{"id":105381,"date":"2026-09-18T12:11:40","date_gmt":"2026-09-18T05:11:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/18\/keren-bakteri-kimchi-terbukti-mampu-mengikat-dan-mengeluarkan-nanoplastik-dari-tubuh\/"},"modified":"2026-09-18T12:11:40","modified_gmt":"2026-09-18T05:11:40","slug":"keren-bakteri-kimchi-terbukti-mampu-mengikat-dan-mengeluarkan-nanoplastik-dari-tubuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/18\/keren-bakteri-kimchi-terbukti-mampu-mengikat-dan-mengeluarkan-nanoplastik-dari-tubuh\/","title":{"rendered":"Keren Bakteri Kimchi Terbukti Mampu Mengikat dan Mengeluarkan Nanoplastik dari Tubuh"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/18\/1789693471_164000449e97885a4f10.jpg\" alt=\"Keren! Bakteri Kimchi Terbukti Mampu Mengikat dan Mengeluarkan Nanoplastik dari Tubuh\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BAKTERI asam laktat yang diisolasi dari makanan tradisional khas Korea, kimchi, terbukti dapat mengikat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nanoplastik\" title=\"nanoplastik\">nanoplastik<\/a> di dalam usus dan membantu mengeluarkannya dari tubuh. Temuan menarik ini mengindikasikan potensi baru dari mikroba makanan fermentasi dalam meredakan dampak cemaran plastik.<\/p>\n<p>Kabar baik ini disampaikan oleh World Institute of Kimchi (WiKim), lembaga penelitian yang didanai oleh Kementerian Sains dan ICT Korea Selatan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Nanoplastik sendiri merupakan partikel plastik berukuran amat kecil, kurang dari 1 mikrometer (seperseribu milimeter), yang terbentuk dari pelapukan bahan plastik berukuran besar. Partikel ultra-halus ini rentan masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan air minum.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/933148\/mikroplastik-terhirup-benarkah-bisa-picu-kanker-paru-paru\" title=\"Mikroplastik Terhirup, Benarkah Bisa Picu Kanker Paru-paru?\u00a0\" target=\"_blank\">Mikroplastik Terhirup, Benarkah Bisa Picu Kanker Paru-paru?\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Karena ukurannya yang sangat kerdil, nanoplastik berisiko menembus dinding usus dan menumpuk di berbagai organ vital seperti ginjal hingga otak. Sayangnya, strategi biologis untuk mengurangi penumpukan nanoplastik di saluran pencernaan masih berada pada tahap awal penelitian.<\/p>\n<h2>Mampu Bertahan di Lingkungan Usus<\/h2>\n<p>Guna mencari solusi atas ancaman tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Se Hee Lee dan Dr. Tae Woong Whon dari WiKim meneliti kemampuan adsorpsi (penyerapan) bakteri asal kimchi bernama Leuconostoc mesenteroides CBA3656 terhadap nanoplastik polystyrene (PS-NPs).<\/p>\n<p>Dalam kondisi laboratorium standar, strain CBA3656 menunjukkan efisiensi adsorpsi yang sangat tinggi mencapai 87%. Nilai ini setara dengan strain pembanding Latilactobacillus sakei CBA3608 sebesar 85%.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/886681\/polusi-mikroplastik-di-atmosfer-picu-pemanasan-global\" title=\"Polusi Mikroplastik di Atmosfer Picu Pemanasan Global\" target=\"_blank\">Polusi Mikroplastik di Atmosfer Picu Pemanasan Global<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, perbedaan signifikan justru terlihat saat pengujian dilakukan di lingkungan yang mensimulasikan kondisi usus manusia. Tingkat adsorpsi strain CBA3608 anjlok secara drastis hingga tersisa 3%. Sebaliknya, strain CBA3656 mampu mempertahankan tingkat penyerapan yang stabil di angka 57%.<\/p>\n<p>Hasil ini membuktikan bahwa strain bakteri dari kimchi tersebut dapat mengikat nanoplastik dengan stabil meskipun berada di lingkungan saluran pencernaan manusia.<\/p>\n<h2>Efektif Melipatgandakan Pengeluaran Nanoplastik<\/h2>\n<p>Temuan berharga ini juga dikonfirmasi melalui eksperimen pada model tikus bebas kuman (germ-free mouse). Dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberi probiotik, tikus jantan maupun betina yang diberikan strain CBA3656 mengalami peningkatan deteksi nanoplastik dalam kotoran (feses) lebih dari dua kali lipat.<\/p>\n<p>Hasil tersebut mengindikasikan bahwa probiotik tersebut berkontribusi aktif dalam membuang nanoplastik dengan cara mengikatnya di dalam usus sebelum dikeluarkan lewat pencernaan. Penemuan ini memberi bukti ilmiah bahwa bakteri asam laktat dari kimchi memiliki interaksi penting dengan polutan mikro di lingkungan, melampaui peran tradisionalnya dalam proses fermentasi semata.<\/p>\n<p>&#8220;Pencemaran plastik kian diakui bukan hanya sebagai masalah lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan masyarakat,&#8221; ujar Dr. Sehee Lee, ketua tim peneliti studi tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Temuan kami menunjukkan bahwa mikroorganisme yang berasal dari makanan fermentasi tradisional dapat menjadi pendekatan biologis baru untuk menghadapi tantangan ini. Kami akan terus mengembangkan nilai ilmiah dari sumber daya mikroba kimchi untuk berkontribusi pada solusi kesehatan masyarakat dan lingkungan,&#8221; tambahnya. (Science Daily\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/934784\/keren-bakteri-kimchi-terbukti-mampu-mengikat-dan-mengeluarkan-nanoplastik-dari-tubuh\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) BAKTERI asam laktat yang diisolasi dari makanan tradisional khas Korea, kimchi, terbukti dapat mengikat nanoplastik di dalam usus dan membantu mengeluarkannya dari tubuh. Temuan menarik ini mengindikasikan potensi baru dari mikroba makanan fermentasi dalam meredakan dampak cemaran plastik. Kabar baik ini disampaikan oleh World Institute of Kimchi (WiKim), lembaga penelitian yang didanai oleh Kementerian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":105382,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-105381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105382"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}