
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.624 gempa bumi susulan terjadi pascagempa utama berkekuatan M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Data yang dihimpun hingga Senin (17/8) pukul 11.00 WIB menunjukkan magnitudo susulan berkisar antara M1,3 hingga M6,2.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkapkan bahwa dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 23 kejadian memiliki magnitudo di atas M5, sementara 59 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Gempa utama sendiri terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB yang dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Bencana ini mengakibatkan dampak serius dengan laporan sementara 53 orang meninggal dunia dan 137 orang luka-luka. Kerusakan bangunan dengan tingkat ringan hingga berat tersebar di wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere.
Terkait penanganan tsunami, BMKG mengeluarkan peringatan dini dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa. Tsunami terdeteksi di 16 lokasi di empat provinsi (NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara). Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, mencapai 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB.
Saat ini, BMKG telah menerjunkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, serta verifikasi dampak tsunami di lapangan. “Hasil survei akan menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa dan penyusunan rekomendasi rekonstruksi,” ujar Wijayanto di Jakarta, Senin (17/8).
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan. BMKG mengingatkan warga agar menghindari bangunan yang retak atau rusak dan selalu memantau informasi resmi melalui aplikasi InfoBMKG atau situs resmi bmkg.go.id. (BMKG/Z-10)
