{"id":106565,"date":"2026-09-20T23:47:36","date_gmt":"2026-09-20T16:47:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/20\/mitigasi-banjir-dlh-kabupaten-cirebon-bangun-73-titik-sumur-resapan\/"},"modified":"2026-09-20T23:47:36","modified_gmt":"2026-09-20T16:47:36","slug":"mitigasi-banjir-dlh-kabupaten-cirebon-bangun-73-titik-sumur-resapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/20\/mitigasi-banjir-dlh-kabupaten-cirebon-bangun-73-titik-sumur-resapan\/","title":{"rendered":"Mitigasi Banjir, DLH Kabupaten Cirebon Bangun 73 Titik Sumur Resapan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/20\/1789908931_09ae1e762d42d4c05c6f.jpg\" alt=\"Mitigasi Banjir, DLH Kabupaten Cirebon Bangun 73 Titik Sumur Resapan\"\/><figcaption>Ilustrasi pembuatan sumur resapan.(Dok. MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cirebon\" title=\"cirebon\">Cirebon<\/a> segera merealisasikan pembangunan 73 titik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sumur-resapan\" title=\"Sumur Resapan\">sumur resapan<\/a> air atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/biopori\" title=\"Biopori\">biopori<\/a> yang tersebar di 34 kecamatan. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sekaligus meminimalisasi risiko <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/banjir\" title=\"banjir\">banjir<\/a> di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Sugeng Wahyudi, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mengubah pola aliran air hujan yang selama ini hanya melimpas di permukaan (run-off). Dengan adanya sumur resapan, air hujan akan dialirkan ke dalam tanah untuk memperkuat cadangan air tanah.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cLangkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya resap air hujan. Biasanya air itu hanya menggelontor saja. Nah, ini kita masukkan ke dalam tanah sehingga nantinya bisa menjadi cadangan di bawah tanah,\u201d ujar Sugeng, Minggu (20\/9).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/534028\/pakar-hidrologi-biopori-bisa-jadi-salah-satu-upaya-mitigasi-banjir-di-hilir\" target=\"_blank\" title=\"Pakar Hidrologi: Biopori Bisa Jadi Salah Satu Upaya Mitigasi Banjir di Hilir\">Pakar Hidrologi: Biopori Bisa Jadi Salah Satu Upaya Mitigasi Banjir di Hilir<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Distribusi Berdasarkan Karakteristik Wilayah<\/h3>\n<p>Pembangunan 73 titik sumur resapan ini tidak dipukul rata di setiap wilayah. Penentuan jumlah titik di setiap desa akan menyesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan spesifik lapangan. Menurut Sugeng, setiap desa bisa mendapatkan alokasi yang berbeda, berkisar antara satu hingga tiga titik.<\/p>\n<p>\u201cTitik sumur resapan akan disebar sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah atau desa. Per desa jumlahnya macam-macam, tergantung kebutuhan di lokasi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Fokus utama pembangunan diarahkan pada kawasan yang selama ini sering mengalami persoalan genangan atau banjir. Wilayah Cirebon bagian timur dan utara menjadi prioritas perhatian karena intensitas genangan yang cukup tinggi di sejumlah lokasi saat musim hujan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jabar\/berita\/856731\/banjir-siswa-di-cirebon-masih-masuk-sekolah-untuk-ambil-mbg\" target=\"_blank\" title=\"Banjir, Siswa di Cirebon masih Masuk Sekolah untuk Ambil MBG\">Banjir, Siswa di Cirebon masih Masuk Sekolah untuk Ambil MBG<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Konstruksi dan Konservasi Air<\/h3>\n<p>Dari sisi teknis, sumur resapan ini menggunakan konstruksi buis beton atau cincin beton. Untuk memastikan proses peresapan berjalan optimal, bagian bawah sumur dilengkapi dengan sistem penyaringan yang menggunakan material alam seperti batu dan pasir.<\/p>\n<p>\u201cKonsepnya bukan sekadar lubang resapan biasa, tetapi menggunakan beton dengan penyaring di bawahnya agar air bisa masuk ke tanah dengan lebih baik,\u201d ungkap Sugeng.<\/p>\n<p>Meski demikian, Sugeng memberikan catatan bahwa keberadaan sumur resapan ini bukan solusi tunggal yang dapat menghapus banjir secara instan dan menyeluruh. Program ini lebih dititikberatkan pada fungsi konservasi air jangka panjang dan pengurangan limpasan air hujan.<\/p>\n<p>\u201cKalau untuk mengurangi banjir secara signifikan memang tidak bisa hanya dengan upaya ini. Tetapi ini menjadi salah satu langkah penting dalam manajemen pengelolaan air di Kabupaten Cirebon,\u201d pungkasnya. (H-3)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/935513\/mitigasi-banjir-dlh-kabupaten-cirebon-bangun-73-titik-sumur-resapan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi pembuatan sumur resapan.(Dok. MI) DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon segera merealisasikan pembangunan 73 titik sumur resapan air atau biopori yang tersebar di 34 kecamatan. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sekaligus meminimalisasi risiko banjir di wilayah tersebut. Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Sugeng Wahyudi, menjelaskan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":106566,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-106565","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106565","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106565"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106565\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106566"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}