
SEORANG warga Usman, 67, meninggal dunia di posko pengungsian mandiri di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8) siang .
Ia meninggal setelah mengalami sesak napas dan batuk-batuk di lokasi pengungsian. Usman sebelumnya memiliki riwayat sakit.
Selama berada di lokasi pengungsian, ia hanya beristirahat dengan beralaskan terpal dan kain seadanya. Kondisi tempat pengungsian yang terbuka membuat warga harus bertahan dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Pada Kamis (20/8) pagi, kondisi Usman memburuk. Ia mengalami sesak napas dan batuk-batuk hingga akhirnya terjatuh di lokasi pengungsian.
Warga kemudian membawa Usman ke Puskesmas Watubaing untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, setelah mendapat penanganan, nyawanya tidak tertolong.
Sebelumnya, seorang warga setempat bernama Hasmida juga mengalami kejadian yang mengancam nyawa. Hasmida dilaporkan mengalami gigitan ular di sekitar lokasi pengungsian.
Korban sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Watubaing sebelum dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere. Hingga kini, Hasmida masih menjalani perawatan medis.
Di Desa Nangahale, sebanyak 393 kepala keluarga atau 1.551 jiwa tercatat bertahan di tiga posko pengungsian mandiri. Mereka terdiri atas 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.
Keberadaan kelompok rentan dalam jumlah besar membuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan, perlindungan, makanan, air bersih, tempat tinggal yang layak, serta keamanan di lokasi pengungsian menjadi semakin mendesak.
Warga berharap pemerintah daerah tidak hanya memastikan penyaluran bantuan di wilayah perkotaan atau pusat pemerintahan, tetapi juga menjangkau lokasi-lokasi pengungsian mandiri yang berada di wilayah terpencil. (H-4)
