
BAKAT musik terkadang muncul dari cara yang tidak terduga. Bagi pianis muda Michael Anthony Kwok, perjalanan tersebut bahkan dimulai ketika usianya baru dua tahun. Saat itu, ia belum mengenal notasi musik dan belum dapat berbicara, tetapi sudah mampu memainkan lagu yang sering didengarnya di piano hanya dengan dua jari.
Kisah perjalanan Michael tersebut dibagikan sang ibu, Mentalia Kurnia atau Ibu Lia, dalam press junket yang digelar Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Institut français d’Indonésie (IFI) bersama Ananda Sukarlan Center (ASC), Kamis (14/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penyambutan Michael setelah dirinya kembali dari Paris. Michael merupakan Grand Prize Winner Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025 dan baru saja mengikuti program musik musim panas intensif di Paris.
Bakat yang Muncul Secara Tak Terduga
Bagi Ibu Lia, tidak ada tanda-tanda khusus bahwa anaknya akan menjadi seorang pianis. Semuanya bermula dari kebiasaan Michael mendengarkan lagu yang sama berulang kali.
Saat berusia dua tahun, Michael tiba-tiba dapat memainkan sebuah lagu yang sering didengarnya dengan menggunakan dua jari. Padahal, saat itu ia belum mengetahui nada do-re-mi, tidak memahami notasi, dan belum mampu berkomunikasi secara verbal seperti anak seusianya.
“Dia nggak tahu note, dan dia tidak berbicara, tidak panggil papa, karena sampai umur tiga tahun pun tidak ngomong. Tapi dia bisa main,” ujar Ibu Lia.
Kejadian tersebut membuat keluarga mulai menyadari adanya kemampuan musikal yang berbeda pada diri Michael. Mereka kemudian mencoba memberikan lagu-lagu sederhana yang biasa dinyanyikan kepada anak-anak.
Ibu Lia menyenandungkan lagu-lagu anak ketika menemani Michael tidur. Di luar dugaan, Michael dapat memainkan kembali lagu tersebut di piano hanya dengan mengandalkan ingatan pendengarannya.
“Setelah kita senandung, dia bisa main di piano. Dari umur dua tahun ke tiga tahun, semua lagu yang saya senandungkan setiap dia tidur, dia bisa memainkannya dengan dua jari,” tuturnya.
Kemampuan tersebut akhirnya membuat keluarga memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Michael belajar piano secara lebih serius.
Belajar Piano dengan Metode yang Dicari Bersama
Karena masih berusia dua hingga tiga tahun, Michael awalnya belajar piano secara informal di rumah dengan bantuan sang kakak yang mengarahkannya menggunakan sepuluh jari.
Meski prosesnya tidak selalu mudah dan Michael memiliki cara belajar sendiri, keluarga kemudian mencari tempat belajar yang sesuai dengan kebutuhannya melalui Sekolah Musik Kawai.
Saat itu, metode untuk anak tunanetra seperti Michael belum tersedia secara khusus, sehingga keluarga dan guru bersama-sama mencari pendekatan yang tepat. Upaya tersebut membuahkan hasil, bahkan belum genap satu tahun belajar piano, Michael sudah mengikuti kompetisi dan berhasil meraih juara pertama.
Rekaman Menjadi “Jembatan” Belajar di Rumah
Peran Ibu Lia dalam mendampingi perjalanan musik Michael dilakukan dengan cara sederhana. Karena tidak bisa bermain piano atau membaca partitur, ia merekam setiap sesi pelajaran menggunakan ponsel agar Michael dapat mendengarkan kembali arahan gurunya saat di rumah maupun dalam perjalanan.
“Kalau dia latihan piano, saya bawain handphone. Handphone-nya itu saya cuma rekam suaranya saja,” jelas Ibu Lia.
Rekaman tersebut kemudian digunakan untuk membantu Michael mengulang bagian yang perlu diperbaiki
“Coba dengar dulu, coba kamu ulang.” jelasnya.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Michael hingga mampu meraih prestasi dan mendapat kesempatan mengikuti program musik di Paris.
