{"id":104794,"date":"2026-09-17T10:43:00","date_gmt":"2026-09-17T03:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/17\/tembus-rp1735-triliun-pembiayaan-penyakit-jantung-bebani-anggaran-jkn\/"},"modified":"2026-09-17T10:43:00","modified_gmt":"2026-09-17T03:43:00","slug":"tembus-rp1735-triliun-pembiayaan-penyakit-jantung-bebani-anggaran-jkn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/17\/tembus-rp1735-triliun-pembiayaan-penyakit-jantung-bebani-anggaran-jkn\/","title":{"rendered":"Tembus Rp17,35 Triliun, Pembiayaan Penyakit Jantung Bebani Anggaran JKN"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/17\/1789615927_3558fb80b9c10b9404bd.jpg\" alt=\"Tembus Rp17,35 Triliun, Pembiayaan Penyakit Jantung Bebani Anggaran JKN\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bpjs\" title=\"bpjs\">BPJS<\/a> Kesehatan secara resmi mendorong transformasi layanan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/jantung\" title=\"jantung\">jantung<\/a> pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/jkn\" title=\"jkn\">JKN<\/a>) melalui pendekatan <i>Value-Based Health Care<\/i> (VBHC). Strategi ini menempatkan hasil kesehatan (<i>health outcomes<\/i>) dan total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai fondasi utama dalam menciptakan nilai bagi peserta.<\/p>\n<p>Direktur Utama <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bpjs-kesehatan\" title=\"BPJS Kesehatan\">BPJS Kesehatan<\/a>, Prihati Pujowaskito, menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan langkah krusial untuk menjawab tantangan kenaikan biaya pelayanan kesehatan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Menurutnya, keberlanjutan Program JKN sangat bergantung pada kemampuan sistem dalam menghasilkan dampak kesehatan yang nyata bagi masyarakat, bukan sekadar membiayai pengobatan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/413002\/peneliti-ugm-pembiayaan-penyakit-jantung-beban-tertinggi-jkn-kis\" title=\"Peneliti UGM: Pembiayaan Penyakit Jantung Beban Tertinggi JKN-KIS\" target=\"_blank\">Peneliti UGM: Pembiayaan Penyakit Jantung Beban Tertinggi JKN-KIS<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun, dengan sekitar 87,1 persen realisasi pembiayaan berasal dari pelayanan di rumah sakit,&#8221; ujar Pujo dalam keterangannya, Kamis (17\/9).<\/p>\n<h3>Fokus pada Penyakit Jantung<\/h3>\n<p>Penyakit jantung menjadi prioritas utama dalam transformasi ini mengingat tingginya angka utilisasi layanan dan beban biaya yang signifikan. Berikut adalah data proyeksi pelayanan kesehatan JKN tahun 2025 berdasarkan paparan BPJS Kesehatan:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Indikator Pelayanan (Proyeksi 2025)<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Data\/Jumlah<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Total Biaya Pelayanan Kesehatan JKN<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Rp191,3 Triliun<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Porsi Pembiayaan di Rumah Sakit<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">87,1%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Jumlah Kasus Penyakit Jantung<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">&gt; 29,7 Juta Kasus<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Biaya Penjaminan Penyakit Jantung<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Sekitar Rp17,35 Triliun<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Penguatan di Hulu dan Hilir<\/h3>\n<p>Pujo menekankan pentingnya antisipasi sejak dini di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penguatan di tingkat hulu dilakukan melalui upaya promotif dan preventif untuk mengendalikan faktor risiko sebelum berkembang menjadi kondisi kronis.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/858694\/11-juta-pbi-bpjs-dinonaktifkan-ini-pengertian-manfaat-dan-siapa-saja-penerimanya\" title=\"11 Juta PBI BPJS Dinonaktifkan: Ini Pengertian, Manfaat, dan Siapa Saja Penerimanya\" target=\"_blank\">11 Juta PBI BPJS Dinonaktifkan: Ini Pengertian, Manfaat, dan Siapa Saja Penerimanya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Di tingkat FKTP, fokus utama mencakup:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Pengendalian tekanan darah dan gula darah secara intensif.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Pemantauan kadar HbA1C secara rutin bagi penderita diabetes.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Peningkatan kepatuhan pengobatan pasien.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Pemantauan ketat terhadap peserta dengan risiko tinggi.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Sementara itu, di tingkat rumah sakit, BPJS Kesehatan mendorong pelayanan yang lebih berorientasi pada mutu. Beberapa pendekatan teknis yang dikembangkan meliputi pembentukan <i>Heart Team<\/i> untuk pengambilan keputusan terpadu, penerapan tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan <i>Fractional Flow Reserve<\/i> (FFR), hingga <i>staged revascularization<\/i>.<\/p>\n<h3>Perubahan Paradigma Indikator Mutu<\/h3>\n<p>Transformasi ini juga menyasar pada perubahan indikator monitoring. BPJS Kesehatan mulai mengalihkan fokus dari indikator proses menuju indikator <i>outcome<\/i>. Hal ini mencakup pemantauan waktu tanggap kritis, keselamatan pascatindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, hingga efisiensi sistem rujukan.<\/p>\n<p>\u201cKita ingin mengubah paradigma dari <i>paying for services<\/i> menjadi <i>purchasing better outcomes<\/i>, dari <i>treating events<\/i> menjadi <i>preventing events<\/i>, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,&#8221; tutup Pujo. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/934353\/tembus-rp1735-triliun-pembiayaan-penyakit-jantung-bebani-anggaran-jkn\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) BPJS Kesehatan secara resmi mendorong transformasi layanan jantung pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Value-Based Health Care (VBHC). Strategi ini menempatkan hasil kesehatan (health outcomes) dan total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai fondasi utama dalam menciptakan nilai bagi peserta. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan langkah krusial [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":104795,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-104794","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104794"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104794\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104795"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}