat pengobatan jangka panjang, infrastruktur untuk mengidentifikasi dan mendukung pasien yang berisiko berhenti, serta mengatasi hambatan biaya yang membuat terapi GLP-1 tidak berkelanjutan bagi banyak orang.&#8221; (Science Daily\/WashU Medicine\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/936019\/menghentikan-penggunaan-obat-glp-1-bisa-menghapus-manfaat-kesehatan-jantung-dengan-cepat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Hallo Sehat) PENGGUNAAN obat-obatan golongan GLP-1, seperti semaglutide (Ozempic dan Wegovy) serta tirzepatide (Mounjaro dan Zepbound), telah mengalami lonjakan popularitas untuk menangani diabetes tipe 2 dan membantu penurunan berat badan. Selain kedua fungsi utama tersebut, obat-obatan ini juga dikenal luas memberikan perlindungan bagi kesehatan kardiovaskular. Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Medicine mengungkapkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":107317,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-107316","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107316","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107316"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107316\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107316"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107316"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107316"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}