{"id":104497,"date":"2026-09-16T20:50:39","date_gmt":"2026-09-16T13:50:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/16\/13-tahun-aris-sanda-lintasi-jalur-berat-papua-berujung-tragis-di-tangan-kkb\/"},"modified":"2026-09-16T20:50:39","modified_gmt":"2026-09-16T13:50:39","slug":"13-tahun-aris-sanda-lintasi-jalur-berat-papua-berujung-tragis-di-tangan-kkb","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/09\/16\/13-tahun-aris-sanda-lintasi-jalur-berat-papua-berujung-tragis-di-tangan-kkb\/","title":{"rendered":"13 Tahun Aris Sanda Lintasi Jalur Berat Papua Berujung Tragis di Tangan KKB"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/09\/16\/1789565952_a722e81b0b986382d95e.jpeg\" alt=\"13 Tahun Aris Sanda Lintasi Jalur Berat Papua Berujung Tragis di Tangan KKB\"\/><figcaption>Video diduga sopir travel Aris Sanda sebelum terjadi penembakan oleh OPM.(Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SELAMA 13 tahun, sejak 2013 hingga 2026, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/aris-sanda\" title=\"Aris Sanda\">Aris Sanda<\/a> alias Bapak Tasya bukan sekadar sopir. Pria asal Toraja Utara, Sulawesi Selatan, itu telah menjadi urat nadi mobilitas warga pegunungan tengah Papua.\u00a0<\/p>\n<p>Melintasi rute berat Kabupaten Jayawijaya, Nduga, dan sekitarnya, ia mengantar orang, barang, dan logistik bagi masyarakat yang sulit dijangkau.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Bagi warga di wilayah pegunungan tengah Papua, nama Aris bukanlah sosok asing. Selama 13 tahun ia bertahan di jalur itu, sebuah pengabdian panjang yang membuatnya dipercaya banyak orang.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/934064\/sopir-travel-tewas-dibunuh-opm-di-danau-habema-mobil-ditemukan-terbakar\" title=\"Sopir Travel Tewas Dibunuh OPM di Danau Habema, Mobil Ditemukan Terbakar\" target=\"_blank\">Sopir Travel Tewas Dibunuh OPM di Danau Habema, Mobil Ditemukan Terbakar<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, kepercayaan warga Papua harus berakhir tragis. Aris ditemukan tewas terbakar bersama mobil angkutannya di kawasan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.<\/p>\n<p>Aris sebenarnya lahir di Tawau pada 9 September 1985. Sejak 2013, ia hidup dari mengemudikan travel\/lajuran lintas rute berat.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Kalau tidak salah dia sudah tinggal di sana bersama keluarganya. Belum ada info kapan jenazah dipulangkan, apakah tetap di Papua sana atau di Toraja,&#8221; kata Jufri, kerabat korban.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/881736\/komisi-i-dpr-desak-pembentukan-tim-investigasi-insiden-puncak-papua\" title=\"Komisi I DPR Desak Pembentukan Tim Investigasi Insiden Puncak Papua\" target=\"_blank\">Komisi I DPR Desak Pembentukan Tim Investigasi Insiden Puncak Papua<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Aris selama ini melewati medan sulit, cuaca ekstrem, dan risiko keamanan yang tak kecil. Karena itu, kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun bergantung pada jasa angkutannya.<\/p>\n<p>Sebelum ditemukan tewas, tragedi yang merenggut nyawa Aris sempat menghebohkan media sosial. Sebuah video penyanderaannya beredar luas setelah diunggah oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kkb\" title=\"KKB\">KKB<\/a>) pimpinan Egianus Kogoya, bagian dari Kodap III Ndugama, pada Selasa, 15 September 2026.\u00a0<\/p>\n<p>Sehari kemudian, kabar duka itu datang: Aris ditemukan tidak bernyawa dalam kondisi terbakar. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Wirya Arthadiguna, dalam keterangan resminya mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika rombongan kendaraan korban dihentikan oleh kelompok bersenjata saat melayani jalur logistik dan penumpang dari Wamena menuju Mbua.<\/p>\n<p>\u201cKelompok tersebut melakukan pemeriksaan terhadap penumpang dan pengemudi. Para penumpang kemudian dipersilakan kembali ke Wamena, sementara sang sopir dibawa menuju kawasan danau,\u201d jelas Letkol Wirya.<\/p>\n<p>Kematian Aris bukan satu-satunya duka bagi keluarga besar Toraja di Papua. Dalam sepekan ini, sudah dua orang Toraja yang meninggal di Papua akibat ulah KKB\/KKN. Selain Aris, ada Aprida Rapi, aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, yang tewas ditembak KKB saat menjalankan tugas kedinasan.<\/p>\n<p>Aprida tewas saat menyalurkan bantuan pertanian berupa bibit ternak babi kepada masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Jayawijaya, Hendri Tetelepta, mengatakan sebelum kejadian, pada Rabu 9 September 2026 pukul 10.30 WIT, almarhumah menghadap dirinya untuk menyampaikan rencana pembagian bantuan tersebut. Sekitar pukul 13.30 WIT, informasi penembakan di Distrik Muliama mulai masuk.<\/p>\n<p>Jenazah Aprida kemudian dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ia tiba pada Sabtu (12\/9) pagi. (LN\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/934193\/13-tahun-aris-sanda-lintasi-jalur-berat-papua-berujung-tragis-di-tangan-kkb\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Video diduga sopir travel Aris Sanda sebelum terjadi penembakan oleh OPM.(Istimewa) SELAMA 13 tahun, sejak 2013 hingga 2026, Aris Sanda alias Bapak Tasya bukan sekadar sopir. Pria asal Toraja Utara, Sulawesi Selatan, itu telah menjadi urat nadi mobilitas warga pegunungan tengah Papua.\u00a0 Melintasi rute berat Kabupaten Jayawijaya, Nduga, dan sekitarnya, ia mengantar orang, barang, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":104498,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-104497","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104497","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104497"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104497\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104497"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104497"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104497"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}