{"id":105339,"date":"2026-09-18T10:23:47","date_gmt":"2026-09-18T03:23:47","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/18\/misteri-kabut-ungu-terkuak-fenomena-aurora-langka-hiasi-langit-malam\/"},"modified":"2026-09-18T10:23:47","modified_gmt":"2026-09-18T03:23:47","slug":"misteri-kabut-ungu-terkuak-fenomena-aurora-langka-hiasi-langit-malam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/18\/misteri-kabut-ungu-terkuak-fenomena-aurora-langka-hiasi-langit-malam\/","title":{"rendered":"Misteri Kabut Ungu Terkuak, Fenomena Aurora Langka Hiasi Langit Malam"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/18\/1789690205_4240b196b2024ec21346.jpg\" alt=\"Misteri Kabut Ungu Terkuak, Fenomena Aurora Langka Hiasi Langit Malam\"\/><figcaption>Pengamatan NASA Earth Observatory mengungkap fenomena aurora ungu langka yang dihiasi kabut misterius. Simak penjelasan ilmiah di balik cahaya indah ini.(NASA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Pemandangan mengagumkan kembali menghiasi langit malam saat fenomena <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/aurora-ungu\" title=\"aurora ungu\">aurora ungu<\/a> yang sangat langka berhasil diabadikan oleh instrumen pengamat Bumi. Hasil analisis dan pengamatan yang dirilis oleh <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nasa-earth-observatory\" title=\"NASA Earth Observatory\">NASA Earth Observatory<\/a> memperlihatkan pendaran cahaya berbentuk pita dan kabut berwarna ungu kemerahan yang tidak biasa.<\/p>\n<p>Fenomena yang tampak seperti pendaran kabut ungu (purple haze) ini terjadi ketika partikel bermuatan energi tinggi dari Matahari meluncur dan menembus lapisan magnetosfer Bumi. Ketika partikel Matahari ini bertabrakan dengan atom dan molekul gas di atmosfer bagian atas, energi dilepaskan dalam bentuk cahaya warna-warni yang memukau.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Umumnya, aurora yang paling sering terlihat di wilayah kutub memancarkan warna hijau terang. Warna hijau tersebut dihasilkan oleh interaksi partikel dengan atom oksigen pada ketinggian sekitar 100 hingga 300 kilometer di atas permukaan Bumi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/934760\/terkuak-keterlambatan-kereta-api-akibat-cuaca-luar-angkasa-terjadi-pada-1848-bukan-1841\" title=\"Terkuak! Keterlambatan Kereta Api Akibat Cuaca Luar Angkasa Terjadi pada 1848, Bukan 1841\" target=\"_blank\">Terkuak! Keterlambatan Kereta Api Akibat Cuaca Luar Angkasa Terjadi pada 1848, Bukan 1841<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Penyebab Munculnya Warna Ungu yang Langka<\/h2>\n<p>Berbeda dengan aurora hijau yang lazim dijumpai, warna ungu dan merah muda muncul akibat mekanisme yang berbeda. Pendaran warna ungu ini tercipta saat partikel Matahari bertabrakan dengan molekul nitrogen di ketinggian yang lebih rendah di atmosfer.<\/p>\n<p>Proses terjadinya fenomena ini membutuhkan tingkat aktivitas geomagnetik yang sangat kuat. <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/badai-geomagnetik\" title=\"badai geomagnetik\">Badai geomagnetik<\/a> skala tinggi mampu mendorong partikel bermuatan untuk menembus lebih dalam ke lapisan atmosfer Bumi, sehingga memicu reaksi dengan molekul nitrogen dan menghasilkan spektrum warna ungu yang spektakuler.<\/p>\n<p>Selain warna ungu, beberapa pengamat dan instrumen satelit juga mencatat adanya fenomena melengkung mirip pita cahaya yang sering diasosiasikan dengan fenomena Strong Thermal Emission Velocity Enhancement (STEVE). Meski secara visual mirip aurora, STEVE memiliki karakteristik fisis yang berbeda karena melibatkan arus gas panas yang bergerak sangat cepat di atmosfer atas.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/930370\/badai-matahari-november-2025-ganggu-gps-amerika-akurasi-bergeser-10-meter\" title=\"Badai Matahari November 2025 Ganggu GPS Amerika, Akurasi Bergeser 10 Meter\" target=\"_blank\">Badai Matahari November 2025 Ganggu GPS Amerika, Akurasi Bergeser 10 Meter<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Pentingnya Pemantauan Cuaca Luar Angkasa<\/h2>\n<p>Data yang dikumpulkan oleh NASA Earth Observatory dan jaringan pengamat Bumi memainkan peran penting dalam membantu para ilmuwan memahami dinamika cuaca luar angkasa (space weather). Selain menyajikan keindahan visual yang memanjakan mata, badai geomagnetik yang memicu timbulnya aurora langka ini juga membawa dampak teknis.<\/p>\n<p>Aktivitas magnetik yang tinggi di atmosfer dapat memengaruhi operasional satelit komunikasi, merusak sinyal navigasi GPS, hingga memicu gangguan pada jaringan listrik di wilayah lintang tinggi.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pengamatan visual dan pemetaan data satelit terhadap fenomena aurora seperti ini menjadi modal krusial bagi para peneliti untuk terus memprediksi serta mengantisipasi dampak badai Matahari terhadap infrastruktur teknologi di Bumi. (NASA\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/934765\/misteri-kabut-ungu-terkuak-fenomena-aurora-langka-hiasi-langit-malam\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengamatan NASA Earth Observatory mengungkap fenomena aurora ungu langka yang dihiasi kabut misterius. Simak penjelasan ilmiah di balik cahaya indah ini.(NASA) Pemandangan mengagumkan kembali menghiasi langit malam saat fenomena aurora ungu yang sangat langka berhasil diabadikan oleh instrumen pengamat Bumi. Hasil analisis dan pengamatan yang dirilis oleh NASA Earth Observatory memperlihatkan pendaran cahaya berbentuk pita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":105340,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-105339","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105339","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105339"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105339\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105340"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105339"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105339"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105339"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}