Penjelasan Ahli Soal Rangkaian Bencana Gempa NTT, Sumatra, dan Sulawesi
Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).(Antara)

TIGA gempa bumi signifikan mengguncang sejumlah wilayah di Indonesia dalam kurun waktu yang berdekatan pada 15 Agustus 2026. Meski terjadi dalam rentang waktu hanya sekitar 18 jam, rangkaian aktivitas seismik tersebut dipastikan tidak memiliki keterkaitan secara tektonik.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa fenomena ini disebut sebagai earthquake clustering. Fenomena tersebut merujuk pada sejumlah kejadian gempa independen yang terjadi berdekatan dalam kurun waktu tertentu tanpa adanya hubungan sebab-akibat langsung.

“Kedekatan temporal ini kerap memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan efek domino antar-gempa,” ujar Daryono dalam keterangan resmi, Senin (17/8).

Rincian Kejadian Gempa 15 Agustus 2026

Berdasarkan data kronologis, rangkaian gempa dimulai dari wilayah timur Indonesia hingga ke wilayah barat dan tengah:

Analisis Mekanisme Tektonik

Daryono menegaskan bahwa ketiga gempa tersebut berasal dari sistem tektonik yang berbeda. Gempa Flores M7,7 merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Flores back-arc thrust atau sesar naik Flores.

Sebaliknya, gempa di Sumatra Utara dan Parigi Moutong berkaitan dengan intraslab deformation, yaitu deformasi yang terjadi di dalam lempeng tektonik yang menunjam ke bawah lapisan astenosfer. Perbedaan kedalaman yang signifikan (15 km berbanding 172,5 km dan 72,5 km) memperkuat bukti bahwa sumber pemicunya tidak saling berhubungan.

Dari sisi mekanika batuan, Daryono menyebut mekanisme static stress trigger tidak berlaku dalam kasus ini. Perubahan medan Coulomb failure stress akibat gempa Flores dinilai sangat terbatas dan menurun drastis seiring jarak, sehingga tidak mungkin menjangkau zona Sumatra Utara maupun Sulawesi Tengah yang berjarak ribuan kilometer.

Kesimpulan Ahli: Kemunculan tiga gempa ini merupakan kebetulan temporal dari siklus seismik masing-masing segmen yang telah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun. Tidak ditemukan bukti empiris bahwa rambatan gelombang seismik (dynamic stress trigger) mampu memicu patahan besar secara serta-merta pada zona yang terpisah jauh.

Setiap zona tektonik di Indonesia memiliki mekanisme pengumpulan tegangan dan periode ulang yang berbeda. Kejadian pada 15 Agustus 2026 ini menjadi pengingat akan aktifnya berbagai segmen tektonik di wilayah Indonesia yang bekerja secara independen. (Ata/I-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *