
RIBUAN wisatawan memadati kawasan Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menyaksikan prosesi sakral Ruwatan Cukur Rambut Gimbal pada Sabtu (29/8). Ritual ini menjadi puncak rangkaian hari kedua Dieng Culture Festival (DCF) 2026 yang sangat dinanti.
Sebanyak 13 anak berambut gimbal, atau yang akrab disapa anak bajang, mengikuti prosesi penyucian tersebut. Rangkaian acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan kirab budaya yang berangkat dari rumah pemangku adat di Desa Dieng Kulon menuju kompleks Candi Arjuna.
Rombongan kirab, yang dipimpin oleh pemangku adat bersama Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Alif Faozi, mulai menyusuri jalan utama sekitar pukul 09.30. Anak-anak bajang yang mengenakan pakaian serba putih diarak menggunakan kereta kuda dengan iringan drum band tradisional serta pertunjukan tari budaya yang memikat perhatian wisatawan di sepanjang jalur kirab.
Permintaan Unik Anak Bajang
Salah satu keunikan tradisi ini adalah kewajiban memenuhi permintaan khusus dari sang anak sebelum rambutnya dipotong. Tahun ini, permintaan ke-13 peserta sangat beragam, mulai dari hewan ternak hingga barang elektronik modern.
Beberapa permintaan tersebut di antaranya:
- Anindie Cheryl Shaheenna & Andien Checilia Shaquilla: Dua kambing kecil (jantan dan betina).
- Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana: Satu set peralatan makan serupa milik ibunya.
- Winda Aulia & Malayeka Rafana Arabella: Sepeda listrik warna pink.
- Hafizah Zia Almahira: Laptop dan sepasang ayam kalasan.
- Lilla Chandra Kusuma: Motor trail.
- Herlista Zoya Elmeera: Dua ikan hias, dua kilogram daging bebek, dan sepeda pink.
Panitia DCF 2026, Chaerudin, menjelaskan bahwa pemenuhan permintaan ini bersifat mutlak. “Masyarakat percaya jika dipotong sebelum permintaannya dipenuhi, rambut gimbalnya bisa tumbuh kembali dan anak bisa sakit lagi,” ujarnya.
Warisan Leluhur yang Terjaga
Chaerudin menambahkan bahwa tradisi ini dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Dieng jauh sebelum ada festival formal. Fenomena rambut gimbal sendiri biasanya diawali dengan demam tinggi pada anak selama beberapa hari, yang kemudian diikuti tumbuhnya rambut yang menggimbal secara alami.
Setelah prosesi pencukuran di kawasan Candi Arjuna selesai, potongan rambut gimbal tersebut dilarung ke Telaga Balai Kambang. Pelarungan ini disertai dengan ritual penyajian hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
Penyelenggaraan DCF ke-16 ini diharapkan tidak hanya menjadi magnet bagi sektor pariwisata, tetapi juga menjadi ruang krusial untuk menjaga keberlangsungan tradisi unik masyarakat Dieng agar tetap dikenal oleh generasi mendatang dan masyarakat luas. (I-2)
