{"id":105041,"date":"2026-09-17T21:16:55","date_gmt":"2026-09-17T14:16:55","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/17\/wamendikdasmen-bk-harus-jadi-pendamping-perkembangan-siswa\/"},"modified":"2026-09-17T21:16:55","modified_gmt":"2026-09-17T14:16:55","slug":"wamendikdasmen-bk-harus-jadi-pendamping-perkembangan-siswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/17\/wamendikdasmen-bk-harus-jadi-pendamping-perkembangan-siswa\/","title":{"rendered":"Wamendikdasmen BK Harus Jadi Pendamping Perkembangan Siswa"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/17\/1789654460_a16654d5bc3d448dda85.jpeg\" alt=\"Wamendikdasmen: BK Harus Jadi Pendamping Perkembangan Siswa\"\/><figcaption>Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen)\u00a0Fajar Riza Ul Haq.(Dok. MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/wamendikdasmen\" title=\"Wamendikdasmen\">Wamendikdasmen<\/a>), <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/fajar-riza-ul-haq\" title=\"Fajar Riza Ul Haq\">Fajar Riza Ul Haq<\/a>\u00a0mendorong transformasi layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah agar tidak lagi dipandang sebagai layanan untuk menangani siswa bermasalah. Ia menilai BK harus berperan sebagai pendamping perkembangan potensi peserta didik.<\/p>\n<p>\u201cBK bukan pelengkap, BK adalah jantung dari pendidikan yang memanusiakan,\u201d ujar Fajar dalam pembukaan Konvensi Nasional XXV, Kongres XV <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/abkin\" title=\"ABKIN\">ABKIN<\/a>, dan International Seminar and Conference on Guidance and Counseling (ISCGC) 2026, kemarin.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Fajar mengatakan, selama ini layanan BK masih sering dilekatkan dengan stigma sebagai \u201cpolisi sekolah\u201d yang hanya berperan ketika siswa melakukan pelanggaran. Padahal, menurutnya, peran guru BK jauh lebih luas, yakni membantu siswa memahami potensi diri, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan masa depan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/932253\/revitalisasi-sdn-tanggirejo-grobogan-wujud-komitmen-pemerintah-pada-keamanan-sekolah\" target=\"_blank\" title=\"Revitalisasi SDN Tanggirejo Grobogan Wujud Komitmen Pemerintah pada Keamanan Sekolah\">Revitalisasi SDN Tanggirejo Grobogan Wujud Komitmen Pemerintah pada Keamanan Sekolah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut dia, perubahan zaman membuat persoalan yang dihadapi siswa semakin kompleks. Selain persoalan akademik, peserta didik kini menghadapi berbagai tantangan seperti tekanan prestasi, krisis identitas, perubahan sosial budaya, hingga dampak perkembangan teknologi digital seperti\u00a0<em>cyberbullying<\/em>.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut, kata Fajar, membutuhkan perubahan pendekatan layanan BK dari model yang bersifat reaktif menjadi model yang transformatif dan komprehensif.<\/p>\n<p>\u201c<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bk-transformatif\" title=\"BK Transformatif\">BK transformatif<\/a> tidak lagi menunggu masalah datang, tetapi membangun ekosistem perkembangan siswa yang proaktif dan memberdayakan,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/930160\/wamendikdasmen-resmikan-susi-environmental-school-di-pangandaran\" target=\"_blank\" title=\"Wamendikdasmen Resmikan Susi Environmental School di Pangandaran\">Wamendikdasmen Resmikan Susi Environmental School di Pangandaran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan, layanan BK ke depan harus menyasar seluruh peserta didik, bukan hanya siswa yang mengalami persoalan tertentu. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan aspek pribadi, sosial, kemampuan belajar, serta kesiapan karier siswa.<\/p>\n<p>Fajar juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam penyelenggaraan layanan BK. Guru BK tidak dapat bekerja sendiri, tetapi perlu berkoordinasi dengan wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tenaga kesehatan sekolah, hingga tenaga profesional lainnya.<\/p>\n<p>Selain itu, ia menyoroti perlunya penguatan kompetensi guru BK, termasuk kemampuan menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, pemanfaatan sistem digital dan data dapat membantu sekolah memetakan kebutuhan siswa serta memberikan layanan yang lebih tepat sasaran.<\/p>\n<p>Ia mengatakan ukuran keberhasilan layanan BK tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah siswa yang dipanggil atau kasus yang ditangani. Evaluasi perlu bergeser pada dampak yang lebih luas, seperti peningkatan kesejahteraan siswa (<em>well-being<\/em>), kepercayaan diri (<em>self-efficacy<\/em>), kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi masa depan.<\/p>\n<p>Fajar turut mengingatkan bahwa transformasi BK harus tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan nasional. Ia mengaitkannya dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidik sebagai pamong yang bertugas menuntun perkembangan anak.<\/p>\n<p>Menurutnya, tujuan pendidikan bukan menciptakan siswa yang seragam, melainkan membantu setiap anak menemukan potensi terbaik dalam dirinya.<\/p>\n<p>\u201cKalau BK lama bertanya apa masalahnya, maka BK transformatif bertanya apa potensi dan kekuatan yang dimiliki siswa serta bagaimana membantu mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,\u201d ujar Fajar.<\/p>\n<p>Melalui penguatan layanan BK transformatif, ia berharap sekolah dapat menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan secara akademik, tetapi juga membangun karakter, ketahanan mental, dan kesiapan peserta didik menghadapi masa depan.<\/p>\n<p>Ketua Pelaksana Konvensi Nasional XXV, Kongres XV ABKIN, dan International Seminar and Conference on Guidance and Counseling (ISCGC) 2026,\u00a0Karsih, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk berbagi gagasan serta merumuskan pengembangan layanan BK yang semakin responsif terhadap perubahan zaman.<\/p>\n<p>\u201cIni menjadi perjumpaan dalam membangun dialog, berbagi gagasan, serta merumuskan dan mengembangkan bimbingan dan konseling yang semakin responsif terhadap dinamika dan tata kehidupan di masa yang akan datang,\u201d ujar Karsih.<\/p>\n<p>Karsih berharap forum tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi dalam mewujudkan transformasi Bimbingan dan Konseling Indonesia yang lebih inspiratif, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat global. (Z-10)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/934651\/wamendikdasmen-bk-harus-jadi-pendamping-perkembangan-siswa\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen)\u00a0Fajar Riza Ul Haq.(Dok. MI) WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq\u00a0mendorong transformasi layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah agar tidak lagi dipandang sebagai layanan untuk menangani siswa bermasalah. Ia menilai BK harus berperan sebagai pendamping perkembangan potensi peserta didik. \u201cBK bukan pelengkap, BK [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":105042,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-105041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105042"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}