{"id":106157,"date":"2026-09-19T23:58:40","date_gmt":"2026-09-19T16:58:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/19\/bulu-burung-berusia-66-juta-tahun-ditemukan-di-kotoran-dinosaurus-ungkap-jejak-kehidupan-masa-lalu\/"},"modified":"2026-09-19T23:58:40","modified_gmt":"2026-09-19T16:58:40","slug":"bulu-burung-berusia-66-juta-tahun-ditemukan-di-kotoran-dinosaurus-ungkap-jejak-kehidupan-masa-lalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/19\/bulu-burung-berusia-66-juta-tahun-ditemukan-di-kotoran-dinosaurus-ungkap-jejak-kehidupan-masa-lalu\/","title":{"rendered":"Bulu Burung Berusia 66 Juta Tahun Ditemukan di Kotoran Dinosaurus, Ungkap Jejak Kehidupan Masa Lalu"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/19\/1789833461_0e5d424129d25bd4605f.jpg\" alt=\"Bulu Burung Berusia 66 Juta Tahun Ditemukan di Kotoran Dinosaurus, Ungkap Jejak Kehidupan Masa Lalu\"\/><figcaption>ilustrasi fosil.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENEMUAN fosil tidak selalu berasal dari tulang atau bagian tubuh hewan yang utuh. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bukti yang tidak biasa berupa bulu burung yang terawetkan di dalam <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kotoran-dinosaurus\" title=\"Kotoran Dinosaurus\">kotoran dinosaurus<\/a> yang telah menjadi fosil. Temuan tersebut memberikan informasi baru mengenai kehidupan burung purba sekaligus membantu ilmuwan memahami kondisi yang dihadapi kelompok burung ketika kepunahan massal terjadi sekitar 66 juta tahun lalu.<\/p>\n<p>Penelitian yang dipublikasikan pada 10 September 2026 dalam jurnal Current Biology melaporkan adanya beberapa bulu yang terawetkan di dalam sebuah koprolit, istilah ilmiah untuk kotoran hewan yang mengalami proses fosilisasi. Fosil tersebut ditemukan di Hell Creek Formation, Montana, Amerika Serikat, sebuah wilayah yang terkenal kaya akan fosil dari akhir periode Kapur.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Fosil itu pertama kali ditemukan pada 2016 ketika peneliti David DeMar Jr. melakukan pekerjaan lapangan di Montana. Saat melihat sebuah bongkahan batu berwarna gelap dengan ukuran kira-kira setengah bola golf, ia menemukan bagian yang tampak seperti bulu kecil pada permukaannya.<\/p>\n<p>Pemeriksaan lebih lanjut menggunakan pemindaian micro-CT kemudian mengungkap bahwa benda tersebut ternyata menyimpan lebih banyak informasi. Di dalam koprolit ditemukan beberapa bulu, sisik ikan kecil dari ikan gar, serta tulang kaki dari kelompok burung purba yang disebut hesperornithiform. Kelompok burung tersebut merupakan burung air yang telah punah dan secara ekologis memiliki kemiripan dengan burung loon yang hidup saat ini.<\/p>\n<p>Keberadaan tulang dan bulu dalam satu fosil memberikan petunjuk bahwa bulu tersebut kemungkinan berasal dari burung yang dimakan oleh dinosaurus. Para peneliti menduga koprolit tersebut berasal dari theropoda berukuran sedang. Spesies yang tepat belum dapat dipastikan, tetapi kandidat yang dibahas dalam penelitian mencakup theropoda seperti Nanotyrannus atau Anzu.<\/p>\n<p>Yang membuat penemuan ini menarik adalah kualitas pelestarian bulunya. Peneliti menemukan struktur bulu yang memiliki karakteristik menyerupai bulu burung modern. Salah satunya memiliki batang bulu atau rachis berbentuk persegi dengan bagian tengah seperti struktur berongga yang terisi material. Temuan tersebut menunjukkan bahwa struktur bulu yang ringan dan kaku seperti yang ditemukan pada burung modern telah berkembang sebelum akhir zaman dinosaurus.<\/p>\n<p>Penemuan ini juga dapat membantu menjawab salah satu pertanyaan dalam paleontologi, yaitu mengapa sebagian burung berhasil bertahan dari kepunahan massal sekitar 66 juta tahun lalu, sementara kelompok burung lainnya ikut menghilang.<\/p>\n<p>Para peneliti menduga karakteristik bulu mungkin berhubungan dengan kemampuan bertahan hidup. Beberapa kelompok burung purba masih memiliki jenis bulu tubuh yang lebih primitif. Bulu tubuh berperan penting dalam menjaga suhu tubuh, sehingga perbedaan kemampuan isolasi panas mungkin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan kelompok burung menghadapi perubahan lingkungan setelah tumbukan asteroid. Namun, penelitian ini menyajikan kemungkinan tersebut sebagai salah satu hipotesis, bukan sebagai kesimpulan tunggal mengenai penyebab kepunahan.<\/p>\n<p>Selain memberikan informasi mengenai evolusi bulu, fosil tersebut juga menjadi bukti mengenai hubungan predator dan mangsa pada masa lalu. Kotoran fosil yang biasanya dianggap sebagai sisa pencernaan ternyata dapat menyimpan berbagai informasi mengenai makanan dan interaksi antarhewan.<\/p>\n<p>Peneliti bahkan menyebut temuan ini membuka peluang baru dalam penelitian paleontologi. Dengan teknologi pemindaian seperti micro-CT, ilmuwan dapat melihat bagian dalam koprolit tanpa harus menghancurkan seluruh fosil. Metode tersebut memungkinkan peneliti menemukan sisa-sisa organisme yang sebelumnya mungkin tidak terlihat dari permukaan.<\/p>\n<p>Temuan bulu di dalam kotoran dinosaurus pada akhirnya menunjukkan bahwa informasi mengenai kehidupan jutaan tahun lalu dapat tersembunyi di tempat yang tidak terduga. Dari sebuah bongkahan fosil yang awalnya terlihat sederhana, ilmuwan dapat memperoleh petunjuk mengenai makanan dinosaurus, keberadaan burung purba, evolusi bulu, hingga kemungkinan faktor yang memengaruhi keberlangsungan suatu kelompok hewan setelah kepunahan massal. (Sumber: Current Biology\/P-3)\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/935334\/bulu-burung-berusia-66-juta-tahun-ditemukan-di-kotoran-dinosaurus-ungkap-jejak-kehidupan-masa-lalu\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi fosil.(Magnific) PENEMUAN fosil tidak selalu berasal dari tulang atau bagian tubuh hewan yang utuh. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bukti yang tidak biasa berupa bulu burung yang terawetkan di dalam kotoran dinosaurus yang telah menjadi fosil. Temuan tersebut memberikan informasi baru mengenai kehidupan burung purba sekaligus membantu ilmuwan memahami kondisi yang dihadapi kelompok burung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":106158,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-106157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}