{"id":105867,"date":"2026-09-19T10:58:58","date_gmt":"2026-09-19T03:58:58","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/19\/akuakultur-indonesia-kunci-krisis-pangan-dan-energi-dunia\/"},"modified":"2026-09-19T10:58:58","modified_gmt":"2026-09-19T03:58:58","slug":"akuakultur-indonesia-kunci-krisis-pangan-dan-energi-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/19\/akuakultur-indonesia-kunci-krisis-pangan-dan-energi-dunia\/","title":{"rendered":"Akuakultur Indonesia Kunci Krisis Pangan dan Energi Dunia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/19\/1789789869_3b3c6a435eae43c2394c.jpg\" alt=\"Akuakultur Indonesia Kunci Krisis Pangan dan Energi Dunia\"\/><figcaption>Ketua Umum GNTI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, saat memberikan presentasi di 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) di Qingdao, Tiongkok, Kamis (17\/9).(MI\/HO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DATA terbaru FAO 2026 mencatat sejarah baru dalam industri pangan dunia. Produksi perikanan dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/akuakultur\" title=\"Akuakultur\">akuakultur<\/a> global berhasil menembus angka 235 juta ton. Untuk pertama kalinya, akuakultur resmi menjadi mesin pertumbuhan utama dengan menyumbang 53% hewan akuatik global dan 59% pangan hewan akuatik, di saat sektor perikanan tangkap mulai mengalami stagnasi.<\/p>\n<p>Di tengah dinamika global seperti perang dagang, krisis iklim, dan ledakan populasi, sektor kelautan muncul sebagai solusi cerdas. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum GNTI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, dalam presentasinya di 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) di Qingdao, Tiongkok, Kamis (17\/9).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Menurut Prof. Rokhmin, akuakultur kini bukan sekadar penyedia protein, melainkan penyedia bahan bakar dunia yang berkelanjutan. Indonesia, sebagai negara kepulauan, memegang kartu truf dengan potensi ekonomi akuakultur yang ditaksir mencapai US$210 miliar per tahun.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/883714\/bioteknologi-kelautan-kunci-agromaritim-berkelanjutan-menuju-indonesia-emas-2045\" title=\"Bioteknologi Kelautan Kunci Agromaritim Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045\" target=\"_blank\">Bioteknologi Kelautan Kunci Agromaritim Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045<\/a><\/strong><\/p>\n<h2 style=\"border-bottom: 1px solid #ccc; padding-bottom: 5px;\">Rincian Potensi Akuakultur Indonesia<\/h2>\n<p>Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa di tiga zona utama budidaya. Berikut adalah rincian potensi lahan dan produksinya:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Zona Budidaya<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Luas Lahan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Potensi Produksi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Komoditas Unggulan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Marikultur (Laut)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">24 Juta Hektare<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">60 Juta Ton\/Tahun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Kerapu, Lobster, Mutiara, Teripang, Rumput Laut<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Pesisir (Tambak)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">3 Juta Hektare<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">34,36 Juta Ton\/Tahun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Udang Vaname, Bandeng, Kepiting<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Air Tawar<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">2 Juta Hektare<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">5,7 Juta Ton\/Tahun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Nila, Patin, Arwana, Lobster Air Tawar<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Salah satu bukti dominasi Indonesia adalah pasokan mutiara laut selatan (South Sea Pearl) yang kini menyumbang 43% dari total kebutuhan dunia.<\/p>\n<h2>Bioteknologi: Permata Tersembunyi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ekonomi-biru\" title=\"ekonomi biru\">Ekonomi Biru<\/a><\/h2>\n<p>Prof. Rokhmin menyoroti <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bioteknologi-kelautan\" title=\"bioteknologi kelautan\">bioteknologi kelautan<\/a> sebagai &#8220;permata tersembunyi&#8221; yang nilainya diprediksi empat kali lipat lebih besar dari industri semikonduktor global. Sektor ini mampu menghasilkan 12 produk akhir, mulai dari pangan fungsional, farmasi anti-kanker, hingga biofuel.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/916967\/kolaborasi-pentahelix-dorong-transisi-energi-terbarukan-di-sektor-akuakultur\" title=\"Kolaborasi Pentahelix Dorong Transisi Energi Terbarukan di Sektor Akuakultur\" target=\"_blank\">Kolaborasi Pentahelix Dorong Transisi Energi Terbarukan di Sektor Akuakultur<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Beberapa implementasi nyata di Indonesia meliputi:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Evergen (Kendal):<\/strong> Memproduksi 500 kg astaxanthin per bulan untuk pasar AS, Korea Selatan, dan Jepang.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>ALBITEC (Semarang):<\/strong> Memproduksi 500 kg spirulina per bulan menggunakan energi terbarukan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Solusi Limbah:<\/strong> Pemanfaatan bakteri <i>Pseudomonas putida<\/i> untuk tumpahan minyak dan <i>Bacillus subtilis<\/i> untuk pengurai plastik.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Selain itu, protein ikan menawarkan solusi cerdas iklim dengan jejak karbon 5 hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan daging merah.<\/p>\n<h2>Ironi Investasi dan Tantangan Sektor Perikanan<\/h2>\n<p>Meski memiliki potensi Rp3.000 triliun yang &#8220;menganggur&#8221;, Indonesia masih menghadapi kendala struktural. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan pemanfaatan potensi akuakultur baru mencapai 18,40% pada 2025.<\/p>\n<p>Prof. Rokhmin juga mengungkap data pahit dari Bank Dunia 2024 terkait akses pembiayaan bagi nelayan dan pembudidaya:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Indikator Keuangan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Nilai\/Persentase<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Suku Bunga Pinjaman Indonesia<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">8,8% (Tertinggi ke-2 di ASEAN)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Alokasi Kredit Perikanan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">0,35% (Rp 19,78 Triliun dari Rp 5.688 Triliun)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Usaha Tradisional (Skala Kecil)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">75% dari total unit usaha<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h2>Lompatan Teknologi: Marine Ranching dan TEMR<\/h2>\n<p>Sebagai solusi masa depan, Prof. Rokhmin menawarkan konsep <i>Marine Ranching<\/i> atau Peternakan Laut Ekologis. Berbeda dengan keramba konvensional, metode ini membangun habitat buatan di teluk untuk melepaskan benih ikan agar tumbuh secara alami dan regeneratif.<\/p>\n<p>Model sukses ini telah dibuktikan melalui <i>Sea Farming Program<\/i> di Kepulauan Seribu sejak 2005, yang kini menjadikan wilayah tersebut pemasok utama kerapu ke Jakarta. Untuk skala nasional, Indonesia mengusulkan model <strong>Tropical Ecological Marine Ranching (TEMR)<\/strong> yang membagi teluk menjadi lima zona, mulai dari inti konservasi hingga zona pengolahan darat-laut.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia memiliki konektivitas ekologis antara mangrove, lamun, dan terumbu karang yang tidak dimiliki negara lain. Kita punya modal besar, namun pertanyaannya: apakah alokasi kredit 0,35% itu cukup untuk mewujudkannya?\u201d pungkas Prof. Rokhmin. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/935186\/akuakultur-indonesia-kunci-krisis-pangan-dan-energi-dunia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Umum GNTI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, saat memberikan presentasi di 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) di Qingdao, Tiongkok, Kamis (17\/9).(MI\/HO) DATA terbaru FAO 2026 mencatat sejarah baru dalam industri pangan dunia. Produksi perikanan dan akuakultur global berhasil menembus angka 235 juta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":105868,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-105867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105868"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}